Senin, 09 Maret 2015

[Resensi Novel] RENGGANIS: Altitude 3088 Karya Azzura Dayana

21.06.00 2 Comments


Mari, Kawan! Rasakan dan Nikmati Pentas Attitude 3088


“Kau tak pernah menaklukkan sebuah gunung. Kau berdiri dipuncaknya hanya sesaat, setelah kau turun, angin bertiup menghapus jejak-jejak kakimu. -Arlene Blum”

 Sini kuberitaukan padamu kawan, kisah tentang perjalanan menuju puncak penuh makna. Perjalanan yang mengajarkan tentang alam kita yang indah, permai dan misterius.
Ya kawan, kisah di jalur pendakian pegunungan Hyang ini menyimpan pesona tak kepalang main-main. Fantastis! Sungguh novel beraltitude 3088 yang menyenangkan plus kaya pengetahuan adanya.
Siapkan dirimu Kawan, dengan perasaan menggebu, antusias yang bergelora, jika perlu segera dengan keril atau daypackmu, kebutuhan pribadimu, makanan dan minuman untuk bekalmu. Bersama Altitude 3088 kita akan diajak mengikuti perjalanan delapan orang yang terbentuk menjadi tim pendakian.
 Hirarki kisah ini terbentuk berdasarkan hasil kolektif untuk memudahkan sharing-cost pendakian puncak Argopuro. Delapan orang itu menentukan Dewo si petualang sejati, bertubuh tinggi dengan berat badan ideal sebagai ketua Tim. Dewo yang berteman dengan Fathur, Nisa dan Dimas juga mengajak teman lainnya. Fathur si wartawan yang berpostur kurus tinggi, mengajak temannya dari Jakarta, yaitu Rafli si fotografer yang juga bertubuh atletis. Nisa si gadis periang sekaligus penakut, mengajak teman bernama Sonia, gadis asli Manado yang berkulit paling terang dan satu-satunya wanita yang tidak berkerudung. Sedangkan Dimas si pengusaha muda sekaligus novelis yang bijak, mengajak temannya yang bernama Acil dan Ajeng. Acil asli Solo, si pengusaha garmen yang bertubuh mungil dan didaulat sebagai guide pendakian. Serta Ajeng yang juga asli Solo, berprofesi sebagai biologist super sibuk yang merangkap sebagai koki dalam ekspedisi altitude 3088.
Siapa lagi, kalau bukan: Azzura Dayana, penulis asal Pelembang, yang kembali mengajak kita –para pembacanya- merasakan petualangan mendaki gunung. Tak tanggung-tanggung, setelah Altitude 3676 Takhta Mahameru yang bertaburan hikmah, kini giliran Altitude 3088 yang akan mengajak kita menjejaki Argopuro -pendakian panjang- selama kurang lebih lima hari menuju puncak Rengganis yang misterius.

Kedua alis Ajeng terangkat.
“Dan di gunung itu, katanya kita masih bisa melihat reruntuhan situs peninggalan sang puteri. Ada arca-arca dan bekas istananya. Walaupun memang tidak ada keterangan yang utuh tentang situs-situs itu.”
“Serius kamu, Dewo? Di gunung ada bekas istana?”
Dewo mengangguk, meyakinkan.
“Aku jadi penasaran ingin melihat sendiri jejak-jejak itu di sana. Walaupun agak sedikit mencekam, ya, ceritanya? Ngomong-ngomong, siapa nama sang puteri dari Majapahit itu, Wo?”
“Namanya Dewi Rengganis.”
“Nama yang indah,” Ajeng termenung sebentar. Ternyata menarik juga gunung yang akan mereka daki kali ini.” (Hal.13)

Kisah berdurasi 228 halaman ini merupakan potret perjalanan mereka yang dimulai dari setapak peradaban Baderan menuju lintasan penuh lika-liku. Kita akan diajak menjengguk Mata Air Pertama, Sabana Alun-Alun Kecil, Alun-Alun Besar, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, Sabana Lonceng, Titik Triagulasi menuju pucak Argopuro, puncak Rengganis dan puncak Arca, hingga kembali lagi menuju peradaban Bremi.
Secara keseluruhan, dalam novel ini juga menyajikan edukasi yang berbobot. Pendakian yang dilakukan memberikan taburan informasi yang bermanfaat bagi kita untuk melakukan persiapan dan pendakian. Sensasi dan gelora pengalaman yang disuguhkan serta-merta mengajak kita mengikuti petualangan real -senyata-nyatanya pendakian di rimba belantara. Setting pegunungan Argopuro dieksplorasi dengan detail. Meskipun kehadiran delapan karakter dengan porsinya masing-masing yang menarik kurang dieksplorasi untuk melunakkan dialog para tokoh yang terasa kaku dengan umur persahabatan mereka. But, all is Ok, Friends! Everything was simply perfect.
Mampukah mereka menaklukkan Rengganis? Apakah alasan Acil yang secara mendadak tidak ingin melanjutkan pendakian menuju puncak Argopuro? Apakah yang terjadi dengan Sonia yang justru bersikeras ingin menyusul Acil. Lantas apakah yang terjadi dengan salah seorang dari mereka yang meninggalkan tenda dan menghilang dengan dalih menyambut tabir jamuan sang Dewi Rengganis.

Maha Indah Dia yang hadirkan ini....
Sejuta edelweiss dan bentangan sayap merak
Belasan sabana hijau saling rangkai
Sungai-sungai murni yang mengalir sampai ke hati

Maha Misterius Dia yang jadikan ini....
Hutan berkilau embun dan danau berkabut
Puing-puing istana dan tempat tetirah
Matahari terbit di tanah tinggi
Malam-malam berlapis tanya
Memang ... ini bukan gunung biasa. (Hal.5)

Terimalah sajak manis untuk menyambutmu itu, kawan. Dan, Mari kita rasakan!
Nikmatilah segera kisah mereka, Kawan: karena di Altitude 3088, sekisah pentas dari Rengganis akan terjawab. 



Penulis Novel          : Azzura Dayana

Ilustrator                  : Naafi Nur Rahma

Penerbit                    : Indiva Media Kreasi

Cetakan                     : Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014

Jumlah halaman     : 232 halaman
ISBN                           : 978-602-1614-26-6 

*Resensi ini diikutkan lomba menulis resensi buku karya Penulis FLP dalam rangka Milad FLP ke-18.
Salam Berbakti, Berkarya, Berarti ^^.

Minggu, 01 Maret 2015

Maret bersama Yang Terlupakan

21.44.00 0 Comments

Dari speker radio reot di sudut kamar, terdengar bebunyian serak dalam melody lagu yang sangat ramah dan dekat denganku. Entah bagaimana mengartikan hadirnya senyum yang tersesat dengan perasaan yang juga entah bagaimana kuartikan.

Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan
Denting piano kala jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan
Terpikirku dalam hati, untuk bersekedar menjenguk ingatan terlalu
Ingatan yang sesekali ingin berkaca-kaca pada masa terlupa.

Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Wahai denganmu...
...
Haruskah kita bertemu lagi?
Haruskah kita perlu mengingati lagi?
Haruskah kita menjenguk lagi di kala Maretmu dan Maretku bertemu seperti ini?
Atau seperti adanya, terus menghindar, seperti kataku: kita adalah kutup selatan dan kutub utara.

Na….na….na….na O….maafkanlah
Na….na….na….na O….maafkanlah
Na….na….na….na O….maafkanlah
Na….na….na….na O….maafkanlah

Padamu yang selalu tidak seorang
dulu dan sekarang
Kuharap kita selalu begini: menghindar saja?
atau melupakan?
untuk selamanya.

Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyum mu tetap mengikuti
Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah ku mencoba tuk sembunyi
Namun senyum mu tetap mengikuti
Wahai kamu.
sepertilah adanya telah kita setujui tanpa kat-kata setuju ini
kita akan punya sebelas bulan untuk semua semoga;
segala yang kumiliki sendiri dan juga milikmu seorang.

masih pernahkah kau geli? atau murung?
dan selalu menunggu..
seperti aku 
lagi dan lagi, menunggu alasan bersisian pada Maret yang mempertemukan
bersama menjadi kita.

Wahai kamu.
Berbahagia selalu untukmu ya
begitu adanya aku pun sudah tentu, untuk berusaha lebih baik.

Semoga ya selalu baik dalam prosesmu
Semoga ya selalu jika kita bertemu pada Maret
adanya seperti ini: aku tersenyum mengingatmu lebih baik dan tulus adanya.


Minggu, 1 Maret 2015
*Dalam dekapan hujan teramat lebat di hari yang siang terik.
Ditemani sebaris nyanyian "Yang Terlupakan" dari Iwan Flas,
terciptalah rasa menggelikan: Tentang Merat yang selalu dinanti ingin berbalas telepon dan ucapkan "selama ulang tahun ya, D"