Kamis, 11 Februari 2016

Kisah Pertanyaan yang Perlu Dipertanyakan

17.40.00 2 Comments
Aku ingin saja menuliskan tentang sisa ingatan dengan jenis temanku yang 'begini'.

Kami adalah teman.

meilih kata teman, setelah melewati gejolak dan penggolongan yang tepat disebut apalagi, selain cuku jadi teman saja.

Sebut saja dia D; Diya
saat itu kami sangat dekat dan sering selalu berdekatan. Pernah selalu bersamaku, sering bertukar kabar dan berbagi cerita bersama.

Dia temanku semasa masih berseragamkan putih abu-abu.

Kuasa bumi yang berotasi dan waktu bergulir sebagaimana kodratnya. Bersamaan dengan kodrat kelipatan waktu terbesar datanglah kesempatan waktu yang mempertemukan kami lagi, mungkin sekedar sempat menyapa atau merajut makna selubung dari sekedar kebetulan.

Dia pecahkan tanya kedua yang menyebalkan, karena sebelumnya aku keceplosan memecah pertanyaan pertama. Betapa, aku yang terukur seperti tersemangat dengan temu itu.

Ah iyaa... setalah hampir bertahun-tahun sejak kami tidak pernah berkomunikasi lagi.
Sampai sekali itu aku dengar lagi dia ganas merajamku,

"Kenapa tanya-tanya? formalitasmu aja, kan?,"
memaksa aku yang harus mendelik dan mengatur nafas dengan senormalnya.

"Cuma untuk memulai obrolan terus peratanyaan gak penting lainya, kan? Mau kabarku atau kegiatanku? atau bertanya sesuatu yang lebih -(basi).?"
Dan aku masih dalam kondisi diserang. Telak ditempat.

deg!

"Sejak kapan aku menjadi bagian yang 'formal' untuknya?" Heh!.

Sekali itu sanggup kujawab, "kadang gak salah kok untuk berlaku formal diawal, apalah salahnya kalau aku juga ragu mana yang jadi tidak formal, apalagi sejak selama ini." Dia ber-ohh selayak kemalasan yang nyata.

"Memangnya apa yang kau ingin kutanyakan untukmu?".
Serangan balik yang sanggup kuluncurkan, juga ekspresi yang kuyakin sudah cukup mantap untuk menaikkan level sombong yang kupunya.

"Karena kadang-kadang aku cuma punya tata tertib seperti tadi, selain mencoba bersikap ramah dan layak untuk kau dapatkan." Cecarku dengan jawaban yang tak mau kalah mempertanyakan tanyanya.

"Lagipula aku berusaha untuk menghargaimu lebih untuk waktu yang sekarang." 

kemudian dia diam. Tidak ada jawaban. Tidak ada pembelaan. Dan begitu juga aku.

"Seingatku kau bukan orang yang ramah? dan tak pernah ber-aiueo saat menyapa basa basi?"
(oh begitu?)



Sampai dia memberi vonis dengan mengingatkan siapa aku yang pernah dikenalnya.
(Seperti apa aku dikepalanya, sih!)
Padahal adanya selalu begitu. Aku masih begini. dan Diya yang begitu, seperti menjadikan kami masih seperti 2 kutub medan magnet yang tolak-menolak tapi selalu didekat-dekatkan.

(PS: semoga, dia gak baca tulisan ini. Semoga kamu gak geer juga)
-edited. Pasca pertemuan.