Selasa, 10 Desember 2013

Masalah itu pun hadir..... #skripsi~ behind the Scene

12.29.00 0 Comments

Eng ingg Engg...... Haii blog! Kabar baik kan?
Syukur deh, alhamdulillahh....

Setelah berburu inspirasi yang membara, menyelam dalam lautan ingatan-ingatan yang melayang sesuka hati. Dengan kekuatan doa, langit, bulan dan bintang, #eh tentunya didongkrak dengan ikhtiar dan istikhoroh, ehem... ehmm..... saya sudah mendapatkan IDE !!! ahh nikmatnya pencerahan prilaku anak-anak didik saya selama PPL di sekolah.
Oia, sebenarnya saya mau bercerita tentang kabar bahagia, bahwa judul skripsi saya dalam ajuan K1 dan K2, sudah di ACC oleh ketua prodi, dan semoga K3 nya juga akan segara naik edar ke biro agar “resmi” sudah memiliki bandrol judul skripai, dosen pembimbing dan izin pembuatan proposalnya. Ahh, senanganya. #aaaaaaasenang #alhamdulillah.

Untuk ajuan K2 sebenarnya saya lebih bersemangat untuk menceritakannya, karana ini berhubungan dengan orang yang akan membimbing saya, ah bisa dibayakan, baik tidaknya skripsi saya nanti adalah hasil dari analisis, pendekatan Saya dan bimbingan dari Dosen Pembimbing, daaan untuk yang satu ini saya telah beristikhoroh untuk memilih Ketua Prodi kami yang baru, yaitu Ayahanda, Mhd. Isman.M.Pd.. Begini ya, sebanarnya Dosen kami ini adalah salah satu legenda di FKIP Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, semasa saya semester 1,2,3, dan 4,5 setiap kali ada yang menyebutkan nama beliau, selalu saja menimbulkan spekulasi yang berbeda dari setiap pribadi. Ya begitulah ada yang pro dan kontra gitu.. Tapi menurut saya, beliau dikenal sebagai pribadi yang "mewah" untuk urusan ilmu dan pribadi yang "wah" untuk urusan kesempatan waktu dan integritas. Beliau disiplin dan keren!. Saat Mata Pelajaran Metodologi Pendidikan di semester 6, beliau adalah dosen yang paling saya nantikan dan dambakan. Kemampuan transfer ilmunya sudah memikat diri saya untuk bergiat mempelajari Metopel,. Berkharisma! Ah iya, banyak dari teman saya juga ikut membenarkan spekulasi saya. And, you know what... beliau adalah termasuk salah satu dosen yang paling saya kagumi. Fix!. Ilmu dan kharisma beliaulah yang menjadikan saya yakin untuk memilihnya menjadi Dosen Pembimbing saya, semoga, skripsi saja kelak, menjadi hal baik dan berguna bagi pembelajaran diri saya dan orang lain yang membutuhkannya.

Hmmmph, berikutnya tentang K1, yaitu surat yang memuat 3 judul yang sudah dikuasai akar permasalahannya dan turut serta pilihan metode dan instrumen yang akan di teliti. Yap!! ada 3 judul, berarti 3 permasalahn dong ya? Hehee. Memang sudah ada 3 permasalahan yang sudah saya pikirkan dan renungkan. Tapi, saya hanya tertarik dengan satu permasalahan yang mengikat hati saya. Dengan temaram rasa bosan yang melanda sebelumnya saya terlonjak untuk bersemangat kembali, saya teringat dengan kebaikan guru pamong saya sewaktu PPL di sekolah. Dia pernah menunjukkan satu buku tentang menulis karya ilmaih, dalam buku itu ada membahas tentang Pengetahuan dan pengembangan Literasi. That's Right my choisee!! Saya akan membuat masalah dengan Literasi. Haha,
Oia, berhubung dari awal saya sudah menyinggung tentang literasi. Sebenarnya itu adalah korelasi dengan minat saya saaat ini. Saya terpikir dengan passion yang saya gandrungi sekarang, terang saja, saya kan lagi doyan banget nulis. Belum lagi jika persoalan baca-membaca, ahh tapi waktulah yang menyebabkan beberapa buku saya sepertinya yang sudah kesepian dari jamahan tangan saya untuk membuka lembaran-lembarannya.

