Selasa, 22 September 2015

Untuk: Hari Badak Internasional

23.40.00 0 Comments


Untuk Badak Jawa: Dicari Rumah Baru Layak Huni untuk Berkembang Biak
0leh : Sri Ramadani Harahap

Sebagian orang memilih untuk menyelesaikan masalah. Sebagian lainnya, memilih untuk melupakan masalah.  Sebagian orang memilih untuk peduli dan sebagian lagi memilih untuk tidak mau peduli. Alkisah, sebagian orang yang memilih untuk menyelesaikan masalah itu. Konon memiliki kepedulian nyata bagi lingkungan sekitarnya. Mari kita ketahui dengan jelas, tentang kondisi alam, flora dan fauna yang kian memintal ironi di masa sekarang.
Tak hayal bahwa perhatian dari manusia mutlak diperlukan untuk keberlangsunangan harmoni kehidupan. Anggaplah kita sebagai manusia yang paling layak menggunakan akal dan pikiran untuk menjaga kelestarian alam ini.
Gema kampanye perlindungan satwa khas Indonesia kian menggelora, bertepatan tanggal 22 September yang digagas sebagai Hari Badak Internasional, semakin mengingatkan kepedulian manusia untuk ingat-mengingatkan prihal ancaman kepunahan spesies badak di Indonesia.
Saat ini hanya tersisa lima jenis badak di dunia, yaitu dua jenis badak Afrika, satu jenis badak India dan dua jenis badak Indonesia. Untuk badak Indonesia, badak Jawa maupun badak Sumatera, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sudah ditetapkan dalam kategori spesies paling terancam kepunahannya.
Populasi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) tersisa tidak lebih dari 200 ekor yang tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan Waykambas (Lampung). Sedangkan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya berkisar 60 ekor yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten).
Badak Jawa merupakan salah satu mamalia besar terlangka di dunia. Sebab populasi lain dari sub-spesies badak Jawa ini yang pernah berbeda di Vietnam telah dinyatakan punah. Status badak Jawa sudah dilindungi sejak 1931 di Indonesia, yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon di barat daya pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.
Saat ini Taman Nasional Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi badak Jawa di Indonesia. Jumlah populasi badak Jawa yang hanya tersentral pada habitat tunggal ini kian hari mengintai permasalahan baru. Pasalnya, selain ancaman perburuan cula badak, faktor bencana alam juga mengancam kondisi badak Jawa dikarenakan hutan habitatnya, Taman Nasional Ujung Kulon berdekatan dengan Gunung Krakatau. Belum lagi, ancaman lain tentang meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia yang menjadikan badak Jawa ibarat telur di ujung culanya sendiri, tak punya pilihan harapan hidup lain yang nyaman.
Berdasarkan informasi WWF Indonesia sudah dilakukan studi kelayakan terhadap ukuran wilayah jelajah dan kondisi habitat, Ujung Kulon diperkirakan memiliki daya dukung bagi 50 individu badak. Hanya saja, populasi yang stagnan menandakan batas daya dukung sudah dicapai. Karena alasan tersebut serta upaya preventif menghindarkan populasi badak dari ancaman penyakit dan bencana alam, para ahli sudah merekomendasikan adanya habitat kedua bagi Badak Jawa.
Inilah gong perhatian untuk kita; relokasi habitat baru layak huni untuk sang badak.
Fokus agenda leader World Wildlife Fund (WWF Indonesia) dan pengasuh Yayasan Badak Indonesia (YABI) beserta para peneliti sudah berupaya untuk mencarikan rumah baru untuk sang badak jawa. Beberapa alternatif yang direncanakan sedang menyusun kenyamanan yang layak huni bagi kelangsungan hidup badak Jawa. Kondisi alam yang sesuai dengan kondisi badak Jawa diharapkan akan memberikan ruang baru yang lebih nyaman sebagai tempat perkembangbiakan badak Jawa.
Para leader peneliti dari WWF Indonesia dan YABI menjelaskan diantara beberapa lokasi yang sudah menjadi pertimbangan kelayakan ini, diantaranya adalah; Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh. Kandidat Suaka Margasatwa Cikepuh yang memiliki luasnya 8.127 hektare dengan keadaan topografi sebagian besar berbukit-bukit pada ketinggian 0 sampai 250 meter di atas permukaan laut diduga menjadi alternatif yang diperkirakan cocok menjadi habitat badak badak Jawa ini. Meskipun penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk memastikan badak Jawa bisa hidup dan berkembang biak dengan nyaman di habitat yang baru ini.
Mengingat badak Jawa termasuk hewan yang sulit berkembang biak. Pemilihan rumah baru untuk badak Jawa harus melalui berbagai langkah perencanaan dan penelitian yang matang. Sebagai upaya menempatkan habitat kedua yang layak huni untuk badak Jawa, hal yang menjadi prioritas utama harus mengingat dan memahami tentang kesesuaian pola hidup badak dengan lokasi barunya kelak. Untuk pertimbangan rumah baru badak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu
1.     Sebagai hewan herbivora, rumah baru sang badak nantinya sangat mutlak membutuhkan stok makanan yang mendukung.  Jenis tumbuh-tumbuhan, daun dan ranting yang mampui dicapai oleh badak menjadi faktor urgen untuk memenuhi kebutuhan biologis sang badak.
2.    Badak Jawa lebih senang melakukan penjelajahan terhadap habitatnya disertai perilaku berkubang. Badak Jawa dalam sehari sampai dua atau tiga kali berada di kubangan lumpur yang harusnya banyak ditumbuhi oleh vegetasi tumbuhan yang rapat. Maka kondisi rumah baru sang badak kelak, harus memberikan ruang setidaknya kubangan terbaik bagi kesenangan sang badak Jawa. Prihal kubangan untuk badak juga harus menjadi perencanaan untuk relokasi rumah sang badak. Untuk memberikan kenyaman, kubangan ini sedapatnya berasal dari aliran sungai kecil atau genangan air yang terbentuk pada musim hujan. Pada saat berkubang badak Jawa biasanya menggosok-gosokan tubuhnya pada batang-batang pohon di sepanjang jalur dari kubangan ke wilayah jelajah selanjutnya.
3.   Badak Jawa terkenal sangat “pemalu”, sensitif, dan lebih memilih hidup soliter. Tak hayal; kondisi hutan yang kondusif, aman dan bebas dari ranjau atau aktifitas manusia secara terang-terangan menjadi prioritas utama. Habitat yang kondusif dan pro-badak itu akan memberikan kenyaman untuk badak, sehingga tidak memicu adanya stres dan dapat membantu proses perkembangbiakan badak dengan lancar.
Sebagai peyertaan akhir, andaikan, marilah kita berandai-andai sejenak- sandainya dunia hanya butuh sebagain orang yang memilih peduli itu untuk menyelesaikan masalah-masalah. Pastikan, Kawan, kemalangan tidak ada dalam posisi kita sebagai manusia yang berpikir. Terlebih bagi posisi sang badak yang sudah terancam punah. Sesungguhnya alam akan memihak kita yang peduli dengan kelestariannya. New hope, new home and new life in wild for Rhino.

