Senin, 22 Desember 2014

-- Surat untuk Mamak --

Assalamu'alaikum,
Teruntuk Mamak yang teramat dirindu,

Hai, Mamaku, apa kabarkah? Semoga Allah Sang Maha Esa selalu melindungi Mamak ya.
Alhamdulillahh, kabar Adek disini baik-baik saja, hanya sesekali mungkin pernah merasa tidak baik, itupun karena sedih dengan kepemilikan rinduku pada Mamak.
Mamak juga merindukan Adek, kan? Alhamdulillahh, kesehatanku juga sangat stabil, tubuhku masih sesehat dulu, bahkan mungkin sudah lebih sehat dari yang Mamak bayangkan. Adek sudah pandai memasak loh, Mak. Walaupun masih terkadang saja, Adek lebih sering memasak sendiri di rumah, tentunya dengan ingatan cara memasak yang pernah Mamak tunjukkan. Meskipun, Adek juga yang akan memakan masakan itu sendirian. Aku tidak tahu apakah rasanya cukup enak bagi orang lain, tapi aku selalu melahapnya dengan senang. Oia, Mak.. jadwal makan Adek juga sudah seperti yang dulunya Mamak perintahkan. Sekarang aku akan berusaha untuk makan 3 kali dalam sehari, meski terkadang masih perlu menyesuaikan, karena setiap pagi Adek juga mencoba minum segelas susu. Pun begitu, Mak, maafkan Adek ya, sekarang Adek suka minum kopi, sejak aku pernah merasakan dejavu bahwa aroma kopi itu -seperti- harum tubuh Mamak. Hmm, terkadang juga Adek semakin sering lalai dan manikmati Indomie rebus berturut-turut dan melebihi dari rentang 3 hari. Tapi, Mamak tak perlu khawatir ya, Adek Mohon, jangan kecewa untuk hal itu, Adek akan tetap menjaga pola makanku agar tetap sehat.
Alhamdulillahh, kabar Ayah sudah lebih baik, katarak di mata Ayah sudah di operasi, benjolan di dekat telinganya juga sudah kempis. Hanya sesekali saja, Ayah masih merasakan ngilu akibat rematik di kaki dan pinggangnya. Itu hanya sesekali, ketika cuaca dingin. Adek juga selalu mengingatkan Ayah agar menjaga pola makan seperti yang Mamak lakukan dulu. Sekarang Ayah sangat sehat dan sibuk, seperti dulu juga, bahkan sekarang Ayah sudah bertambah gemuk saja. Mamak jangan pernbah merasa cemburun ya. Kami akan selalu mencintai Mamak. Pokoknya, Mamak hanya boleh percaya hal bahwa kami sangat mencintaimu, ya Mak!.
Alhamdulillahh. Bang Awi juga Abang Paisal lebih sehat juga. Mamak masih ingatkan, mereka sudah menikah. Bang Awi sudah memiliki Anak Perempuan, kata mereka dia mirip denganku. Namanya Jelita Atiqah Harahap, aku menggilnya Jeje, Mak. Dia benar-benar terlihat jelita, pesek dan terindikasi akan menjadi judes. Jika Mamak melihatnya sekarang, Mamak pasti sangat senang. Dia juga lucu, dia juga sudah semakin lasak ingin dituntun kemana-mana untuk menggerakkan kakinya yang seuprit dan sudah terlihat keras kepala, hehee sepertinya dia nantinya memang mirip aku.
Hm, Mamak gimana kabarnya? Gimana kabar Mamak di Surga, sih?
Aku sangat merindukanmu Mamak. Sejak 2 tahun lalu, aku sudah banyak merubah diriku, dari penampilan, cara berjalanku, cara belajarku, rutinitas dan juga prilaku mendasarku, Mak. Ya, walaupun meski tak jarang Adek masih sedikit malas mencuci pakaian dan melipatnya dengan rapi. Tapi Adek sudah mencoba dengan baik merapikan kamar, kok, Mak. Jika Mamak melihatnya sekarang, mungkin Mamak harus memberi Adek 8 ribu rupiah untuk membeli miesop Baruna. Hhm, aku jadi rindu, menikmati semangkuk Baruna bersama Mamak.
Sekarang rumah kita sangat sunyi. Kata tetangga, rumah kita seperti sangat sepi. Mereka juga rindu pada Mamak. Mereka rindu sapaan Mamak di waktu sore saat kita berjalan-jalan sepanjang gang rumah kita. Mereka masih saja bercerita tentang bagaimana caramu meminta bunga-bunga keladi untuk Mamak tanam di rumah kita. Ohiya Mak, maap ya, bunga teratai yang Mamak tanam waktu itu sudah tidak ada lagi, Bang paisal mencabutnya, katanya sudah tidak layak hidup lagi, tanahnya sudah tidak subur dan kondisi bunganya juga tidak elok lagi. Maapkan Adek ya Mak, karena masih tak termpil merawat bunga-bunga kesukaanmu.
Adek sekarang sedang menyusun skripsi, InsyaAllah tahun depan akan wisuda. Doakan Adek ya, Mak. Adek juga berkeinginan nantinya Mamak bisa berhadir dan kita bisa berpelukan dan berfoto bersama di papan bunga yang bertuliskan “Selamat atas Wisudanya”. Hm.. adek akan menyediakan tempat duduk spesial untuk Mamak. Walaupun nanti Mamak tidak berkesempat untuk duduk dan dilihat teman-teman Adek. Adek akan tetap menyediakan tempat itu.. untuk Mamak, selalu di dekat Adek.
Sekian dulu ya, Mak, surat Adek kali ini. Adek akan menulis surat untuk Mamak lagi, untuk mengabarkan segala kegitanku. Maap ya Mak, sebelumnya Adek tak begitu rutin mengirimkan surat untukmu, lagi. Mungkin sejak tahun kedua mu tiada, aku sudah semakin sibuk dengan ritinitas yang kukerjakan. Aku akan titip suart ini pada Allah, semoga malaikat (pasti) akan membantu menyampaikannya. Jika Mamak ingin membalas surat Adek, mampirlah saja ke selipan-selipan mimpiku. Aku akan selalu menunggumu, Mak. Hm, sekian ya Mamakku tersayang, semoga kuburmu selau menjadi taman-taman syurga yang selalu bercahaya dengan semerbak aroma kasturi.
Semoga Mamak senang membaca suart ini..

Wasalamualaikum..
Dari Anak mu yang sedang merenung rindu
Salam cinta dan rindu

Sri Rahmadani Harahap
_______________________________________________________________
* Al-fatihah kubaca sebagai perangko suaratku ini
surat di #22122013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar