Senin, 16 April 2018

Sebuah Usaha Merencanakan

Sebenar-benarnya Aku belum yakin ini benar untuk dilakukan. Pun sebaik-baiknya, Aku juga belum yakin ini baik apalagi penting adanya untuk dilakukan. HAH.
pict sumber: googling bae.
Kenyataan yang ada hanya tentang aku ingin mencoba, mencoba, mencoba, sampai menantang diri sendiri untuk melakukan perihal ini.

Iya, senyatanya aku ingin merencanakan sebuah usaha: untuk menulis, lagi.
  
Sebelum ini, ada satu juga yang harus tunai aku selesaikan. Tentang proyek inginku mewujudkan janji tak tertagih kepada kumpulan cecoretan tangan di sembarang kertas yang kurasa sudah pantas dikumpulkan menjadi draf yang akan berbentuk rangkaian cerita. Aku sedang berusaha untuk itu.

Menurut ketulusan gelisah jiwa-jiwaku yang sering terguncang: sadari aku memahami beberapa problem kehidupan (hallo, LYFE) dan juga cinta.

Terpujilah, duhai CINTA untuk segala jenis emosi yang tertimbun, tinggal dan masih menetap pada lurik lurik nadi yang harus lagi kutanami bunga bunga segar. Setidaknya agar menjadi bibit yang baik untuk genersi yang baru.

Besar harapanku memang tak sebesar usaha yang sedang kujalani. Besar inginku juga memang tak sebesar target yang sedang kutuju. Dalam usaha ini selalu saja sempat singgah dalam kepala, kepada apa dan siapa lainnya yang akan perhatian dengan tulisan ini. Namun, kemarin aku diingatkan kembali tentang, "kalau belum terjadi, belom dikerjakan. Udah gak usah banyak tingkah alasan. mulai aja."

dan kupikir, "hmm, baiklah"

mood boster: mbak Kirana :)
Namun, tetap saja, janji ya nanti-nanti kuharap tidak akan berpanjang daftar tanya-tanyanya pada gelisah, gelisah puisiku, gelisah prosaku dan juga gelisah pandanganku. 
Nikmati aja. semoga bisa rutin. Kan, akunya pengin healing lagi.

Untuk beberapa kondisi, rasanya aku ingin bebas saja, menulis dan hanya menulis dengan bebas tanpa  pembenaran yang harus ditemukan oleh kepalaku.
Aku ini tipe yang sangat rumit, pikirku seringkali. Untuk melakukan hal yang sebagian orang mengatakan itu sepele saja, bagiku harus tetap memiliki alasan. Untuk melakukan remeh temeh rempeyek saja, bagiku harus tetap pusing mengerutkan kening.

Kepalaku sering sekali ribut ribut pada denyut denyut yang memaksa sistem naluriah yang harusnya bekerja mendapatkan makanannya sendiri.

(tapi, kalau diajak lawak, aku sungguh recehan. Ga pakai mikir bisa jadi bloon bgt, hiks :'(

Lagi lagi harus kuingatkan, "bukankah prihal kenangan yang pernah ada, sejatinya tak akan kita buang segalanya dengan percuma, kecuali keyakinan bahwa kita akan tetap melanjutkan perasaan dengan sebijak kemampuan kita berpikir untuk masa depan.

Toh, sudah jelas banyak petuah katakan: Kita hidup untuk masa depan. Masa lalumu adalah milikmu, masa laluku pun begitu dan (bisa jadi, siapa tauuu) kita akan mencipta masa depan bersama. ya oma ya opa

Atas segala maaf dan wujud rasa hormat untukmu (ya, kalau-kalau nanti tersungging atau terjellungup): ijinkan aku menuliskan beberapa sendu yang ingin kuselesaikan, terlebih kepada inginnya aku merangkai ini menjadi jering jaring seperti rumah laba laba yang kelak akan bermuara di tengah, yang entah apa: aku juga penasaran.

Halo!

Kamu pernah mendengar tentang peristiwa halo bulan kah?
atau halo matahari?
..
Nanti pada jaringan berikutnya aku ceritakan ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar