Selasa, 22 September 2015

Untuk: Hari Badak Internasional

23.40.00 0 Comments


Untuk Badak Jawa: Dicari Rumah Baru Layak Huni untuk Berkembang Biak
0leh : Sri Ramadani Harahap

Sebagian orang memilih untuk menyelesaikan masalah. Sebagian lainnya, memilih untuk melupakan masalah.  Sebagian orang memilih untuk peduli dan sebagian lagi memilih untuk tidak mau peduli. Alkisah, sebagian orang yang memilih untuk menyelesaikan masalah itu. Konon memiliki kepedulian nyata bagi lingkungan sekitarnya. Mari kita ketahui dengan jelas, tentang kondisi alam, flora dan fauna yang kian memintal ironi di masa sekarang.
Tak hayal bahwa perhatian dari manusia mutlak diperlukan untuk keberlangsunangan harmoni kehidupan. Anggaplah kita sebagai manusia yang paling layak menggunakan akal dan pikiran untuk menjaga kelestarian alam ini.
Gema kampanye perlindungan satwa khas Indonesia kian menggelora, bertepatan tanggal 22 September yang digagas sebagai Hari Badak Internasional, semakin mengingatkan kepedulian manusia untuk ingat-mengingatkan prihal ancaman kepunahan spesies badak di Indonesia.
Saat ini hanya tersisa lima jenis badak di dunia, yaitu dua jenis badak Afrika, satu jenis badak India dan dua jenis badak Indonesia. Untuk badak Indonesia, badak Jawa maupun badak Sumatera, oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sudah ditetapkan dalam kategori spesies paling terancam kepunahannya.
Populasi badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) tersisa tidak lebih dari 200 ekor yang tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung), dan Waykambas (Lampung). Sedangkan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya berkisar 60 ekor yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten).
Badak Jawa merupakan salah satu mamalia besar terlangka di dunia. Sebab populasi lain dari sub-spesies badak Jawa ini yang pernah berbeda di Vietnam telah dinyatakan punah. Status badak Jawa sudah dilindungi sejak 1931 di Indonesia, yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon di barat daya pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.
Saat ini Taman Nasional Ujung Kulon menjadi satu-satunya habitat yang tersisa bagi badak Jawa di Indonesia. Jumlah populasi badak Jawa yang hanya tersentral pada habitat tunggal ini kian hari mengintai permasalahan baru. Pasalnya, selain ancaman perburuan cula badak, faktor bencana alam juga mengancam kondisi badak Jawa dikarenakan hutan habitatnya, Taman Nasional Ujung Kulon berdekatan dengan Gunung Krakatau. Belum lagi, ancaman lain tentang meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia yang menjadikan badak Jawa ibarat telur di ujung culanya sendiri, tak punya pilihan harapan hidup lain yang nyaman.
Berdasarkan informasi WWF Indonesia sudah dilakukan studi kelayakan terhadap ukuran wilayah jelajah dan kondisi habitat, Ujung Kulon diperkirakan memiliki daya dukung bagi 50 individu badak. Hanya saja, populasi yang stagnan menandakan batas daya dukung sudah dicapai. Karena alasan tersebut serta upaya preventif menghindarkan populasi badak dari ancaman penyakit dan bencana alam, para ahli sudah merekomendasikan adanya habitat kedua bagi Badak Jawa.
Inilah gong perhatian untuk kita; relokasi habitat baru layak huni untuk sang badak.
Fokus agenda leader World Wildlife Fund (WWF Indonesia) dan pengasuh Yayasan Badak Indonesia (YABI) beserta para peneliti sudah berupaya untuk mencarikan rumah baru untuk sang badak jawa. Beberapa alternatif yang direncanakan sedang menyusun kenyamanan yang layak huni bagi kelangsungan hidup badak Jawa. Kondisi alam yang sesuai dengan kondisi badak Jawa diharapkan akan memberikan ruang baru yang lebih nyaman sebagai tempat perkembangbiakan badak Jawa.
