Kamis, 26 Februari 2015

[Review Buku] Supernova #1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh



Ada begitu banyak buku serial bersambung yang di suguhkan penulis dengan genre yang juga tak kalah banyaknya. Diantaranya yang menjadi cukup fenomenal dan kontroversi di tanah airku ini adalah serial sainsfiksi Supernova-nya Dee alias Dewi Lestari. Faktanya, perjalanan Supernova sudah mencapai lima belas tahun. Waktu yang sebegitu layak juga belum cukup untuk menyudahi penasaran para pelahap Supernova.
Kehadiran Gelombang menjadi kabar gembira bagi kita semua.. 17 Oktober 2015 dipilih Ibu Suri menjadi tanggal lahir serial kelima Supernova (untuk Gelombang cek di sini).
Gelombang melahirkan sosok Alfa Sagala beserta intrik pencaria hidupnya, seakan memaksa seluruh ingatan untuk mengumpulkan remah-remah nostalgia terhadap empat gugus Supernova yang sudah menepi di labirin ingatan. Agar lebih mudah, daku akan uraikan review novelnya deh plus proses keterjebakanku dengan jaringan Supernova. Ada alasan untuk ini semua, yang pertama karena ketumnya Flp Sumut kak Nurul Fauziah yang “menantang” untuk menjelaskan kenapa harus baca Supernova (~ehm, sebenarnya mudah banget sih jawabnya, seperti akan menjawab: kenapa jagung itu di bakar?
Alasan keduanya, apalagi, ya karena mau ikutan Sayembara. WOOw. ^^9
Jreng... jrengg
Perkenalkan para gugus Supernova
Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh

Tahun 2010 adalah awal daku terjebak dengan agen pertama Supernova ini. (sedangkan, awal kelahiran seri KPBJ dimulai pada tahun 2001). Entah kenapa pada satu lirikan mata bisa kepincut hingga tersihir dengan cover yang berlatarkan sebatang pohon di atas bukit.
daku masih dapat bukunya cetakan TrueDee Book’s nih.. Unyu banget kan? ada gambar ayam entah bebek yang enggak jelas di bawah ungkapan puisi di awal lembarannya

Ekspetasi awal yang muncul yaitu cerita dongeng model baru dari negeri antah berantah. Sekilas membaca sinopsis singkat di cover belakang yang menyatakan: Supernova seperti taman kanak-kanak yang akan menunjukkan cara mainan sesungguhnya. Namun, apa mau dikatakan, ekspetasi tentang cerita dongeng itu menguap bersama embun di awal mentari menyapa bumi.
Lebih-lebih dari kebangetan! Mulai dari lembaran pertama membaca, mata nyaris kelilipan, diselingi perasaan meringis untuk mencerna rentetan kisah aneh bin ajaib (mungkin perasaan daku sadjaa). Belum lagi, berbulir catatan kaki yang membuat tanganku gatel untuk stalking kejelasanya pada mbah Gugel (maklum, naluri kepo yang menggeliat).

Kisah ini ditokohi oleh sepasang homoseksual yang semakin membuat daku terpaksa kaget. HAA?! (Gitu, dongeng apa yang bercerita tentang sepasang homo?) Peraaan kaget tadi berubah seperti perasaan orang dapat zonk ketika belanja online. Daku masih ingat, tentang niatan untuk menghentikan bacaan. Namun, kadung sudah beli novelnya (kan rugi kalau gak dibaca). Ya jadilah daku sabarkan diri untuk memutuskan skip area dialog Dimas-Reuben. Walupun setelah selesai membaca baru sadar ternyata gimmick dialog dari mereka yang menjadi daya tariknya. Disanalah sumber kerutan kening akan muncul. Dialog mereka itu sebenarnya buat pintar dan menjadikan naluri kepo semakin tertantang untuk cari info disiplin filsafat dan fisika quantum. Dan lagi-lagi harus ada yang buat daku keselek karena mendadak Dimas-Reuben terhubung dengan Diva: sang kupu-kupu malam yang juga terlibat menjadi dalang atas kisah Ferre dan Rana.
Cerita dalam cerita? Yaoma~yaoma..
Untung aja, taburan dialognya keren-keren, banyak qoute oke yang saat itu (waktu masih unyu-unyu) langsung saku jadikan status facebook. Ahahaha zamanku -__-
Awal-awalnya, daku sendiri kesulitan untuk membaca novel ini, memang karena daku masih terbiasa dengan novel yang memiliki tokoh utama dan tokoh pelengkap penderita yang bisa dihilangkan dengan mudah. Apalagi adanya embel-embel cabang ilmu eksklusif, serupa fisika quantum yang buat daku dengan mudah untuk angkat tangan. Tapi kenyataannya daku tidak menyerah. Hasilnya lumayan, ya bisa menerima novel ini dengan menempatkan perenungan absurd yang diselipkan dari novel tersebut.
Daku mencoba beradaptasi dan sabar memahami siapa yang berperan sebagai apa. Jadi sekedar saran untuk man teman yang belum membaca atau berniat segera membaca Supernova: pilihlah penilaian dan perenungan yang tak kalah absurd dari paparan cerita yang diberikan. Adaptasi. Dan harus belajar absurd juga. Dengan itu alasan membaca Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh dapat ditemukan. Setidaknya ketika kita juga bersedia berpikir sebagai pemantau di jalur tengah, yang tidak memihak di kanan apalagi mencerca di kiri. Terlebih kita telah lama terbelenggu terhadap picisan yang melulu dengan semberono memvonis “benar” dan “salah” tanpa peduli alasan kebenaran dan kesalahan yang sebenarnya terjadi.
Taburan intrik filsafat, sains dan pisikologi yang terjalin dengan kisah cinta yang absurd menjadikan setiap scene kisah KPBJ bukan novel biasa dan memang layak diapresiasi dengan cerdas dan dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar