Tampilkan postingan dengan label #lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #lomba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

ASUS ROG G752VS : Best Gift from Republic Of Gamers

9/29/2016 04:54:00 PM 0 Comments
Yuhuu.. Gamers? Are you Gamers?
Bosan dengan leptop lamanya yang suka-suka hank saat seru-seruan main game?
Kezel sama leptop lamanya yang nyebelin? Gak responsif? Gak peduli keasyikan kamu?
Nyari leptop gaming baru, Kak? Bang? Dek?
Sini.. Mari sini.. dengar info terbaiks kakak kali ini.
jreng.. jrengg 
Kenalin nih ASUS ROG G752VS
Para gemers harusnya sungguh-sungguh merasakan ketar-ketir dengan gebrakan dari Asus. Dan, sungguh-sungguh harus nyimak dan pantau hantaran kado terindah dari Republik Games ini. 
Kenapa? Karena YES!, Asus akhirnya resmi merilis notebook gaming andalan terbaru yang telah dilengkapi chips grafis terbaru yakni Nvidia GTX 1000 series. Perangkat gaming berukuran 17 inci ini adalah ASUS ROG G752VS.


Kalau masih nanya kenapa notebook Asus ini penting? Kalau masih nanya keunggulan notebook ini apa? 
Oke. Boleh lanjut baca entri ini sampai selesai.

ASUS ROG G752VS dengan Spesifikasi Lebih Dahsyat
Udah pada tahu kan ya? ASUS itu sudah cukup-cukup terkenal dengan jejeran notebook gaming Republic of Gamers (ROG) yang sangat tangguh. Bahkan untuk ASUS ROG G752VS ini sangat layak mendapatkan peningkatan spesifikasi yang super-duper keren.
Notebook gaming ini spesifikasinya tidak main-main. Dengan prosesor generasi ke-6 i7-6820HK dan RAM DDR4 sebesar 64GB ini tentunya masih dapat di overclock lagi kalau ingin memiliki performa lebih. Kartu grafis yang sudah menggunakan NVIDIA GTX 1070 8GB DDR5 ini menyamai seri sebelumnya yang sudah mampu menjalankan game berat keluaran terbaru dengan sangat lancar, kabar baiknya bahkan sudah siap untuk Virtual Reality (VR).

Soal penyimpanan? AMAN JAYA!
Pastinya tidak perlu takut kekurangan karena ROG G752VS ini mempunyai kapasitas penyimpanan HDD sebesar 1TB dan dua buah SSD sebesar 512GB yang kalau diitung-itung totalnya mencapai 2TB. Plus dengan menggunakan SSD, sistem yang dapat bejalan lebih cepat dalam berbagai hal termasuk transfer data. 
Suka nyimpan kenangan seabrek? Suka nyimpan koleksi drama korea segudang? Koleksi game yang bertumpuk-tumpuk? AMAN! Ini notebook juara punya untuk diandalkan!

Dan lagi, kemewahan spesifikasi ROG G752VS ini tidak berhenti di situ, layarnya menggunakan panel IPS berukuran 17,3 inci dengan resolusi UHD 3840 x 2160pixels yang tentu juga dilengkapi teknologi G-SYNC agar pengalaman bermain menjadi lebih lancar jaya tanpa adanya jetleg.
Urusan desain dari ASUS ROG G752VS ini cukup futuristik dengan desain bergaya Iron Man yang terlihat cakep maksimal. Otomatis tingkat cakep dan keren kita tetap terangkat. Pastinya kita semakin terlihat gaya ketika sedang menggunakan notebook ini, bahkan ketika mulai dinyalakan pun sudah terlihat menawan.

Soal Suhu Penggunaan? TENANG!
Ada LIQUID-COOLLING LAPTOPNYA.

Pasti ngerasa deh, suhu panas merupakan salah satu kekhawatiran yang sering datang menghampiri jiwa dan raga sebuah laptop dengan spesifikasi super tinggi.YES di notebook canggih ini,  pastinya ROG G752VS sudah dipasangkan sistem pendingin khusus dengan menggunakan teknologi dual copper dan tiga buah pipa pengalir hawa panas yang dibuang ke bagian belakang laptop.
CANGGIH bangetkan!

Bang, Kak. Dek tertarik?

Harga dari ASUS ROG G752VS cukup menawan kok, hanya Rp 59 jutaan. Kita juga sudah mendapatkan sistem operasi Windows 10, ROG Backpack, ROG Mouse, dan ROG Headset secara gratis.
MAHAL?
OH NO! Sesuai istilah kata: ada rupa ada harga. Kualitas OKE.. harga juga mengimbangi loo. Jadi kita pastinya tidak rugi mengeluarkan biaya segitu. Lebih-lebih lagi untuk gamer sejati. Ladang permainan kan ya?

Gak bakalan nyesal deh!

*Tulisan ini diikutkan untuk blog review ASUS ROG G752VS (on the spot) di Grand Swiss-Belhotel. 29 September 2016.

Selasa, 22 September 2015

Untuk: Hari Badak Internasional

9/22/2015 11:40:00 PM 0 Comments


Untuk Badak Jawa: Dicari Rumah Baru Layak Huni untuk Berkembang Biak
0leh : Sri Ramadani Harahap

Sebagian orang memilih untuk menyelesaikan masalah. Sebagian lainnya, memilih untuk melupakan masalah.  Sebagian orang memilih untuk peduli dan sebagian lagi memilih untuk tidak mau peduli. Alkisah, sebagian orang yang memilih untuk menyelesaikan masalah itu. Konon memiliki kepedulian nyata bagi lingkungan sekitarnya. Mari kita ketahui dengan jelas, tentang kondisi alam, flora dan fauna yang kian memintal ironi di masa sekarang.
Tak hayal bahwa perhatian dari manusia mutlak diperlukan untuk keberlangsunangan harmoni kehidupan. Anggaplah kita sebagai manusia yang paling layak menggunakan akal dan pikiran untuk menjaga kelestarian alam ini.
Gema kampanye perlindungan satwa khas Indonesia kian menggelora, bertepatan tanggal 22 September yang digagas sebagai Hari Badak Internasional, semakin mengingatkan kepedulian manusia untuk ingat-mengingatkan prihal ancaman kepunahan spesies badak di Indonesia.
Saat ini hanya tersisa lima jenis badak di dunia, yaitu dua jenis badak Afrika, satu jenis badak India dan dua jenis badak Indonesia. Untuk badak Indonesia, badak Jawa maupun badak Sumatera, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sudah ditetapkan dalam kategori spesies paling terancam kepunahannya.
Populasi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) tersisa tidak lebih dari 200 ekor yang tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan Waykambas (Lampung). Sedangkan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya berkisar 60 ekor yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten).
Badak Jawa merupakan salah satu mamalia besar terlangka di dunia. Sebab populasi lain dari sub-spesies badak Jawa ini yang pernah berbeda di Vietnam telah dinyatakan punah. Status badak Jawa sudah dilindungi sejak 1931 di Indonesia, yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon di barat daya pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.
Saat ini Taman Nasional Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi badak Jawa di Indonesia. Jumlah populasi badak Jawa yang hanya tersentral pada habitat tunggal ini kian hari mengintai permasalahan baru. Pasalnya, selain ancaman perburuan cula badak, faktor bencana alam juga mengancam kondisi badak Jawa dikarenakan hutan habitatnya, Taman Nasional Ujung Kulon berdekatan dengan Gunung Krakatau. Belum lagi, ancaman lain tentang meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia yang menjadikan badak Jawa ibarat telur di ujung culanya sendiri, tak punya pilihan harapan hidup lain yang nyaman.
Berdasarkan informasi WWF Indonesia sudah dilakukan studi kelayakan terhadap ukuran wilayah jelajah dan kondisi habitat, Ujung Kulon diperkirakan memiliki daya dukung bagi 50 individu badak. Hanya saja, populasi yang stagnan menandakan batas daya dukung sudah dicapai. Karena alasan tersebut serta upaya preventif menghindarkan populasi badak dari ancaman penyakit dan bencana alam, para ahli sudah merekomendasikan adanya habitat kedua bagi Badak Jawa.
Inilah gong perhatian untuk kita; relokasi habitat baru layak huni untuk sang badak.
Fokus agenda leader World Wildlife Fund (WWF Indonesia) dan pengasuh Yayasan Badak Indonesia (YABI) beserta para peneliti sudah berupaya untuk mencarikan rumah baru untuk sang badak jawa. Beberapa alternatif yang direncanakan sedang menyusun kenyamanan yang layak huni bagi kelangsungan hidup badak Jawa. Kondisi alam yang sesuai dengan kondisi badak Jawa diharapkan akan memberikan ruang baru yang lebih nyaman sebagai tempat perkembangbiakan badak Jawa.
Para leader peneliti dari WWF Indonesia dan YABI menjelaskan diantara beberapa lokasi yang sudah menjadi pertimbangan kelayakan ini, diantaranya adalah; Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh. Kandidat Suaka Margasatwa Cikepuh yang memiliki luasnya 8.127 hektare dengan keadaan topografi sebagian besar berbukit-bukit pada ketinggian 0 sampai 250 meter di atas permukaan laut diduga menjadi alternatif yang diperkirakan cocok menjadi habitat badak badak Jawa ini. Meskipun penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk memastikan badak Jawa bisa hidup dan berkembang biak dengan nyaman di habitat yang baru ini.
Mengingat badak Jawa termasuk hewan yang sulit berkembang biak. Pemilihan rumah baru untuk badak Jawa harus melalui berbagai langkah perencanaan dan penelitian yang matang. Sebagai upaya menempatkan habitat kedua yang layak huni untuk badak Jawa, hal yang menjadi prioritas utama harus mengingat dan memahami tentang kesesuaian pola hidup badak dengan lokasi barunya kelak. Untuk pertimbangan rumah baru badak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu
1.     Sebagai hewan herbivora, rumah baru sang badak nantinya sangat mutlak membutuhkan stok makanan yang mendukung.  Jenis tumbuh-tumbuhan, daun dan ranting yang mampui dicapai oleh badak menjadi faktor urgen untuk memenuhi kebutuhan biologis sang badak.
2.    Badak Jawa lebih senang melakukan penjelajahan terhadap habitatnya disertai perilaku berkubang. Badak Jawa dalam sehari sampai dua atau tiga kali berada di kubangan lumpur yang harusnya banyak ditumbuhi oleh vegetasi tumbuhan yang rapat. Maka kondisi rumah baru sang badak kelak, harus memberikan ruang setidaknya kubangan terbaik bagi kesenangan sang badak Jawa. Prihal kubangan untuk badak juga harus menjadi perencanaan untuk relokasi rumah sang badak. Untuk memberikan kenyaman, kubangan ini sedapatnya berasal dari aliran sungai kecil atau genangan air yang terbentuk pada musim hujan. Pada saat berkubang badak Jawa biasanya menggosok-gosokan tubuhnya pada batang-batang pohon di sepanjang jalur dari kubangan ke wilayah jelajah selanjutnya.
3.   Badak Jawa terkenal sangat “pemalu”, sensitif, dan lebih memilih hidup soliter. Tak hayal; kondisi hutan yang kondusif, aman dan bebas dari ranjau atau aktifitas manusia secara terang-terangan menjadi prioritas utama. Habitat yang kondusif dan pro-badak itu akan memberikan kenyaman untuk badak, sehingga tidak memicu adanya stres dan dapat membantu proses perkembangbiakan badak dengan lancar.
Sebagai peyertaan akhir, andaikan, marilah kita berandai-andai sejenak- sandainya dunia hanya butuh sebagain orang yang memilih peduli itu untuk menyelesaikan masalah-masalah. Pastikan, Kawan, kemalangan tidak ada dalam posisi kita sebagai manusia yang berpikir. Terlebih bagi posisi sang badak yang sudah terancam punah. Sesungguhnya alam akan memihak kita yang peduli dengan kelestariannya. New hope, new home and new life in wild for Rhino.

  Cerita ini diikutsertakan dalam lomba menulis Cerita Anda oleh Viva.Com 
dengan tema "Bagaimanakah Rumah yang Nyaman Untuk Badak?”

Sabtu, 04 April 2015

“Kita gak Keren kalau gak Selfie...”.

4/04/2015 10:58:00 PM 5 Comments
Apa artinya aku tanpa kamu?
Apa artinya kita berteman tanpa semua kenangan?
Apa artinya kenangan tanpa moment terindah atau terlucu yang terjadi?
Apa artinya moment terindah tanpa selfie-selfie kita yang berserakan di media sosial?
Apa artinya kita tanpa selfie?
APA?
Iya... ada banget yang sanggup bilang: “Kita gak Keren kalau gak Selfie...”
Sesungguhnya aku gak punya bakat untuk berselfie (apalah awak ini). Tapi, ya namanya demi-demi, bisalah agak di nego-nego. Haha.
Atas nama eksistensi manusia yang harusnya dapat bertahan dengan tantangan zaman terkini, mungkin kita akan setuju ya tiap kali scroll up maupun down di time-line efbeh, twitter, path dan -yang paling mumpuni- Instagram untuk selalu menemukan pose-pose selfie teroke yang paling in.
Serba sebar selfie ini laksana dilema ‘makan buah simalakama’ :P. Atraksi narsisme yang menggiurkan setiap orang ini tentunya sudah terasa menjadi ‘fitrah’ pribadi tentang pendokumentasian kenangan. Dan demi Give Away dari Emak Gaeol dan Smartfen, secara dadakan aku niat banget mengobok-obok kenangan yang pernah ada tentang usaha berselfie ria inehh :P
 