Oia, tidak terkira perjuangan saya –lebay ya kata perjuangan nya? Hehe. Ini bukan main-main, ini berhubungna dengan harga diri. Saya diingatkan kembali tentang aroma tak sedap yang berhubungan dengan kekaguman saya dengan salah seorang dosen. Hm...saya sampai dikatakan ndablek. karena tetap ngeyel untuk meyakinkan beliau. Sayalah “Si keras kepala” dalam ingatannya. Bukan tentang masalah yang menjadi permaslahan saya, semangat dan pertahanan sayalah yang sedikit dibuat “babak belur” olehnya. Namun, hasilnya ternyata..... begitu bijak apa yang dilakuakn sang dosen saya yang cantik itu, hihi. Apa yang dilakukan sang dosen begitu bijaksana, karena setelah saya sadari saya memang kurang memahami spesifik masalah secara detail. Selama dua hari saya “mengeram” di dalam kamar dengan laptop dan buku mengkaji ulang tentang budaya literasi. Akhirnya, permasalahan yang saya miliki sudah fix, runcing dan tepat sasaran. Saya maju dengan percaya diri dan mendapat ACC tanpa “perlawanan” lagi. Karena sayalah striker utama yang berhasil mencetak gol. Haha, K1, K2 dan K3 sudah beres..... selanjutnya saya pun mengucapkan “semangat bekerja untuk proposal”. Bismillahhirrohmanirrahim..... J

Senin, 09 Desember 2013

Binggung mencari masalah..... edisi #Skripsi_behind the scene

08.31.00 0 Comments

Sebenarnya, saya lagi lagi buntu ide untuk meruncingkan permasalahan judul skripsi. Ada banyak rindu, agenda dan rencana terpendam yang lebih menantang untuk saya lakukan. Ahh... #pikirkeras
Entah mengapa, rasanya begitu cepat waktu berlalu. Ada yang pernah mengatakan pada saya, waktu akan berlalu begitu cepat bagi yang merasakan dan melakukan hal menyenangkan dan bermanfaat dalam sejarah hidupnya, namun bagi orang yang lalai waktu terasa begitu lamaaaa untuk dilakukan, ya, sudah jelas itu karena dia tidak merasakan betapa bahagianya kehidupan ini. Ehm...*batuk* (cek sound)
Oia, by the way saat ini saya sekarang sudah semester 7 dan kabar gembiranya jadwal kuliah kami dalam masa transisi antar libur dan tidak libur, terhitung setelah selesai PPL, kami mahasiswa semester 7 tidak punya jadwal tatap muka dosen di dalam kelas alias libur gitu dehh. Tapi jadwal mengunjungi kampus masih tetap rutin saya lakukan. *nerd*

Kenyataannya, jika mengingat perkara masalah dan judul proposal menjadi bagian yang ingin saya liburkan sebentaaaar saja. Tapi entah mengapa rasanya sedikit kesal dan menjadi terbelakang, ketika teman saya sudah berhasil meloloskan K1-nya. Apalagi jika ada teman saya, entah bertanya atau malah sekaligus mengajak, "yik,hayuk kapan kita daftar Sidang Kompri?" *binggung -- harus menjawab pertanyaan dengan jawaban "nanti saja" atau harus meyakinkannya dirinya "ya sudah daftar saja duluan".
Hmmmm, Ini sudah memasuki bulan Desember, sesuai kesepakatan dengan beberapa teman saya, kami sudah berencana untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan, sederhananya bisa juga disebut kami AKAN berlibur. (Kagak pengen tau ya kenapa kata akan nya dibuat dengan huruf kapital?)Hahaa
Sumpek benar! Hahhhh.... Beneran, rasanya itu capek banget tiap hari nglakuin kegiatan yang lempeng aja, kurang ada dorongan untuk tantangannya. Paling ada tantangan yang saya rasakan akhit-akhir ini adalah mengerem rasa rakus untuk membeli buku, ah iya, terlebih karena ada acara Medan Book Fair di IAIN SU pada tanggal 29 November s/d 3 Desember 2013. Ahh, keterlaluan banget itu acara dilaksanakan di akhir dan awal bulan yang sangat krisis untuk seorang mahasiswa. Ya, sehingga sudah jelas tantangan saya untuk kedepannya, saya harus lebih berhemat untuk mnegefisienkan uang. Kemudian.....waktu saya juga digunakan untuk aktifitas keorganisasian di kampus, tapi saya tidak merasa keberatan dengan itu semua, karena yang saya lakukan semaunya menyenangkan. Ini Sugesti saya sendiri loh, agar kenyataannya sesuai dengan harapan saya. *Muslim Negarawan #takbir—Allahu Akbar (biar semangat).

