Selasa, 25 November 2014

#Selamat Hari Guru

19.43.00 0 Comments


“Pada hari ini, SELAMAT HARI GURU untuk semua-semua yang telah menjadi guru dalam hidupku. Keselamatan dan salam ajaib akan kudoakan di sepanjang nadi. Terima Kasihku untuk semua guruku”.

Kata mereka, semua orang yang telah menjadikan dirimu menjadi lebih baik adalah GURU.
Baiklah, akan kuselesaikan perkara hari ini:

Pertama dan yang utama. Sebagai penyandang status manusia yang banyak gak tahunya tapi sok banyak tahunya, sebagai manusia yang masih terlalu haus dengan ilmu dan pengetahuan dari seantero jagad raya, sebagai manusia yang terlalu angkuh jika berani mengatakan aku sudah tahu, padahal apa yang kuketahui tak lebih dari setitik sel yang yang ada dalam metabolisme kuman. Ah, Ya Ilahi Rabbi, ampunkan kami yang belum sanggup sebaik-baiknnya menjadi “manusia yang mau berpikir”. Berpikir dengan ilmu dan pengetahuan hanya dari-Mu Ya Rabb. Berilah kami petunuk, kesempatan, sehat ataupun sakit untuk lebih memperbanyak usaha belajar, memperbaiki cara bersyukur, dan mengaplikasikan cara berikhlas untuk ilmu yang telah berkenan dalam otak dan jiwa kami. Amiin. (nb: masih mecari referensi buku Abu Sangkan yang berjudul Berguru Kepada Allah)

Kedua dan yang juga utama, kepada murabbi terkece sepanjang abad, tuntunan suluruh umat manusia yang dengan shalawat kami muliakan beliau. Allahummashollia’ala syidinna muhammad. Rasulullah salllalahualaihiwassallam ajarkan kami sedikit dari keseluruhan lurusnya ilmu yang ada padamu ya Rasulullah. Amiin

Ketiga dan yang juga menjadi utama, untuk Ayah Askolan Harahap dan Emak Nurlan Hasibuan yang “menjadikanku” seperti adanya sekarang. Sedari dan kusadari, 22 tahun yang lalu, sejak keberadaanku di rahim ternyaman Emak, sejak jantungku mulai dihadiri udara dunia, sejak kumengenal suara Ayah dan Emak, sejak kubisa merasakan sesuatu, sejak kubisa berbicara, sejak kubisa berjalan, sejak kuberusaha untuk pandai berpikir, sejak kuberusaha untuk pandai memilih sendiri, sejak kumenjadi sok kepandaian menentukan pilihanku.

Ketika aku pernah bertanya, “Pak, Mak.. apa yang harus aku lakukan untuk kalian? untuk Bapak dan Mamak senang dan tenang”. Emak hanya bilang, “lah, Nakku, doakan aja Mamak dan Bapakmu ini setiap-tiap hari. “Doa seperti apa yang Mamak mau, Mak?”. “Doakan sajala, Nak, yang baik dari yang terbaik. Supaya Adek jadi anak solehah, bermanfaat dan berpribadi yang baik, supaya nanti kita tenang dan bahagia sama-sama di dunia juga akhirat”.

Tumpahh rasanya ingatanku, bahkan saat aku meminta bocoran tentang doa-doannya selama ini, Mamak terlebih dulu memikirkan anak-anaknnya. Aku? Kupikir dulu begitu berat amanah itu, bahkan sampai sekarang aku sering ketakutan tidak mampu mewujudkan harapannya. Kemudain aku pernah juga bertannya, “Mak, Adek udah bisa jadi guru, Ndak ya?... Untuk pertanyaan ini, kutak bisa membagikan jawabannya. Emakku tak lagi bersanggup menyampaikannya kepadaku. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberiakan kesempatan agar aku bisa menjawab pertanyaan itu. Amiin

Selanjutrnya, wahai para guruku, sejak aku di taman kanak-kanak Taqriful Khair 1996-1998, Sekolah Dasar Negeri N0. 023904 tahun 1998-2004, SMP Negeri 1 Binjai tahun 2004-2007, SMA Negeri 2 Binjai tahun 2007-2010 dan UMSU tahun 2010-2014. Sebagaimana yang harus kusadari dan ucapkan, aku berbangga menjadi seorang siswa, meskipun ada saat-saat dimana aku tidak terlalu menyukai beberapa masa yang telah terlewatkan. Hingga kini, semua masih menjadi pelajaran terbaik yang berhasil kumliki. Hanya senafas rinci-rinci pengalaman yang kumiliki. Terimakasih untuk para guruku.

Untuk Umi Tahura Alauthiyah sebagai guru TK-ku yang mengajarkan banyak nyanyian dan cara-cara membaca iqro dan abjad, serta cara-cara berhitung dengan jemari, kekerahan lidi dan kelereng.

Semasa SD-ku:
Untuk Ibu Siti Raun yang telah menjadi guru yang lebih bersemangat mengajarkanku baca dan tulis, telah juga berusaha mengenalkanku dengan lebih banyak teman-teman yang memakai seragam putih-merah.
Untuk Almarhum Ibu Rosliana, mungkin saja beliau agak “kesal” mengajarkanku berhitung dan menghapal daftar kali-kali 1 sampai 6. Semoga Allah beri hidayah dan keselamatan akhirat untuk Ibu Ros.
Untuk Ibu Pardede,mungkin, jika teringatkan dulu dengan aksi “demoku” yang tidak suka diajarkan pelajaran IPA dengan caranya. Maaf bu, jika aku terlalu tengil saat menjadi bocah. Semasa SD kupikir IPA adalah pelajaraan yang menjadi rahmat ilahi bagiku, karena aku lumayam menyukai sains. Tapi entahlah memang suratan, aku begitu kecewa dengan yang kudapatkan, sehingga menjadikanku malas untuk mendalaminya. Ah, meruginya. Terlebih lagi aku sangat berusaha mengabaikan metematika yang pernah membuatku trauma dengan ponten 0 (NOL sebesar buku tulisku) yang pertama kali kudapatkan di kelas 4, penilaiaan dari Ibu Ismawati.
Untuk Ibu Ratna yang sampai saat ini masih begitu saja, konsistensi kaca matanya, kecantikannya, keramahaannya masih sama. Yang paling buatku heran, jika bertemu Ibu Ratna tidak pernah lupa dengan kepadatan pipiku, kegembulan badanku, dan keonaran-keonaran yang pernah kulakukan. Selalu saja, katanya semasa SD aku adalah ketua genk.

Semasa sekolah di SMP 1 Binjai
Untuk Pak PN a.k.a Permono, wali kelas VII1  , guru MP PKN yang punya ciri khas aneh yang buat kami senang untuk tertawa. Si Bapak memang lucu.
Unuk Ibu YS a.k.a Yulisfita, guru MP bahasa Indonesia yang juga menjadi walikelasku di VIII2   . Si Ibu dengan gaya dan karekternnya yang juga suka melucu dan bercerita.
Untuk Pak GW a.k.a Gunawan, guru MP Matematika yang lumayan bersahabat dan asyik untuk menghilangkan traumaku dengan matematika.
Untuk almarhum Ibu Sumarti, guru MP PKN yang juga menjadi walikelasku di IX1. Semoga amal ibadah Ibu diberikan tempat yang mulia di sisi Allah. Amiin
Untuk Ibu NB (kulupa nama aslinya), guru MP Kesenian yang pernah mengajarkan jahit-menjahit, dan menyulam
Dan untuk Ibu HN (kulupa nama aslinya) Si Ibu MP Biologi dengan khasnnya, hm... pokoknya agak aneh. Menjadikan pandangan sinisku terhadap sains jadi menyebalkan.


Semasa sekolah di SMA 2 Binjai
Untuk Ibu NH, guru MP Bahasa Indonesia yang dua tahun berturut-turut menjadi mentor berbahasa. Untuk Ibu Susi dan Ibu Waljinah yang juga MP Bahasa Indonesia yang oke-kece. Sejak saat itulah, karena mereka juga aku berdekat dengan “berbahasa dan bersastra”.
Untuk Pak Edy Herianto, guru MP Matematika, yang menjadi maskot walikelas XII IPA 1 yang paling gokil, asyik dan friendly kepada seluruh siswa.
Untuk Pak JS (lupa nama aslinya), guru MP Matematika yang entah apa yang harus kukatan tentang bapak. Namun, yang paling kuingat bahwa aku pernah mendapatkan nilai 80 saat ulangan matematika sub tema Peluang. Istimewa ya? Tentu saja, entah peluang seperti apa yang terjadi di hari rabu yang terik dan mencekam saat itu, aku menjadi satu-satunya manusia beruntung di kelas XI1 yang berhasil mendapat nilai aman yaitu 80, sehingga terbebas dari derita remedial mengerjakan 1000 soal dalam waktu tiga hari. Subhanalllah.

Semasa menjadi Mahasiswa di UMSU
Untuk Bapak Isman, M. Hum. sebagai dosen pembimbing skripsiku, kebanggaanku, idolaku selama kuliah yang kujalani di UMSU.
Untuk Bapak Anwar Sembiring, M.Pd. dosen MP PPI. Sosok Bapak sebagai pembakar jiwa-jiwa perubahan motivasiku, yang menulariku banyak pemikiran-pemikiran tentang para revolusioner keislaman. Great Top untuk Bapak.
Untuk Ibu Syamsuyurnita, M.Pd. sebagai dosen kehangatan yang banyak menyentuh hatiku.
Untuk Ibu Winarti Ransih, M.Pd. sebagai dosen inspiratif kesastraan yang pastinya banyak dicintai mahasiswannya. Andai si Ibu tahu, aku adalah mahasiswa yang merangkap sebagai pengagum rahasianya.

Ah.. andai juga aku lebih berbakat menyatakan maksudku, “terima kasihku” juga “hormat ajaibku” untuk semuanya, pada mereka yang juga telah tertulis dalam ingatanku, tentunya tidak hanya dalam guratan kata guru berkapasitas formal di jenjang pendidikan yang kulaksanakan. Masih, masih banyak lagi dan masih terlalu banyak yang ingin kusebutkan sebagai  guruku tapi karena pembatasan kesempatan yang terjadi, mungkin lebih baik kutuliskan kelak di kesempatan yang berbeda. Semoga menjadi kenangan terindah untukku kepada kalian yang telah mengajarkanku ilmu dan pengetahuan, menjadikanku seorang yang memilik pendidikan.

#25112014
Selamat Hari Guru  :)

AKU, FLP dan MEREKA #2

15.58.00 0 Comments


Sepertinya saya harus bertanggung jawab dengan kisah AKU dan FLPers 6 yang ingin menyejarah

Asyiiiikkkk... sesambil senyum senyum cantik, gegap gempita saya sambut ketok palu terbitnya flayer “Open Recuitment Anggota Baru FLP SUMUT”. Dengan apresiasi bersemangat dan dengan bekal modem pinjaman, langsung deh.. download formulir, ngisi biodata, dan kirim langsung.
Pengiriman berkas beres. Nunggu-nunggu info lanjutan di tanggal 5 Oktober. Ternyata, Eh, pengumuman kelulusan berkas masih aman.

Selanjutnya proses seleksi tertulis dan wawancara dijadwalkan 11 dan 12 Oktober. Saat itu kan (deuuuh-,-) ... sebenarnya, saya dijadwalkan di hari Sabtu, tanggal 11 Oktober, sesi ke dua, di pukul 13.30. Malang benar saya (sedikit perjuangan yang dilebihkan). Lagi-lagi, saat itu, saya juga dalam posisi dilematun dengan jadwal, karena kesalahan teknis pada manajemen waktu yang pada hari itu amburadul. Hasilnya, saya tidak berkesempat hadir untuk sesi ujian dan wawancara. Menggalau-lah saya semalaman di malam minggu kelabu. Tidur tak nyenyak tapi makan makin lahap. Halaah.
Entah gimana mulanya, kok dapat ide untuk merayu panitia, dan lagi-lagi, Kak Putri berkontribusi “mengasyikkan” perasaan saya. Kesempatan kedua saya peroleh. Sesi ujian tertulis dan wawancara di hari minggu pukul 13.30. “Okelah, awak jadikan!” Namun yang terjadiiiiii  #nyanyi.... Lagi-dan-lagi, alasan klise emang, berpacu dengan waktu, bertaruh emosi pada supir angkot yang ..... aduuuuuh! (Sebenarnnya naik damri sih, tapi ya itu, tetap aja...... aduuuuuuh! hujan-hujan romantis jadi background perasaan saya. Sebenarnya memang hujan sih, deras banget malah.  Baju basah, sepatu basah, basah-basah-basah.

Sesampai di rumah cahaya udah pukul 14.00 aja , regitrasi ulang, dizinkan ujian dengan tidak ada tambahan waktu (sadar diri: siapa suruh telat, nikmatilah resikonya). Jadilah hasil centrang perenang dengan jawaban sekadar-kadarnnya. Jadi galau, merasa pesimis untuk lulus, diam-diam ajalah awak. Tapi, saat itu, sempat juga sih kenalan sama beberapa peserta perempuan yang juga lagi nunggu panggilan wawancara (esehh... diwawancara awak ahh). Agak lupa deh, siapa-siapa namannya, wajahnnya juga, dan sepertinya tidak saya jumpai lagi sewaktu inagurasi. Pada saat sesi wawancara. Kebagian giliran wawancara dengan bang Roby (Ahaiiide..Binje :D). Cerita propesionalitas dong, "Kenapa berminat daftar FLP, tahu FLP dari mana, mau ngapain di FLP, kegiatan, kesiapan berorganisasi dan kesiapan mengikuti inagurasi”. Saya sih yes, YES dan Oke". Pertanyaannya bg Roby saya “oke”kan. Setelah beres, bergegas dan pulang.

Jreng-jreeeeeeng. Kini tibalah... saatnnya kita kan inagurasiiiiii, huuuu   #nyanyi....
Sebelum inagurasi, kita-kita (yang katannya udah lulus seleksi berkas) harus hadir di rumah cahaya, tanggal 21 Oktober. Ngapai? Kurang ngeh juga sih, mungkin seperti temu rama-ramah gitu, pengumuman dan bahas proses akomodasi inagurasi, harus selesaikan tagihan. Oke, ternyata, dari 35 peserta yang dinyatakan lulus seleksi pertama. Hanya ada 29 peserta yang berkesempat mengikuti inagurasi (kok, saya kepikiran ya, sama 6 orang yang tidak berhadir inagurasinnya). Terlebih karena ada dua diantara 35 orang yang lulus, yang sudah saya kenal namannya. Ty Jihan: yang jadi rekan seangkatan di kampus dan Dek Azzam: yang saya kenal sewaktu belajar di Tadarus Sastra FLP.

31 Oktober-2 November 2014
Remainder:
Salam Pena, untuk seluruh peserta inagurasi anggota baru FLP angkatan 6 diharapkan berkumpul pukul 15.00 tepat, di Mesjid Jami' Sei Deli akan berangkat bersama menuju Pondok Cemara dan untuk yang berhalangan berhadir tepat waktu, silahkan berkumpul pukul 18.00 tepat di Rumah Cahaya.
deliver: 11.30. SMS dari Kak Putri FLP
*senyum semangat nak berangkat, packing udah selesai, perlengkaan pribadi selama 3 hari 2 malam, oke!.


Saat perjalanan, dalam Damri rute Binjai-Medan emang paling asyik curi kesempatan untuk tidur-tiduran. Modal meluk tas yang lumayan guede (untuk bantal kepala dan biar aman juga) sekitar 2-3 jam mungkin saya asyik dibuai damri yang melaju lambat di jalan raya. Masih dengan background suasana hujan yang menyisakan rerintik gerimis dan genangan air, saya diingatkan bang sopir karena sudah hampir sampai tujuan yang saya pesankan: kampus IBBI. Ketika saya lihat jam di handphone. HAHH?? jam 16.15?? belum sholat, dan belum sampe juga? astaga..... *nekuk kening*. Dalam pikiran, "pasti deh Awak di tinggal kloter 1". Ampuuun.... ehhh Ternyataaa.

Setibanya saya di Mesjid Jami' Sei Deli. Keberadaan angkot berwarna merah yang agak terlihat reot entah kenapa bisa menyegarkan mata, angkot itu sudah memasang sikap kuda-kuda untuk melaju dan berangkat. "Ehh..... sini siniiii.. aduhh lame ya." sambut Kak Putri. "Ayo segera Naik, langsung berangkat. Oke!”. Saya, dalam hati gak tenang karena belum solat, dan waktu sudah menunjuk pukul 16.40. "Ohhhmaii segeralah sampai"

--Di Pondok Cemara yang menjadi setting inagurasi angkatan 6 Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.
Pembagian kamar untuk tiap peserta diumumkan di halaman Pondok Cemara, tentunya sebelum kami sembrono masuk untuk pilih lokasi sendiri. hehe. Nama saya, Sri Rahmadani terbilangkan dalam kelompok kamar 6 bersama .... saya tidak ingat sesiapa saja nama teman sekamar saya, hanya ada Kak Intan Mulina yang ternyata sudah masuk terlebih dulu dikamar 6. "Haii Kak, siapa kak namannya.. ya kenalan dong, masih mayu-mayu". Saya ingat kakak ini, sewaktu duduk bersebelahan dengan saya saat pembekalan di rumah cahaya. "eh, sekamar lagi?" Jodoh ini.
Tak lama setelah Magrib menjelang, kami kedatangan teman sekamar lagi. dia memperkenalkan diri sebagai Ulfa Hasibuan. "haah! ini dia ternyata orangnya. Saya sudah femiliar dengan namanya sejak ulang tahunnya di 2013". Ini ternyata Si Ulfa yang jadi teman dekatnnya teman saya. Hm, mulai sekarang bisa jadi temannya teman saya akan menjadi teman saya. Saya bilang lagi, "ihh, jodoh banget nih, Fa?" sambil ketawa minta persetujuan dengan gerakan "Give me Five."
Pembukaan Inagurasi oleh panitai di mulai ba'da Isya, kemudian lanjut materi sesi pertama: ke FLP-an, Visi dan Misi oleh bang Fadli Pratama. Cerita ini cerita itu, tanya dan jawab, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 kemudian panitia memberi suplay ingatan angin segar dengan menjanjikan agenda tukar kado akan segera dilakukan. Moment tukar kado yang di bungkus kertas koran dengan nominal harga minimal Rp 5000 pun terjadi begitu saja, hahah. Semua kado dikumpulkan dan diberi label nomor sesuai dengan kepemilikan sobekan kertas berisi nomor yang didapatkan setiap peserta. Saya dapat nomor 4 yang ternyata isinya gunting kuku. wah! :D