  Cerita ini diikutsertakan dalam lomba menulis Cerita Anda oleh Viva.Com 
dengan tema "Bagaimanakah Rumah yang Nyaman Untuk Badak?”

Selasa, 01 September 2015

Entahlah!

01.53.00 0 Comments
Ketika hati mangabai banyak hal
pada alasan berkata tak sejalan maunya
bersama waktu kronis
tarian nafsu di selasar imaji
lantas hilang tak tentu pemilik, rasa sakit
rugi dan kecewa
menghias sabar yang tak sadar
Entah karena apa lagi
selalu adanya seperti demikian.

Rabu, 03 Juni 2015

Tiga Jenis Teman

23.47.00 1 Comments

Bahagia atau sedih itu universal, milik semua pihak. Itu emosi.
Namun, 'katanya' selalu ada pengecualian terhadap emosi relatif. 
seperti adanya kesedihan.

begitukah adanya?
Jika katamu, "Sangat wajar membagi kebahagiaan pada semua orang!", namun kenapa tidak wajar untuk kesedihan? sekalipun itu bersifat relatif.

Wahai kepadamu yang menahan alur yang sedang kau hentikan. Mari sini kuberi tahu tiga jenis teman yang pernah 'kudengar' dari mereka yang pernah menyatakannya
1. Seperti makanan, tanpa mereka (temanmu) kamu tidak bisa hidup,
2. Seperti obat, yang kamu butuhkan sesekali, dengan 'aturan dosis' yang tepat.
3. Seperti penyakit, yang sama sekali tidak kita inginkan, namun 'terkadang' bermanfaat sebagai 'pengingat'

Jadi, bagaimana menurutmu?
Semoga 'kamu' bersedia menjadi  teman yang selalu baik ya, selalu sehat dan menyehatkan, seperti adanya makanan. Semoga saja. Amiin.


#3

Sabtu, 04 April 2015

“Kita gak Keren kalau gak Selfie...”.

22.58.00 5 Comments
Apa artinya aku tanpa kamu?
Apa artinya kita berteman tanpa semua kenangan?
Apa artinya kenangan tanpa moment terindah atau terlucu yang terjadi?
Apa artinya moment terindah tanpa selfie-selfie kita yang berserakan di media sosial?
Apa artinya kita tanpa selfie?
APA?
Iya... ada banget yang sanggup bilang: “Kita gak Keren kalau gak Selfie...”
Sesungguhnya aku gak punya bakat untuk berselfie (apalah awak ini). Tapi, ya namanya demi-demi, bisalah agak di nego-nego. Haha.
Atas nama eksistensi manusia yang harusnya dapat bertahan dengan tantangan zaman terkini, mungkin kita akan setuju ya tiap kali scroll up maupun down di time-line efbeh, twitter, path dan -yang paling mumpuni- Instagram untuk selalu menemukan pose-pose selfie teroke yang paling in.
Serba sebar selfie ini laksana dilema ‘makan buah simalakama’ :P. Atraksi narsisme yang menggiurkan setiap orang ini tentunya sudah terasa menjadi ‘fitrah’ pribadi tentang pendokumentasian kenangan. Dan demi Give Away dari Emak Gaeol dan Smartfen, secara dadakan aku niat banget mengobok-obok kenangan yang pernah ada tentang usaha berselfie ria inehh :P
 
Dalam suasana takjub dan syukur dengan background alam diluaran sana yang menyajikan pristiwa gerhana bulan langka yang mungkin bisa terjadi 140 tahun lagi. Berhasillah kutemukan beberapa file yang... mengingatkanku tentang moment berfoto seperti, ekspresi muka cantik atau dipaksa jadi cantik. (Kalau gak cantik? Opsi delete selalu tersedia di sisi kiri ya kan? :D); ekspresi muka jelek atau dipaksa dijelek-jeleki biar jelek beneran (haha); ekspresi bibir bebek, ayam atau burung yang punya semboyan ‘bibir mayun itu oke’ :P; ekspresi ‘peace’ yang mekodekan dua jari seperti victori; atau sepenggal-penggal bagian tubuh yang mengisyaratkan sesuatu... seperti -haha apa kali ya- ya semacam selfie kaki dengan sepatu baru, tangan yang baru dihiasi cincin nikah :P, mata yang lagi pakai model eyeliner *apalah gak ngerti*, rambut yang baru selesai disanggul atau bahkan eksperiemen hijab style yang aneh-aneh. (Ohmaegattt... memang  ramainya usaha berselfie ria ini patut serta mencitrakan kita sebagai orang yang peduli dengan kenangan atau kekurangan stok kenangan yang...  #eh gitulah)
Cerita selfieku ini, bukan sekedar selfie biasa, namaun selfie terencana dengan persiapan yang lumayan matang. Ini pun bukan sekedar selfie, tapi wefie... bersama konkawan sekelas semasa masih jadi mahasiswa. (Deuuh rinduu dengan mereka jadinya Y.Y).
Wefie bersama konkawan seperjuangan selama delapan semester itu memang memorable. Semasa di bangku panas universitas tentunya bertabur kisah yang masih kuingat dengan baik. Ada yang bilang “Di kampus kita akan menjumpai teman yang berstatus teman kuliah. Udah”. Dan, entah kenapa sekarang aku terpikir itu ada benarnya juga. Karena terhitung Oktober 2014, sejak topi dan toga wisuda menjadi alasan kelulusan sarjana kami terlalui, aku bahkan gak pernah lagi jumpa sepuas-puasnya mata memandang konkawan yang dulunya menjadi salah satu alasan untuk rajin ngampus. Juga ada yang bilang “Semangat yang satu akan memanggil semangat yang lain”. Jadi kalau lihat temen yang semangat kuliah tentunya kita juga bisa jadi semangat. Deuah (Y.Y) itu juga dibilang salah satu temen sekelas yang sama sekali aku gak nyangka bisa diucapkannya.
Perkara semangat itu, berhubungan dengan aksi dimana terjadinya kesepakatan konkawanku untuk membuat jejak chemistry -yang bisa tercipta- selama delapan semester. Jadilah kesepakatan itu berupa pembuatan vidio –semacam- dokumenter yang akan berisikan biodata kami dan testimoni kepada sesama teman. Awal rencanya sihh testimoninya ya terserah aja gitu, mau tentang teman yang disayang, teman yang tak disayang, teman yang ingin selalu disayang alias sayang yang ingin diungkapkan atau teman yang dengan senaja tak ingin disayang. Aduuuh! Terasa banget deh. Hahaha.
Program chemistry itupun disahkan dengan persyaratan pertama yaitu dresscode yang ditentukan -baju batik- dengan alasan agar tercipta nuansa formal-unyu-unyu yang melegenda :D dan agar tidak ada adu gontok pendapat yang setuju atau enggak setuju dengan persyaratan Pinpro yang dikomandoi temanku yang bernama Ocy. Tapi, ya namanya juga  mahasiswa; mengkritisi baju seragam juga perlu adu pendapat sampai menemukan jalan tengahnya. Haha. Punya sih baju batik -bahkan ada tiga model dengan style yang berbeda- tapi, apesnya aku kepentok dalam persyaratan kedua tentang keseragaman warna kerudung. Harus hitam. Dan itu adalah warna kerudung yang enggak banget untukku. Arrhg! Mikir-mikir alasan, dan emang enggak punya kerudung warna hitam. Jadilah aku merencanakan aksi menolak patuh :D terhadap Pinpro (Maaf Woii). Deuuh, memang jadi ngerasa egois banget ya guek :( tapi apalah daya tak punya kerudung hitam bahkan yang niat minjami gitu juga gak ada. *stok cuma satu* ~yaoma yaomaa
Hari itu, kelas kami serasa adem banget, wanginya juga rasanya beda –seperti ada yang pakai parfum baru gitu- :P. Bertepatan pada jadwal terakhir ‘kelas kreatifitas sastra’ bersama bu Winarti -dosen kesayangan kami semuanya- (suasanaya jadi haru, karena ada prosesi... ahh :(. Walaupun dengan “tekanan” jadwal untuk memburu dosen pembimping skripsi, tak ada salahnya kami sepakat meluangkan waktu memenuhi saran Pinpro untuk menghasilkan kenangan di kelas terakhir. Setelah kelas keratifitas selesai, mulailah ada yang curi-curi start bersiap dengan peralatan tempur tambahan seperti tuch up bedak, eyeliner dan maskara dan antek-anteknya.
Dan tiba saatnya eksekusi... pose-pose andalan pun terjaring begitu luwes dengan komando sang Pinpro yang masih “kuat” pengaruhnya. Bahkan relator kelas atau Ketua Kelas yang menjadi maskot kebanggan sebagai satu-satunya spesies laki-laki bernama Khairunsyah, panggilannya Harun --Ya, ada yang bilang sihh... dia laksana harta "harun" untuk urusan bercie-ciee di kelas kami dan sering diidentikkan sebagai ‘Eyang Harun’ *eciee :P-- rasa-rasanya tak sanggup berkomentar lebih banyak dan sekuat sang Pinpro. (aku ingat; katanya dia malas “melawan” jatah cerewetnya para perempuan untuk urusan berfoto) heheuu :D
Bertempat di ruang kelas E.503 sebagai lapaknya all rangers Fkip B.indo D selama semester delapan yang melelahkan-. Menggunakan Smartfren andromax tab 8 punya Cici, maka terciptalah... our wefie
*this is it best favorite...*
Sebenarnya... kondisi itu adalah foto berstatus 'dibuang sayang' -karena tuntutan timer otomatis- yang nanggung sehingga hasilnya jadi enggak fokus akibat kesadaran petugas smartplan yang pegang kendali smartfrennya berteriak, "masih ada jatah satu jepret lagi woiiiii", lantas dengan sigapnya kami membentuk pose terbaik yang bisa dilakukan bahkan si Harun yang udah bubar barisan langusng nyari posisi termanis di sudut kiri (dia hampir terpeleset 'demi jatah satu jepret lagi' itu loh) Haha.   Itu... petugas yang berteriak tak lain adalah Dwi Af yang paling puas dengan olahan pipi tembem dan bibir manyunnya. Backgroundnya apalagi kalau bukan kami-kami yang begitu... (bisa dibilang awkward, gak ya?). Haha. Moment wefie itu sampai sekarang menyisakan tawa canggung dan kegelian dalam ingatanku. Dari perdebatan untuk menghapus fotonya karena ada yang gak sorr dia gak kecantol di kamera; ada yang gak terima karena dia masih lihat cermin untuk memantskan ke'kece'annya; ada yang lagi gak sadar kamera dan nyaris 'terpelongok'; ada yang lagi ngupil disudut tersembunyi (#eh itu siapa ya :p). Tapi, syukurnya, aku masih sadar kamera dengan sumringah gak kalah kece dengan kode ‘peace’. *Itu... aku yang berkerudung ungu ya* Haha.
And, at Last...  masih setia memanfaatkan Smartfren andromax tab 8 dengan kondisi kesekian yang melelahkan karena menyatukan kekuatan dari semua isi kepala. Terciptalah... this is it...

^^ foto keluarga 'Eyang Harun' ^^
-salam rindu untuk konkawan-
Note : Tulisan ini diikutsertakan untuk Give-Away lomba selfie story bersama Smartfren berhadiah Windows Phone di sini

Senin, 09 Maret 2015

[Resensi Novel] RENGGANIS: Altitude 3088 Karya Azzura Dayana

21.06.00 2 Comments


Mari, Kawan! Rasakan dan Nikmati Pentas Attitude 3088


“Kau tak pernah menaklukkan sebuah gunung. Kau berdiri dipuncaknya hanya sesaat, setelah kau turun, angin bertiup menghapus jejak-jejak kakimu. -Arlene Blum”

 Sini kuberitaukan padamu kawan, kisah tentang perjalanan menuju puncak penuh makna. Perjalanan yang mengajarkan tentang alam kita yang indah, permai dan misterius.
Ya kawan, kisah di jalur pendakian pegunungan Hyang ini menyimpan pesona tak kepalang main-main. Fantastis! Sungguh novel beraltitude 3088 yang menyenangkan plus kaya pengetahuan adanya.
Siapkan dirimu Kawan, dengan perasaan menggebu, antusias yang bergelora, jika perlu segera dengan keril atau daypackmu, kebutuhan pribadimu, makanan dan minuman untuk bekalmu. Bersama Altitude 3088 kita akan diajak mengikuti perjalanan delapan orang yang terbentuk menjadi tim pendakian.
 Hirarki kisah ini terbentuk berdasarkan hasil kolektif untuk memudahkan sharing-cost pendakian puncak Argopuro. Delapan orang itu menentukan Dewo si petualang sejati, bertubuh tinggi dengan berat badan ideal sebagai ketua Tim. Dewo yang berteman dengan Fathur, Nisa dan Dimas juga mengajak teman lainnya. Fathur si wartawan yang berpostur kurus tinggi, mengajak temannya dari Jakarta, yaitu Rafli si fotografer yang juga bertubuh atletis. Nisa si gadis periang sekaligus penakut, mengajak teman bernama Sonia, gadis asli Manado yang berkulit paling terang dan satu-satunya wanita yang tidak berkerudung. Sedangkan Dimas si pengusaha muda sekaligus novelis yang bijak, mengajak temannya yang bernama Acil dan Ajeng. Acil asli Solo, si pengusaha garmen yang bertubuh mungil dan didaulat sebagai guide pendakian. Serta Ajeng yang juga asli Solo, berprofesi sebagai biologist super sibuk yang merangkap sebagai koki dalam ekspedisi altitude 3088.
Siapa lagi, kalau bukan: Azzura Dayana, penulis asal Pelembang, yang kembali mengajak kita –para pembacanya- merasakan petualangan mendaki gunung. Tak tanggung-tanggung, setelah Altitude 3676 Takhta Mahameru yang bertaburan hikmah, kini giliran Altitude 3088 yang akan mengajak kita menjejaki Argopuro -pendakian panjang- selama kurang lebih lima hari menuju puncak Rengganis yang misterius.

Kedua alis Ajeng terangkat.
“Dan di gunung itu, katanya kita masih bisa melihat reruntuhan situs peninggalan sang puteri. Ada arca-arca dan bekas istananya. Walaupun memang tidak ada keterangan yang utuh tentang situs-situs itu.”
“Serius kamu, Dewo? Di gunung ada bekas istana?”
Dewo mengangguk, meyakinkan.
“Aku jadi penasaran ingin melihat sendiri jejak-jejak itu di sana. Walaupun agak sedikit mencekam, ya, ceritanya? Ngomong-ngomong, siapa nama sang puteri dari Majapahit itu, Wo?”
“Namanya Dewi Rengganis.”
“Nama yang indah,” Ajeng termenung sebentar. Ternyata menarik juga gunung yang akan mereka daki kali ini.” (Hal.13)

Kisah berdurasi 228 halaman ini merupakan potret perjalanan mereka yang dimulai dari setapak peradaban Baderan menuju lintasan penuh lika-liku. Kita akan diajak menjengguk Mata Air Pertama, Sabana Alun-Alun Kecil, Alun-Alun Besar, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, Sabana Lonceng, Titik Triagulasi menuju pucak Argopuro, puncak Rengganis dan puncak Arca, hingga kembali lagi menuju peradaban Bremi.
Secara keseluruhan, dalam novel ini juga menyajikan edukasi yang berbobot. Pendakian yang dilakukan memberikan taburan informasi yang bermanfaat bagi kita untuk melakukan persiapan dan pendakian. Sensasi dan gelora pengalaman yang disuguhkan serta-merta mengajak kita mengikuti petualangan real -senyata-nyatanya pendakian di rimba belantara. Setting pegunungan Argopuro dieksplorasi dengan detail. Meskipun kehadiran delapan karakter dengan porsinya masing-masing yang menarik kurang dieksplorasi untuk melunakkan dialog para tokoh yang terasa kaku dengan umur persahabatan mereka. But, all is Ok, Friends! Everything was simply perfect.
Mampukah mereka menaklukkan Rengganis? Apakah alasan Acil yang secara mendadak tidak ingin melanjutkan pendakian menuju puncak Argopuro? Apakah yang terjadi dengan Sonia yang justru bersikeras ingin menyusul Acil. Lantas apakah yang terjadi dengan salah seorang dari mereka yang meninggalkan tenda dan menghilang dengan dalih menyambut tabir jamuan sang Dewi Rengganis.

Maha Indah Dia yang hadirkan ini....
Sejuta edelweiss dan bentangan sayap merak
Belasan sabana hijau saling rangkai
Sungai-sungai murni yang mengalir sampai ke hati

Maha Misterius Dia yang jadikan ini....
Hutan berkilau embun dan danau berkabut
Puing-puing istana dan tempat tetirah
Matahari terbit di tanah tinggi
Malam-malam berlapis tanya
Memang ... ini bukan gunung biasa. (Hal.5)

Terimalah sajak manis untuk menyambutmu itu, kawan. Dan, Mari kita rasakan!
Nikmatilah segera kisah mereka, Kawan: karena di Altitude 3088, sekisah pentas dari Rengganis akan terjawab. 



Penulis Novel          : Azzura Dayana

Ilustrator                  : Naafi Nur Rahma

Penerbit                    : Indiva Media Kreasi

Cetakan                     : Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014

Jumlah halaman     : 232 halaman
ISBN                           : 978-602-1614-26-6 

*Resensi ini diikutkan lomba menulis resensi buku karya Penulis FLP dalam rangka Milad FLP ke-18.
Salam Berbakti, Berkarya, Berarti ^^.