Senin, 23 Juni 2014

Skripsi Blues Syndrom

Bissmillah..

Semoga gak ada yang komplen dengan judul yang saya tulis di atas.
Saya menamakan situasi yang saya alami sekarang sesuai dengan judul yang saya tulis diatas.
Skripsi Blues Syndrom
Alasan saya menyebutkan situasi ini sebagai syndrom karena berdasarkan pada kenyataan. Entahlah istilah syndrom ini muncul dalam pikiran saya. Benar juga, tentang pepatah yang mengatakan “kamu adalah apa yang kamu baca”.
Penyabab dari ketidakjelasan ini diawali saat telinga saya terusik pembicaraan ibu-ibu yang bersebelahan dengan saya di dalam angkot *menuju kampus. Seorang yang memakai seragam putih, dugaan saya dia sebagai konsultan dadakan seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya dan seorang lagi yang memakai daster coklat dengan perut yang membusung pastinya karena hamil. Entah juga, saya memprasangkakan si Bumil itulah yang jadi sentral masalahnya. Mereka membicarakan tentang persalinan bayi mulai biaya sampai sikap suami mereka. Subhanallah, banget itu ibu-ibu ngegosipin suaminya masing-masing. Malangnya, saya ikut menjadi pendengar buah bibir yang mereka nikmati.

Sampai ketika mereka juga menyebut-nyebut tentang “Postpartum Depression” atau baby blues syndrom, hingga membantu kening saya terkerut (huah!) Sepertinya saya femiliar dengan istilah itu. Tak lain juga, saya ingat-ingat karena pernah nonton berita tentang syndrom tersebut.

"Baby Blues Syndrom merupakan sebutan tentang perasaan sedih dan gundah yang dialami ibu muda yang baru saja melahirkan bayinya" (hasil riset googling menghasikan fakta-fakta yang mencenangkan tentang syndrom ini, amaziiing). Aneh memang. Perasaan senang menanti kelahiran buah hati ternyata pada sebagian ibu bisa berubah menjadi depresi bahkan setelah mengalami proses kelahiran bayinya. Namun sekarang, saya tidak berniat membahas dan memperpanjang persoalan baby blues syndrom yang di alami ibu-ibu itu. Semoga para ibu muda itu mampu menghilangkan depresinya dengan berdoa dan bertawakal kepada Allah untuk meminta perlindungan terbaik.

Sesampai saya di kampus, dengan setengah tenaga menuju perpustakaan, pengaruh syndrom ibu-ibu tadi belum hilang dari pikiran saya. Bahkan sampai juga berpikir bahwa saya juga sedang meraskan suatu syndrom yang aneh. Tapi sudah pasti bukan syndrom baby blues. Saya menyebutnya “Skripsi Blues Syndrom”. Seperti saya merasakan beberapa gejala-gejala yang juga biasa terjadi saat baby blues syndom melanda. Diantara tanda-tandanya itu memiliki kesamaan dengan yang saya rasakan adalah : Menangis tanpa sebab, mudah kesal, lelah, gemas, tidak sabaran, tidak percaya diri, sensitifitas yang meningkat dan sulit beristirahat a.k.a sulit tidur.

Saya agak kaget sesaat memikirkan hal ini, bahkan ketika menuliskan perihal ini. Dengan kareakteristik yang saya baca sampai membelalakkan mata untuk meyakinkan keterangan tanda-tanda syndrom tersebut. Bagaimana tidak, kesemua tanda-tanda itu juga sedang saya rasakan.
Saya menganalisis ulang tentang apa yang saya rasakan, teringat dengan skripsi yang entah apa kabarnya. Cek punya cek saya membuka file di laptop, astaga, saya belum merevisi apa-apa. Bahkan saya hanya menulis satu lembar dan itupun berupa cover proposal dan hanya bertuliskan judul terbaru setelah hasil diskusi bersama pembimbing skripsi tentang manfaat dan tujuan penelitaian saya. Perasaanya saya pun menjadi tambah sensitif, situasinya bertambah dramatis ketika seseorang disebelah saya yang terlihat benar-benar asyik bermesra dengan laptopnya, melentikkan jarinya di keyboard sembari terus-menerus melihat referensi skripsi lain di sampingnya, bersemangat sekali. Sedangkan saya, asyik "sok" bersibuk diri dengan dengan itu-ini yang masih antah-berantah. ekspresi *nelan ludah plus bibir manyun pun show-in*

Saya teringat Ayah dan rindu Mamak.
Prilaku saya yang sepertinya mengabaikan skripsi merupakan momok pikiran. Saya kehilangan semangat seperti ketika mendapat inspirasi tentang permasalahan literasi, semangat berburu tanda tangan kajur untuk acc, serta rasa senang setelah saya resmi mendapatkan barcode judul. Kemudian pengalaman curi-curi waktu sang dosen idola untuk berharap bimbingan beliau, tak lain demi kelangsungan hidup skripsi saya yang malang. Hingga mungkin beliau iba memberikan pencerahannya setelah saya seperti memata-matainya di sekitaran ruang dosen -sunggguh mengasyikkan. Bahkan ketika bertemu dengan beliau, serasa jantung berdetak tidak lagi normal. Saya menggagumi Papi Dosen kebanggaan saya.

Berdasarkan segala kegalauaan ini, entah mengapa, saya terpikir ingin mengubah istilah baby blues syndrom yang biasa dialami ibu-ibu pasca melahirkan dengan mengubah istilah tersebut menjadi skripsi blues syndrom. Sehingga, dari istilah itu hendaklah saya simpulkan bahwa skripsi blues syndrom adalah perasaan resah, sedih dan binggung yang dialami mahasiswa tingkat akhir setelah mendapat acc judul untuk “memulai” melanjutkan dan memecahkan permasalahan yang ada untuk dilaporkan menjadi proposal, dimajukan untuk melaksanakan seminar proposal. Kemudian menuntaskan bab 3, 4 dan 5 agar menghasilkan skripsi yang nyata untuk mendapatkan reward  sensasi meja hijau, pengumuman hasil gelar dan momen graduation. Tentu saja, proses yang tidak bisa di bilang sekedar mudah tetapi juga tidak sesulit yang terbayangkan.
Ribet ya? Hah, ringkasnya masa SBS ini adalah masa yang menyebalkan dan hanya akan di mengerti oleh mereka yang sedang merasakan dan menikmati pilunya proses semester akhir di perguruan tinggi.