Sabtu pagi, di 1 Nopember, tepatnya pukul 4.00 wib pintu kami di ketuk dari luar. Ada Apahh? *gak pakai ekspresi lebay. Melaksanakan kebutuhan ruhani, kita-kita solat tahajud, lanjut tilawah sampai azan subuh berkumandang.
Yang menjadi memorabel pun terjadi, kami senam semangat. Iye, SENAM. Di pandu salah satu peserta  yang cukup meyakinkan dalam persenam-senaman. Seperti pemandu senam profesional.  
Pat Maa Namm Juhh, eaaakk... balas kiri Tu Wa Ga Pattt ....

Lanjutnya kami dapat jatah (*ceilehh jatah?) sarapan lontong kacang, enak bings. Isunya eksekusi kenikmatan lontong tersebut diketuain kak Kyo sebagai master chefnya.
Setelah sarapan kami diberikan waktu bebas sampai pukul 9.00 untuk lanjut sesi materi kedua: Ghuzul Fikr atau Perang Pemikiran oleh bang Anugrah Roby yang berlangsung mantap dengan pendalaman materi yang asyik dengan sesi tukar pendapat dan games sampan-sampanan, sampai waktu Dzuhur menjelang sesi kedua is over.
Sesi materi ketiga: Public Speaking oleh bang Sukma yang agak membukakan gagasan baru di kepala saya. Selepas Ashar kami kembali ke forum, sesuai instruksi pada instruktur bahwa kami harus menggelarkan pertunjukkan seni dan yang terjadiiii . . . kegalauan. Apalah artinya galau jika tak menjadi inspirasi dalam kreatifitas #tsahh..
Binggung ini bingung itu, masing-masing peserta sudah berada dalam kelompok yang sudah ditentukan panitia. Saya? Siiiie.. lagi dan lagi bersama dengan Ulfa bertakdir di kelompok 4 yang beranggotakan Safira, Sanah dan Pak Ketua. Tentang apa yang terjadi dalam proses kreatif memang menjadi mengasyikkan, alias kacau. Belum lagi penampilan saat pertunjukkan, kekeacauaan kami minimalisir dengan semangat yang saya katakan sama Ulfa, “udahlah Fa, hajar aja."

Waktu memang terasa berlalu begitu cepat ketika kita menikmati tiap-tiap detik yang terjadi. Pada malam minggu di Pondok Cemara #tsahh.. kami lanjut sesi materi keempat: Penulisan Non-Fiksi oleh Kak Nurul Fauziah. Berakhir di pukul 22.00 malam dengan bekal tugas yang harus dikumpul esok harinnya, yaitu meresensi buku. Oh iya, masih teringat oleh saya, nikmatnya puding berwarna ungu yang disuguhkan panitia. “Amboiii rasannya, suka Awak”.
Setelah kami kembali ke kamar, Saya, kak Intan Ulfa, Zizah dan selvi #eh Selli (dek Sel maafkan ingatanku yang tak cemerlang menyebutkan namamu dengan benar dekkk Selvi). Semalam suntuk kami bercecerita, saling bertukar penglaman, saling bertanya dan menjawab pertanyaan (yang berhasil mendekatkan rasa sayang dan peduli saya, ehm) dan tentunya sambil sekilas “berpura-pura” membaca buku untuk mengerjakan resensi yang tak kunjung mengilhami pikiran dalam bentuk tulisan.

Mungkin kami tertidur selama 2 jam saja, karena seingat saya, malam itu menjadi malam yang terlalu asyik untuk tidur lelap. Sedangkan jam 4 kami memang harus bangun untuk terus beraktifitas menuntaskan inagurasi. Ampuuuun... rasa ngantuknya di pagi itu, bertepat pula hujan-hujan mengundang. Gwt.
Show must go on, Setelah hujan mereda. Eaaaak.. senam lagi kita? Goyangkan kepala.. angkat tangan kanan.. Pat Maa Namm Juhh, eaaakk... balas kiri.. Tu Wa Ga Pattt ..... Dilanjutkan gemes seru-seruan yang berhasil mengusir kantuk tapi mendatangkan bencana kelaparan. Alhamdulillah, rejeki anak solehah, sarapan mie balab yang mancaaaap. Waktu sekitaran 30 menit untuk kembali ke forum menjadi tantangan, kami yang berdomisili di kamar 6 yang terdiri dari 5 orang harus membagi waktu seminimalis kewajaran di kamar mandi, plus dhuha juga. Aiih!!