Dalam suasana takjub dan syukur dengan background alam diluaran sana yang menyajikan pristiwa gerhana bulan langka yang mungkin bisa terjadi 140 tahun lagi. Berhasillah kutemukan beberapa file yang... mengingatkanku tentang moment berfoto seperti, ekspresi muka cantik atau dipaksa jadi cantik. (Kalau gak cantik? Opsi delete selalu tersedia di sisi kiri ya kan? :D); ekspresi muka jelek atau dipaksa dijelek-jeleki biar jelek beneran (haha); ekspresi bibir bebek, ayam atau burung yang punya semboyan ‘bibir mayun itu oke’ :P; ekspresi ‘peace’ yang mekodekan dua jari seperti victori; atau sepenggal-penggal bagian tubuh yang mengisyaratkan sesuatu... seperti -haha apa kali ya- ya semacam selfie kaki dengan sepatu baru, tangan yang baru dihiasi cincin nikah :P, mata yang lagi pakai model eyeliner *apalah gak ngerti*, rambut yang baru selesai disanggul atau bahkan eksperiemen hijab style yang aneh-aneh. (Ohmaegattt... memang  ramainya usaha berselfie ria ini patut serta mencitrakan kita sebagai orang yang peduli dengan kenangan atau kekurangan stok kenangan yang...  #eh gitulah)
Cerita selfieku ini, bukan sekedar selfie biasa, namaun selfie terencana dengan persiapan yang lumayan matang. Ini pun bukan sekedar selfie, tapi wefie... bersama konkawan sekelas semasa masih jadi mahasiswa. (Deuuh rinduu dengan mereka jadinya Y.Y).
Wefie bersama konkawan seperjuangan selama delapan semester itu memang memorable. Semasa di bangku panas universitas tentunya bertabur kisah yang masih kuingat dengan baik. Ada yang bilang “Di kampus kita akan menjumpai teman yang berstatus teman kuliah. Udah”. Dan, entah kenapa sekarang aku terpikir itu ada benarnya juga. Karena terhitung Oktober 2014, sejak topi dan toga wisuda menjadi alasan kelulusan sarjana kami terlalui, aku bahkan gak pernah lagi jumpa sepuas-puasnya mata memandang konkawan yang dulunya menjadi salah satu alasan untuk rajin ngampus. Juga ada yang bilang “Semangat yang satu akan memanggil semangat yang lain”. Jadi kalau lihat temen yang semangat kuliah tentunya kita juga bisa jadi semangat. Deuah (Y.Y) itu juga dibilang salah satu temen sekelas yang sama sekali aku gak nyangka bisa diucapkannya.
Perkara semangat itu, berhubungan dengan aksi dimana terjadinya kesepakatan konkawanku untuk membuat jejak chemistry -yang bisa tercipta- selama delapan semester. Jadilah kesepakatan itu berupa pembuatan vidio –semacam- dokumenter yang akan berisikan biodata kami dan testimoni kepada sesama teman. Awal rencanya sihh testimoninya ya terserah aja gitu, mau tentang teman yang disayang, teman yang tak disayang, teman yang ingin selalu disayang alias sayang yang ingin diungkapkan atau teman yang dengan senaja tak ingin disayang. Aduuuh! Terasa banget deh. Hahaha.
Program chemistry itupun disahkan dengan persyaratan pertama yaitu dresscode yang ditentukan -baju batik- dengan alasan agar tercipta nuansa formal-unyu-unyu yang melegenda :D dan agar tidak ada adu gontok pendapat yang setuju atau enggak setuju dengan persyaratan Pinpro yang dikomandoi temanku yang bernama Ocy. Tapi, ya namanya juga  mahasiswa; mengkritisi baju seragam juga perlu adu pendapat sampai menemukan jalan tengahnya. Haha. Punya sih baju batik -bahkan ada tiga model dengan style yang berbeda- tapi, apesnya aku kepentok dalam persyaratan kedua tentang keseragaman warna kerudung. Harus hitam. Dan itu adalah warna kerudung yang enggak banget untukku. Arrhg! Mikir-mikir alasan, dan emang enggak punya kerudung warna hitam. Jadilah aku merencanakan aksi menolak patuh :D terhadap Pinpro (Maaf Woii). Deuuh, memang jadi ngerasa egois banget ya guek :( tapi apalah daya tak punya kerudung hitam bahkan yang niat minjami gitu juga gak ada. *stok cuma satu* ~yaoma yaomaa
Hari itu, kelas kami serasa adem banget, wanginya juga rasanya beda –seperti ada yang pakai parfum baru gitu- :P. Bertepatan pada jadwal terakhir ‘kelas kreatifitas sastra’ bersama bu Winarti -dosen kesayangan kami semuanya- (suasanaya jadi haru, karena ada prosesi... ahh :(. Walaupun dengan “tekanan” jadwal untuk memburu dosen pembimping skripsi, tak ada salahnya kami sepakat meluangkan waktu memenuhi saran Pinpro untuk menghasilkan kenangan di kelas terakhir. Setelah kelas keratifitas selesai, mulailah ada yang curi-curi start bersiap dengan peralatan tempur tambahan seperti tuch up bedak, eyeliner dan maskara dan antek-anteknya.
Dan tiba saatnya eksekusi... pose-pose andalan pun terjaring begitu luwes dengan komando sang Pinpro yang masih “kuat” pengaruhnya. Bahkan relator kelas atau Ketua Kelas yang menjadi maskot kebanggan sebagai satu-satunya spesies laki-laki bernama Khairunsyah, panggilannya Harun --Ya, ada yang bilang sihh... dia laksana harta "harun" untuk urusan bercie-ciee di kelas kami dan sering diidentikkan sebagai ‘Eyang Harun’ *eciee :P-- rasa-rasanya tak sanggup berkomentar lebih banyak dan sekuat sang Pinpro. (aku ingat; katanya dia malas “melawan” jatah cerewetnya para perempuan untuk urusan berfoto) heheuu :D
Bertempat di ruang kelas E.503 sebagai lapaknya all rangers Fkip B.indo D selama semester delapan yang melelahkan-. Menggunakan Smartfren andromax tab 8 punya Cici, maka terciptalah... our wefie
*this is it best favorite...*
Sebenarnya... kondisi itu adalah foto berstatus 'dibuang sayang' -karena tuntutan timer otomatis- yang nanggung sehingga hasilnya jadi enggak fokus akibat kesadaran petugas smartplan yang pegang kendali smartfrennya berteriak, "masih ada jatah satu jepret lagi woiiiii", lantas dengan sigapnya kami membentuk pose terbaik yang bisa dilakukan bahkan si Harun yang udah bubar barisan langusng nyari posisi termanis di sudut kiri (dia hampir terpeleset 'demi jatah satu jepret lagi' itu loh) Haha.   Itu... petugas yang berteriak tak lain adalah Dwi Af yang paling puas dengan olahan pipi tembem dan bibir manyunnya. Backgroundnya apalagi kalau bukan kami-kami yang begitu... (bisa dibilang awkward, gak ya?). Haha. Moment wefie itu sampai sekarang menyisakan tawa canggung dan kegelian dalam ingatanku. Dari perdebatan untuk menghapus fotonya karena ada yang gak sorr dia gak kecantol di kamera; ada yang gak terima karena dia masih lihat cermin untuk memantskan ke'kece'annya; ada yang lagi gak sadar kamera dan nyaris 'terpelongok'; ada yang lagi ngupil disudut tersembunyi (#eh itu siapa ya :p). Tapi, syukurnya, aku masih sadar kamera dengan sumringah gak kalah kece dengan kode ‘peace’. *Itu... aku yang berkerudung ungu ya* Haha.
And, at Last...  masih setia memanfaatkan Smartfren andromax tab 8 dengan kondisi kesekian yang melelahkan karena menyatukan kekuatan dari semua isi kepala. Terciptalah... this is it...

