Kamis, 28 April 2016

Tes Stifin untuk #selfhealing

21.23.00 0 Comments
Ada banyak yang terlewatkan sejadi-jadinya peristiwa di runtutan waktu yang terjalani. Tersejak kapan-kapan aku memiliki waktu yang tak seluang sebelumnya. Terhitung dari post sebelumnya yang sering kubaca-baca ulang sebagai kenangan depresiku atas rasa bosan.
Pasca lepas dari gelar mahasiswa Sarja Pendidikan, pengharapan dreamjob dan pernak-perniknya. AH, cerita itu, harus banget ngumpulin semangat dan idealisme yang seluas rumah gadang untuk dieksekusi lahi ... hah!
Sekarang. Semogalah saja beralih dengan kebaikan baru menjadi solusi terbaik.
Tersejak akunya mendapati status sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di kota Medan. Otomatis peralihan aktivitas dan lingkungan mulai gonjang-ganjing. Apalagi kondisi lingkungan yang beda semakin banyak merubahku lagi, dan memaksa totalitasku untuk mengabaikan kecendrungan diri sendiri.
Aku sulit mendapati istilah dari kepalaku -yang paling tepat tentang kondisi seseorang yang berusaha untuk meredam dirinya- atau istilah tentang seseorang yang sedang  meredupkan kecendrungan yang belum menjadi keykainan totalitas bagi dirinya sendiri 
Awalnya, aku punya aturan sedemikian gagah, hingga berani memilih jalur freelence. Namun ketidakmampuan bertahan dengan kondisi tidak banyak manfaat, kegiatan sosial yang merana dan tertinggal sendiri sedemikian rupanya.. semakin memaksa aku keluar dan mengambil sikap baru.
Dan... kondisi galau akan tanda tanya itu, baru-baru ini kudapati jawabnya dari hasil tes kecerdasan otak, yang lebih beken disebut Tes STIFIn.
Dengan perhitungan, penghayatan dan evaluasi bersama kawan ngobrol yang sekaligus menasehatiku, Daku meyakinkan tes STIFIn itu penting untuk mengembalikan kepercayaan diri untuk diri sendiri.  Dan hasilnya adalah ...
Hasil tes itu ternyata mampu memunculkan provokasi untuk membangkitkan desir eksistensiku. Setidaknya, seperti menulis lagi di laman blog untuk curahan yang akan bermanfaat sebagai latihan menulis dan self healing, lagi.
Apalagi dengan semangat dan suasana tamplete baru ini, kepinginnya sih.. Rumah Srikaya ini tetap eksis juga 
Dan untuk kisah-kisah terlewat yang mengharukan, sedih, dan bahagia yang terangkum di kepala. Semoga bisa menjadi tulisan di laman entri berikutnya. Ya, walaupun (katanya) daya ingatku tak sebaik para perekam, setidaknya aku tak mudah melupakan ingatan-ingatan. Sama sekali tidak mudah lupa.