Sesi Materi ke lima: Penulisan Fiksi oleh kak Fitri AB dan bang Cipta Arief. Berlangsung skimming tanpa proses tanya jawab, bersebab kendala waktu yang molor. Hm.. sesi dilanjut menuju pertunjukan seni. Sudahlah, semua yang ditampilkan sangat keren-keren untuk diingat, terlebih kelompok 4 yang nampil ngasal, untungnya pak Ketua bisa menggalokasikan strategi dengan apik, haha.
Siang menuju penutupan inagurasi saat itu, seperti langit tahu apa yang akan tejadi, ecek-eceknya perpisahan sementara. Lantunan nasyid dari Brother yang berjudul Untukmu Teman menjadi backsong yang mengharukan. Dipadu dengan lagu Doa Perpisahan, juga dari Brother.
Sambil bergandengan tangan, terdengar lirih suara-suara emas dari setiap peserta dan panitia, mendendangkan refrainnya:

Kini Dengarkanlah.. dendangan lagu tanda ingatanku.. kepadamu teman.. 
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu.. 
Kenangan bersamamu takkan kulupa.. walau badai datang melanda walau bercerai jasad dan nyawa.......

Seakan langit pun telah mengerti, ikut terharu dan terhenyuh dengan lantunan emas kami. Langit pun menangis. Menitihkan bulir-bulir air yang terlalu bersemangat bertumpah-tumpahan.

Huaaaaa . . .

untuk semangat menulis.. untuk semangat berorganisasi.. untuk semangat keislaman.. 
FLP...  BERBAKTI, BERKARTA DAN BERARTI...!!!

*The End- sambil dengar lagu Untukmu Teman by Brother*

Selasa, 18 November 2014

As Felling : Ada Apa Dengan Cinta? (2014)

11.43.00 0 Comments
Adalah cinta yang mengubah jalannya waktu
Karena cinta, waktu terbagi dua
Denganmu dan rindu, untuk membalik masa

                                                                                      — Rangga

Tiing tung..
Pastinya banyak banget yang akrab dengan bunyi ringtone begitu.

Sebenarnya udah gatal banget ketak-ketik keybord ngomongin filim pendek yang lagi ng-hitssss banget. Berhubung laptop yang seminggu lalu lagi merajuk, sekarang ada kesempatan.
Apalagi coba?? Semoga akike gak jadi yang tercupu untuk menyampaikan:

"Jadi, beda satu purnama di New York dan di Jakarta?"

(andai Rangga ngebalas dengan) Pastinya dongggg, Cint...... Hahahha, semoga imajinasiku yang berantakan tadi tidak terjadi. Seorang  Rangga? HAH? NO!! Pecahkan saja gelasnya! HAHHA
Secara, aplikasi “Line” sekarang emang harusnnya lagi booming beneran. Apalagi coba? Yang teranyer sejak 6 November 2014, akun resmi Line Indonesia ngunggah filim pendek berdurasi 10 menit 24 detik yang berlatarkan kisah 12 tahun yang lalu, huaaaaa .... ADA APA DENGAN CINTA? (kini) 2014
Emang deh! Bisa banget, ini filim pendek emang buat nyess kebangetan. Biar dikata filim pendek, tapi kualitasnnya gak main-main. Kisahnya apalagi? Aduuuu... gak kuat deh, rasannya pengen terbang ke bulan (bukan karena  orang-orang di bumi gak asyik, tapi mau traveling aja #ngawur :D)
ADA APA DENGAN CINTA? masih buat jatuh cinteee. Masih tentang Rangga dan Cinta yang klop banget. Teman-temannya Cinta: Alya, Carmen, Maura, dan Milly. Ehmm, si Mamet juga yang untugnnya punya mobil (tapi, memet gak diajak di series 2014, haha ) dan pak Wardiman: yang masih perlu ng-eksis lagi gak ya?
Deuh, gak kuat banget deh, beneran selama 10 menit 24 detik gak kuat untuk tidak tersenyum. Gak kuat untuk tidak terlalu norak bermanyun-manyun. Gak kuat untuk tidak stalking info, download, dan untuk hal ini tetap gak kuat untuk tidak jadi yang terkepo. Ngampun. Jadi, ngerasa muda banget (emang masih muda, sih) as feeling ever green. sukaaaaaaaa deh. Ahh.. tapi gitu aja pun udahla, cukup dan gak boleh berlebihan lagi
*ngeyel__tapi, ini  qoutenya apik deh :D

Detik tidak pernah melangkah mundur,
Tapi kertas putih itu selalu ada.

Waktu tidak pernah berjalan mundur,
Dan hari tidak pernah terulang.
Tetapi, pagi selalu menawarkan cerita yang baru.

Untuk semua pertanyaan, yang belum sempat terjawab.


                                                                                                — Rangga & Cinta

 

Jumat, 14 November 2014

[Fiktif] Bersama Ceria #1

11.09.00 0 Comments
"Ce, apakah kau tidak ingin bertanya kepadaku?"
--ampun deh, kenapa pulak aku mau tanya-tanya samamu?
"Ce, bertanya sajalah. Segera!
--eee, yaudah..
--mau ditanya apa, tentang apa dan masalah apa maksudnnya?
"Tanya apa sajalah! *agak geram kali awak*
--Apa yang kau lakukan sekarang?
"gak ada, gak jelas"
--kegiatanmu apa sekarang?
"gak jelas juga, ada sih, tapi jangan sampai kuceritakan ironi pengangguran lepas deh.
--kasian ya..
"jangan berkasihan!
--OKE sayang!
"terus apa?
--apanya?
--oh iya, jadi kemana kita?
"pergi yok"
--yok, kemana?"
"pergiiiiiiii kemana.... langit mau bersahabat dengan kita, angin mau berhembus dengan ramah, matahari mau bersinar terang dan rembulan juga mau bersyahdu cahayannya, dan kedamaian menjadi milik kita, pemandangan lepas jadi milik kita juga.
--camping kita?
--ke Sibayak aja, yaa!
--boleh kan?! siapkan tas mu. Sabtu besok kita pergi!
 "Makasih Ce! masih kau ajalah manusia terasyik di dunia ini.
 --emang! :D


Keterangan:
Ceria adalah sahabatku yang setia. Dia bisa kusebut sebagai cerminan diriku atau juga jodohku.
Semoga dia selalu sehat dan bersemangat dengan mimpi-mimpinya.

lain waktu, akan kuceritakan lebih banyak tentangnya.

Rabu, 12 November 2014

Tentang Ayah

10.48.00 0 Comments

Bismillahirahmanirrahim... 
Robbanaghfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiroo.
 
Untuk Ayah yang “mungkin” sedang bersantai di kampung atau mungkin berlelah pikir tentang apapun yang Ayah mau.

Hari ini, bertepat dengan rindu-rinduku yang kian menebal. Bertambahlah beban hatiku tentang mereka yang mengatakan hari ini adalah “Hari Ayah Nasional”.
Aku membayangkan, akan begitu banyak anak-anak yang “merayakan” dengan ucapan-ucapan “Selamat Hari Ayah”, “Ayah adalah segalannya”. Terimaksih Ayah...” “Ayahku yang paling hebat, loveyou Ayah.

Ahh, rasannya . . . . ya hebat!

Terkadang, seorang Ayah lebih mengerti tentang anaknnya. Bisa tahu 'apa yang sepertinya' ingin dikatakan anaknnya.

Mungkin, Bapak tahulah tentang apa yang mau Nak Sri bilangkan, gak usah jadikan ini beban, Nak. Bapak tahu, meskipun, tetap saja, apa yang Nak Sri rasakan butuh aplikasi verbal, untuk jaminan, Bapak tahu itu, Nak, dan jangan tanyakan lagi sayangnya Mamak dan Bapak untukmu, Nak Sri. Bapak bangga semuannya.”... Ayahku yang mengatakannnya, lewat sms, ketika ceremonial wisudaku, seperti hadiah, yang entah kenapa nikmat sekali menemani senduku. Saat itu, sms menjadi pilihan, karena kami masih terpisah tempat duduk.
Dan waktu yang lain juga, bertukar suara menjadi pilihan kami.

“Assalamualaikum Bapak lagi apa?”
--Lagi di rumah, Nak Sri, baca koran.
“Udah Makan Bapak, apa gulainya? Ada sayurnya, gak?
--Udahlah, ikan laut, gak ada, malas kami makannnya.
“Aiih, enaknya..
--Ada masalah di rumah, Nak?
--Sehat Anak, Kan?
--Lagi dimana Sri?
--Jangan naik kereta yaa
--Jangan baca bukumu itu sambil tidur
--Makan nasimu pelan-pelan, 3 kali teraturlah
“.......”
Ayah selalu mengatakan hal yang sama, berulang kali, sampai aku menyerah dan menuruti “maunya”

Masih tentang Ayah.
Aku sangat rindu berdekat (lagi) dengan Ayah. Saat di rumah, mendengar cerewetnya yang kusukai -tidak hanya via suara, yang bahkan sekarang sering kubatasi-
Harusnya, sangat terasa jelas rinduku untuk Ayah. Meskipun tiap-tiap waktu masih mencoba menahan diri untuk tidak banyak melapor padanya, sederhannnya, aku ingin dia tenang dan masih percaya aku baik-baik saja. Yang tidak sederhana, Ayah itu "cerewet" melebihi Mamak. Jadi, karena memang sangat jelas untuk banyak urusan Ayah lebih mendominasi banyak perintah, untuk memerikan hasil padanya, aku masih kesulitan belajar mengatakan "Adek bisa, Pak" karena Ayah terus meragu. Ku pikir selalu begitu sikap seorang Ayah.

Hal yang berbeda akan terjadi, setiap waktu, jika Ayah ada di rumah. Aku akan sangat terampil berusaha bertameng alasan ampuh untuk diantarkannya untuk pergi ke suatu tempat (meski, sekarang aku lebih suka mengendarai kereta sendiri karena sudah bisa dan berani mengendarainnya).  Alasanku masih sama, sederhananya, aku rindu padanya. yang tidak sederhana, aku “masih” ingin bersandar dan memeluk punggungnnya ketika mengendarai keretanya, seperti dulu kecilku.
Hampir 6 tahun lamanya, bahkan sejak aku berusia 3 atau 4 tahun, ketika aku sekedar tahu ternyata “dibonceng Ayah naik kereta itu paling mengasyikkan”.

Selama 6 tahun bersekolah dasar, aku tidak pernah diantar ke sekolah, ya karena memang sekolahku dekat daerah rumah. Berkereta dengannya hanya bisa di sore hari, sepulang aku mengaji di madrasah- jika dia tidak sibuk dan aku juga tidak sibuk menonton tv. Namun, ketika umurku 13 tahun, saat menginjakkan kaki ke SMP, berlanjut SMA, aku selalu menjadi prioritasnya di pagi hari, ya, rutinitasnya pagi hari selalu dibebani dengan agenda mengantarku ke sekolah. Dihiasi desakan agar aku menyegerakan langkah yang dirasanya lambat. Ayah tak segan harus berteriak memanggil dari luar rumah agar aku melangkah dan bergerak lebih cepat. Ayah tidak suka aku terlambat sekolah (meski yang terjadi, aku terlalu sering untuk terlambat)

Dia lah Ayahku. Pria pemikir yang paling kucintai.  Pria perenung yang kukagumi. Pria yang cerewet, diplomatis, kaku, dan memiliki cara tertawa yang aneh dengan kuantitas minimalis. Ayah satu dari pembentuk pribadiku, yang selalu ingin bergerak cepat, seperti terburu-buru. Alasannya dari Ayah karena tak ingin aktifitasnya terhambat dan melambat karena terikat oleh orang lain. Sedangkan alasanku, dia mengajarkan begitu. 

Masih tentang Ayah. Ayah adalah guru berdiplomasi terbaik yang kumiliki. Ayah punya banyak koleksi buku berpidato dan khutbah -dulu ayah jagoan bahkan sampai sekarang.

Sampai aku menjadi Mahasiswa, dia masih setia menjadi “pengantarku” kemanapun aku akan pergi, meski tak jarang dia mulai membatasi, dan sedikit membentak karena keberatan dengan kebergantunganku padanya. Aku yakin itulah hati seorang ayah yang sebenarnnya. Ayah hanya “berusaha” berlaku tegas dan sedikit “keras”.
Entah mengapa, karena kebiasaan dan pemahamanku, aku selalu menganggap itu sebagai rasa kasih sayangnya. Aku selalu merasa semua ucapan-ucapan yang keras itu tak ubahnya sebagai bumbu penyedap yang menambah rasa mantap masakan, meski terkadang dapat menjadi boomerang bagi tubuh dan dapat menimbulkan efeksamping. Tentunya “penyedap makanan” itu adalah analogi sikap ayah bagi anaknya. Ayah sering memadukan jenis-jenis penyedap yang sangat bervariasi. Itulah yang paling ku suka dari Ayah. Aku sangat suka peyedap dari Ayah.
Ayah memang yang paling bisa.
Ayah Pahlawan.


#12112014
Selamat Hari Ayah :)