Sedangkan, tantangan saya dibulan yang lalu, tepatnya selama PPL adalah proses penyesuaian diri dan proses untuk membaur menjadi satu kelompok yang solid, setidaknya untuk kelangsungan persahabatan yang saya inginkan ( jadi rindu sama mereka). Lainnya segala aktifitas saja hanyalah ngaji, naglor ngidul, baca-menulis dan berbagai kegiatan manusiawi lainnya yang menyertai. Tergambar gak si? Rasa bosan saya ini. Ah jika tidak, maapkan ya. Saya hanya pandai merangkai kata, sedangkan untuk menggambar hanya kegiatan yang bisa saya lakukan jika mencontoh benda secara kongkret ( baca: jiplak pakai karbon) hehe.
Rasa bosan saya ini, berimbas pada keberlangsungan judul skripsi yang saya nantikan inspirasinya. Ahhh... dimana harus saya temukan masalah itu.....

Kamis, 05 Desember 2013

Mahasiswa Baru

12.13.00 0 Comments

31 Agustus 2011. Ada peristiwa penting yang pernah terjadi di kurun waktu itu. Begitulah saya mengingat dan melihatnya kembali. Awal, pada saat saya sudah memiliki identitas baru sebgai seorang Mahasiswa di salah satu universitas swasta di kota Medan. Fakultas KIP jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi  lahan  penggembelengan pengetahuan saya. Menurut catatan saya (baca: dairy usang), pada hari itu di rentang waktu sekitar 3 tahun yang lalu, saya masih menjadi Mahasiswa tinggat pertama, dengan semangat belajar yang ogah-ogahan. Terlebih lagi, pikiran egois saya DULU yang berstatus sebagai orang gagal karena tidak bisa masuk ke Universitas tujuan saya.
Semula semuanya begitu menyiksa, membayangkan untuk menghabiskan waktu kurang lebih 4 tahun di Universitas yang tidak masuk dalam keinginan saya, ah keterlaluan. Padahal untuk memasuki Universitas ini saja, Ayah dan Mamak sudah menyediakan banyak biaya demi saya. Perjalanan naik-turun angkot dengan jarak tempuh angkot Binjai- Medan- Belawan selalu memaksa diri saya untuk melewatkan waktu hampir 2 jam bahkan lebih (terhitung macat) dalam perjalanan menuju kampus. Parahnya itu saya lakukan sendiri, hal yang paling tidak saya suka. Berencana ngkost? terkendala keridhoan Ayah dan Mamak. Belum lagi masa gagal adaptasi saya dengan rutinitas mahasiswa , karena (saat itu) saya merasa tidak nyaman disana. Saya juga seringkali berencana move on untuk  hijrah dari Universitas itu. Maksudnya mengikuti ujian SNMPTN lagi, mencoba dari awal lagi. Tetapi, mungkin Allah memang sudah berketetapan. Ayah dan Mamak juga begitu, Mamak selalu meyakinkan lebih baik dengan bersabar. Hingga saya benar-benar menerima kenyataan ini, di tahun kedua tepatnya di tingkat 4 dan sekarang saya bersyukur kerenaNya.
Begitulah, awalnya terkadang, manusia cendrung bersikap egois karena hanya memikirkan dirinya sebagai central dari pihak yang tidak beruntung. Padahal apa yang disukai belum tentu baik untuknya dan bisa jadi apa yang tidak disukai sangat baik untuk dirinya. Betapa bermaknanya waktu, sekarang saya telah menjadi mahasiswa tingkat 7. Selama 3 tahun saya berproses, mendapati begitu buaaanyak perubahan. Kini saya berlantang "betapa beruntungnya saya" hingga saya selalu mengingat wejangan dari seorang kakak yang baik hati, tentang seseorang yang tidak hanya dilihat dari mana dia berada tapi juga dilihat bagaimana dan apa yang dilakukan dalam prosesnya. Proses dari tidak ada menjadi ada, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengenal menjadi paham. 
Proses pencarian jati diri, dari seorang yang lalai menjadi seorang pemimpi besar, dari seorang pemalas menjadi seorang yang penuh semangat untuk bergiat, dari seorang yang kufur nikmat Allah-nya menjadi seorang yang penuh rasa syukur. “Itu jugalah hidayah Allah". Menghadiahkan proses bermakna untuk menjadi pelajaran hidup -bagi saya.
Ada proses transformasi yang terjadi ketika saya berada di tingkat 3, proses yang tentu saja dilandasi campur takdir Allah Yang Maha Pengasih. Proses yang mengantarkan saya menuju Allah. Kasih sayang, kehilangan, kecewa dan pengabaian yang saya alami berimbas pada cara pandang saya tentang hidup. Hingga Allah, Ayah dan teman-teman yang baik menunjukkan saya pada dunia yang bermakna. Adakah kamu mau tahu teman? Kuharap iya, karena saya teramat ingin menuliskannya sebagai memory kehidupan saya, Hmmm, lain halaman kelak saya akan bercerita tentang itu ya, staytune :)