Para leader peneliti dari WWF Indonesia dan YABI menjelaskan diantara beberapa lokasi yang sudah menjadi pertimbangan kelayakan ini, diantaranya adalah; Hutan Baduy, Taman Nasional Halimun Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh. Kandidat Suaka Margasatwa Cikepuh yang memiliki luasnya 8.127 hektare dengan keadaan topografi sebagian besar berbukit-bukit pada ketinggian 0 sampai 250 meter di atas permukaan laut diduga menjadi alternatif yang diperkirakan cocok menjadi habitat badak badak Jawa ini. Meskipun penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan untuk memastikan badak Jawa bisa hidup dan berkembang biak dengan nyaman di habitat yang baru ini.
Mengingat badak Jawa termasuk hewan yang sulit berkembang biak. Pemilihan rumah baru untuk badak Jawa harus melalui berbagai langkah perencanaan dan penelitian yang matang. Sebagai upaya menempatkan habitat kedua yang layak huni untuk badak Jawa, hal yang menjadi prioritas utama harus mengingat dan memahami tentang kesesuaian pola hidup badak dengan lokasi barunya kelak. Untuk pertimbangan rumah baru badak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu
1.     Sebagai hewan herbivora, rumah baru sang badak nantinya sangat mutlak membutuhkan stok makanan yang mendukung.  Jenis tumbuh-tumbuhan, daun dan ranting yang mampui dicapai oleh badak menjadi faktor urgen untuk memenuhi kebutuhan biologis sang badak.
2.    Badak Jawa lebih senang melakukan penjelajahan terhadap habitatnya disertai perilaku berkubang. Badak Jawa dalam sehari sampai dua atau tiga kali berada di kubangan lumpur yang harusnya banyak ditumbuhi oleh vegetasi tumbuhan yang rapat. Maka kondisi rumah baru sang badak kelak, harus memberikan ruang setidaknya kubangan terbaik bagi kesenangan sang badak Jawa. Prihal kubangan untuk badak juga harus menjadi perencanaan untuk relokasi rumah sang badak. Untuk memberikan kenyaman, kubangan ini sedapatnya berasal dari aliran sungai kecil atau genangan air yang terbentuk pada musim hujan. Pada saat berkubang badak Jawa biasanya menggosok-gosokan tubuhnya pada batang-batang pohon di sepanjang jalur dari kubangan ke wilayah jelajah selanjutnya.
3.   Badak Jawa terkenal sangat “pemalu”, sensitif, dan lebih memilih hidup soliter. Tak hayal; kondisi hutan yang kondusif, aman dan bebas dari ranjau atau aktifitas manusia secara terang-terangan menjadi prioritas utama. Habitat yang kondusif dan pro-badak itu akan memberikan kenyaman untuk badak, sehingga tidak memicu adanya stres dan dapat membantu proses perkembangbiakan badak dengan lancar.
Sebagai peyertaan akhir, andaikan, marilah kita berandai-andai sejenak- sandainya dunia hanya butuh sebagain orang yang memilih peduli itu untuk menyelesaikan masalah-masalah. Pastikan, Kawan, kemalangan tidak ada dalam posisi kita sebagai manusia yang berpikir. Terlebih bagi posisi sang badak yang sudah terancam punah. Sesungguhnya alam akan memihak kita yang peduli dengan kelestariannya. New hope, new home and new life in wild for Rhino.

  Cerita ini diikutsertakan dalam lomba menulis Cerita Anda oleh Viva.Com 
dengan tema "Bagaimanakah Rumah yang Nyaman Untuk Badak?”

Selasa, 01 September 2015

Entahlah!

01.53.00 0 Comments
Ketika hati mangabai banyak hal
pada alasan berkata tak sejalan maunya
bersama waktu kronis
tarian nafsu di selasar imaji
lantas hilang tak tentu pemilik, rasa sakit
rugi dan kecewa
menghias sabar yang tak sadar
Entah karena apa lagi
selalu adanya seperti demikian.