^^ foto keluarga 'Eyang Harun' ^^
-salam rindu untuk konkawan-
Note : Tulisan ini diikutsertakan untuk Give-Away lomba selfie story bersama Smartfren berhadiah Windows Phone di sini

Kamis, 26 Februari 2015

Supernova #5 : Tebar Pesona dalam Gelombang

2/26/2015 11:56:00 PM 0 Comments

Judul Novel           : Supernova: Gelombang
Penerbit                 : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit          : 2014
Cetakan                 : Ke-1
Tebal Buku            : 492 halaman
Pengarang             : Dee Lestari
ISBN                     : 978-602-291-057-2

Sinar matahari diblok oleh julangan tembok dan atap bangunan di gang sebelah, mewujudkan lembab dan remang di tengah siang yang terik. Namun, dari sisa cahaya yang ada, cukup jelas terlihat sebuah gambar yang dipulas cat orange di tembok kiriku. Simbol melingkar dengan cuatan ombak di pusat. Kali terakhir aku melihat simbol itu, aku tengah melayang di atas Asko.
Gambar itu bersisian dengan sebuah pintu kayu berwarna hijau tua kusam berhias plang besi yang sudah diukir karat selingkar cincin besi hitam terpaku di tengah pintu. Saat itu, semua keraguanku gugur. Kehadiranku sudah ditunggu. Aku menarik cincin itu dan mengetuk dua kali. (Hal. 387)
Tok-tok. Dalam kepingan 44 Supernova- lahirlah simbol melingkar dengan cuatan ombak di pusat: Gelombang.
Dewi “Dee” Lestari kembali menyajikan petualangan mencari  “makna” Supernova. Dee melahirkan sosok Thomas Alfa Edhison yang diakrabi sebagai Ichon. Bermula dari upacara gondang, suatu peristiwa magis berhasil merubah Ichon, si anak biasa dari keluarga Sagala yang tinggal di desa Sianjur Mula-Mula.
Secara mendadak Ichon laris dihantui makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi. Bahkan dalam mimpinya, Ichon juga dihantui kejadian semu berulang-ulang yang menjadi pertaruhan nyawa paling mengerikan baginya. Sejak itu, Ichon menjadi incaran orang-orang sakti di kampungnya. Ompu Togu Urat, Nyai Gomgom, dan Ompu Rongur Panghutur. Gonjang-ganjing semakin menyadarkan Ichon pada sesuatu yang harus disadarinya: tentang keanehan dirinya dan itu berhubungan dengan kemampuan mimpi yang mengerikan. Peran orang sakti itu membekali Ichon dua batu bersimbol yang akan berfungsi sebagai pemancar kemampuannya.
Dalam perantauan di Jakarta, Ichon kecil bertansformasi dengan segenap potensi dan jejak rekam masa lalunya. Bahkan talian nasib dengan Amang Gultom berhasil membawa Ichon ke Amerika, belahan dunia yang memberikan kehidupan bagi seorang Alfa Sagala.
“Namamu Alfa, kan? Nomor satu itu artinya. Kalau kau jadi nomor satu di New York, artinya kau jadi nomor satu di mana pun.” (Hal. 110)
Selanjutnya, Gelombang dipenuhi dengan intrik-intrik yang mengalir dengan asyik. Dee dengan luwes meracik ciri khas Supernova dengan kuat, dengan sensasi roller coaster: ekspolorasi kearifan legenda Batak, setting yang sensasional, juga fenomena lucid dream. Ditambah bumbu humor yang menyegarkan, romansa perasaan dan pesona cuplikan sains yang semakin memperkaya jalinan rasa cerita yang lezat untuk bersandingan mesra dengan otak.
Karakter Alfa Sagala yang menggiurkan akan terus menggoda para pembaca untuk menikmatinya. Liku-liku kehidupannya tinggal di apartemen sekarat di Haboken, hingga mampu menyeberang bak kutu loncat menuju kampus paling bergengsi di Amerika Serikat: Universitas Cornell yang menjadi pembuka jalan untuknya berkarir di Wall Street. Namun, kesuksesannya tidak semata-mata membuat Alfa Sagala terlepas dengan bayang-bayang masa lalunya. Munculnya dr. Kalden Sakya membuka tabir diri Alfa Sagala yang bertualang sampai ke pedalaman Lembah Yarlung di Tibet. 
"Dr.Kalden mengamatiku, seperti prihatin. Aku ini Infiltran, kamu Peretas, dan kita dikelilingi oleh para Sarvara," ulangnya sekali lagi dengan tempo mengeja. "Kamu tahu artinya, kan?" 
...
Tiga kata itu mendarat seperti bom. Infiltran. Sarvara. Peretas. "Satu-satu, Kalden-la. Satu-satu..." gumamku. (Hal. 393)
Kelahiran Gelombang mulai menebar pesona pada 17 Oktober 2014, dalam status “pos” terakhir, sebelum pencapaian ending dalam Inteligensi Embun Pagi yang akan segera lahir.
Seperti adanya tradisi dalam serial Supernova, Gelombang juga masih menyajikan taburan dialog berbahasa Inggris. Secara subjektif, itu bukan perkara mudah bagi pembaca. Bahkan saya melakukan banyak skip untuk beberapa kalimat. Karena sejujurnya saya tidak mengerti dengan rangkaian maknanya. Namun, dialog yang saya pikir “aneh” itu sepertinya tidak mengurangi esensi makna yang ingin disampaikan Dee sebagai pencerita. Jalan ceritanya masih dapat dinikmati dengan selow. Meskipun masih terdapat lembaran “tidak perlu” yang juga menjadi tradisi Supernova yang terasa agak mengganggu. Gangguan “bahaya” itu tergambar karena, menurut saya, Supernova yang sudah sangat fenomenal ini tentunya memiliki klas pembaca beragam, yang pastinya tidak melulu dinikmati oleh pembaca yang sudah “dewasa” untuk memahaminya. 
Semakin hanyut dengan pesona Gelombang, keabsurdan sainsfiksi bersambung ini akan memaksa pembaca untuk menjalin kembali jaring laba-laba Supernova. Perlu diingat, bahwa selama hampir lima belas tahun kelahiran Supernova: Gelombang-lah perantara untuk menghadirkan si Bintang Jatuh.
“You almost did. Tapi, selama kamu tidak jatuh kembali ke amnesia total, Akso akan pulih dengan sendirinya. Semakin pulih ingatanmu, semakin kuat pula kontraksi Akso.”
“Yang lainnya... Partikel, Petir, Akar dan ada dua lagi, aku masih belum jelas melihat... enam orang termasuk aku. Kemana aku harus mencari?”
“Kalian terpencar. Tidak ada yang tahu persis lokasi satu sama lain karena memang seharusnya begitu. Ingat, amnesia adalah kelemahan sekaligus kekuatan kalian. Teman-teman gugusmu juga mengalami proses yang sama denganmu sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kecepatan kalian masing-masing pasti tidak sama. Tapi, begitu satu mulai terbangun, pemancar kalian akan teraktivasi. Entah bagaimana caranya, kalian akan saling menemukan.” (Hal. 445)
Adanya konektifitas “kode” dalam Gelombang seolah akan memaksa pembaca menarik sendiri benang merah dari serial sebelumnya. Seperti koneksi kehadiran Ihstar dan Kell (sebagai tokoh di serial Akar). Dan juga cuplikan keping 43 dalam tipu daya ruang dan waktu yang memberikan porsi untuk Gio (tokoh di serial KPBJ) yang kembali menjalin kisah pencarian Diva yang menghilang tanpa jejak di hutan Amazon. Namun begitu, Gelombang masih memiliki potensi kisah tunggal yang dapat bertahan jika pembaca lebih kooperatif untuk beradaptasi memahami plotnya. Walaupun ya intinya, si Primitif –pendatang baru yang belum melahap edisi Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, AkarPetir dan Partikel harus berusaha mengenal keluarga Supernova.
Atleast, kehadiran Gelombang merupakan menu utama dengan status paling menggiurkan. Tentunya akan tercipta rasa sesal dari jiwa Primitif yang bersedia melewatkan pesona Gelombang ini. Untuk itu saya memberikan pangkat Gelombang dengan status bintang empat setengah, dengan tambahan standing applause untuk eksplorasi Dee yang menyajikan cuplikan legenda Batak.
Akhir kata, saya sampaikan, “Adong maragam kisah i son ma. Baca kelenlah novel ini. Gak akan ada ruginya untuk kelen. Mantaplah pokoknya. Ingat itu, ya.” Horas!

(Review ini diikutkan untuk sayembara Dee's Coaching Clinic MEDAN dari Bentang Pustaka_

[Review Buku] Supernova #4: Partikel

2/26/2015 02:35:00 PM 0 Comments



Nah kalau yang ini emang Green generation, deh. Daku berteman dengan Zarah sepulang dari mendaki Gunung Sibuatan, yang makin bikin daku gerrr-geran aja rasanya.
Partikel lahir pada tahun 2012 (jeda hampir 8 tahun sejak Petir lahir). Partikel merupakan serial yang paling matang dan nyaris memiliki kemandiarian karya sebagai serial bersambung. Kecuali keping 42 yang memberikan porsi kedua tangan yang bertemu antara Bodhi dan Elektra.
Partikel menduduki urutan kedua dari proses daku membaca serial Supernova. Serial KPBJ yang awalnya berat dan ajaib, digeserkan dengan antusias yang teramat mendalam dengan Partikel. Novel ini memiliki “ketebalan” riset yang (menurt daku) hampir fantastis. “Keberatan” disiplin ilmu juga menjadi menjadi daya tarik yang paling daku suka.
Partikel secara kronologisnya merupakan proses pencarian pencarian sang Ayah yang hilang secara misterius akibat kegilaan risetnya, tentang makhluk yang kata Firas adalah jelmaan alien. Dunia bagi Zarah Amala hanya Ayahnya, fungi, dan kameranya.
Rangkaian cerita persahabatan dan cinta yang pupus menambah kompleksitas bumbu yang membuat novel ini menjadi semakin menyenangkan. Zarah yang menunggal terhadap pengalamannya yang terus berkembang dengan emosi yang datang dan pergi, kebencian yang menguat dan memudar, serta keacuhan dan kepedulian yang menyelimutinya secara kompak.
Dasar sains dalam Partikel adalah Ilmu Biologi. Seluk–beluk fungi (jamur) yang menjadi begitu penting. Dan hal yang paling daku suka tentang informasi dan pengetahuan yang awalnya bikin daku mikir antara sungguhan atau tidak, seakan semakin memperkeruh otak yang bikin berniat kepo atau tidak. Hingga terungkap kebenaran yang aduhai, seperti KPBJ, konsep siapa yang menulis siapa menjadi titik temu Zarah dengan disiplin ilmu yang ada di Mabah Gugel. Ah memanglah~
Dan emang, ini novel yang paling ganas juga pengaruhnya bagi daku (yang, jadi lebih sok-sokan concern dengan fungi) Apalagi, Partikel ini kubaca setelah mendaki gunung Sibutan yang emang dihuni lelumutan yang berkali-kali membuat daku kagum maksimal. Fungi itu emang keren. Dan gunung Sibuatan itu juga daku pikir juga jelmaan Bukit Gundul yang ada di Partikel. Accch! Sayang aja daku gak punya jurnalnya Pak Firsal, Ayahnya Zarah yang dosen IPB itu. Ehh... entahlah, gak terungkapkan excaited dan hebohnya daku waktu itu~~
Pokoknya Partikel ini PALING TOP!