Senin, 08 Desember 2014

Catatan Perjalanan Pulau Berhala: Hari Pertama, Sudah Jatuh Cinta #2

12/08/2014 01:58:00 AM 0 Comments


“Semuanya dimulai karena niat yang baik, insyaAllah dengan proses yang juga baik maka hasil yang didapatkan juga akan baik.” Saya pamerkan pemanasan qoute di pesan mandiri bbm saya. (5.12.14)

Dalam hati saya terus membathin, semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan menjadi asyik, semuanya akan sesuai dengan aturan main yang akan saya jaga. Semuanya akan dalam perlindungan Allah. Amiin.

Hari jumat siang, saya kabarkan kepada salah satu Tim Art travel, yang bernama Kak Mayda. Beliaulah yang jadi perantara dan perpanjangan niatan saya untuk mengikuti trip ini. Sebelumnya, saya juga sudah berkomunikasi dengan Kak Mayda tentang prosedur perjalanan, dari akomodasi sampai penginapan. Saya juga menyampaikan –seperti, membuat kesepakatan tentang batasan-batasan yang saya butuhkan, juga bantuan perjalanan menuju kesepakatan titik kumpul keberangkatan. Alhamdulillah, Allah mengenalkan saya dengan orang yang baik. Beliau bersedia untuk membantu.

Sekitar pukul 18.00 wib kami berjanji untuk bertemu di Simpang Km. 18, lebih tepatnya Kak Mayda menyarankan menunggu di halte dekat rumah sakit Latersia. Meskipun banyak keraguan, tetap saya sanggupi. Saya meminta tolong kepada tetangga saya yang memiliki becak agar mengantarkan saya dan tas bawaan saya ke tekape. 5 menit menunggu, Kak Mayda tak kunjung tiba. Singkat cerita, saya sampai di rumah Kak Winda –temanya kak Mayda- yang juga akan menjadi peserta trip ke pulau Berhala. Saya mohon izin untuk melaksanakan solat Magrib, selagi kak Winda dan Kak Mayda bersiap-siap dengan perlengkapan mereka.

Pukul 18.30 kami berangkat mengendarai sepeda motor menuju kantor Art Trevel di jalan Medan-Binjai KM 14,8 Diski. Kami transit sebentar untuk menjemput owner travel yang bernama bang Ari. Capcipcuz. Kami tancap gas ke Garu, daerah rumah kak Yun Cay. Mereka masih terlihat sibuk mempersiapkan alat tempur dan keperluan selama di pulau. Sedangkan saya? Entah kenapa sudah merasa ngantuk-ngantuk cantik. Untung saja saya masih ditemani dengan serbuan pertanyaan dari Ayah –tentu saja via sms- “dimana, Anak?; udah berangkat?; Berapa orang?; Siapa kawan-kawan, Anak?” Dan sms-sms gokil Ayah yang masih tergugu untuk percaya bahwa saya tidak mentiko. Haha. Ayah memang yang paling bisa.

Pukul 22.05 kami sampai di tempat kesepakatan titik kumpul, yaitu halte UISU Jln. Sisingamangaraja. Baiklah. Time is.... angkutan KPUJ akan mengantarkan kami ke daerah Sergei. Sebenrnya tak banyak tahu saya tentang lokasi persis pemberhentian kami nanti. Saya agak malas bertanya dan bersikap nyinyir. Pun karena saya memang masih terbawa kebiasaan manja untuk mengingat alamat (ini tidak baik). Kurang lebih waktu satu jam setangah saya manfaatkan untuk membalas kantuk yang sedari tadi memaksa saya untuk terus menguap. Getaran-getaran HP yang saya yakin berasal dari sms-sms ayah masih saya rasakan. Saya membahtin “Maafkan anakmu yang sedang mengantuk ini, Ayah”. 

Pukul 00.30 saya mendengar percakapan kak Yun Cay dengan Pak Sopir yang berseru bahwa kami sudah sampai di daerah simpang Bank BRI Sergei. Beliau menyatakan bahwa kami akan transit ke posko marinir. 
Posko Darat Marinir pulau Berhala

Sesampainya di posko darat marinir, barulah sumua wajah-wajah peserta yang ikut trip ini bisa saya hapalkan. Tentu saja, tidak dengan nama mereka. Proses perkenalan pun belum terjadi. Saya melihat rona kelelahan dan juga kecanggungan. Dan ada baiknya saya menahan diri sebentar. Setelah kak Winda yang telah lebih dulu saya kenali sejak pukul 18.00 tadi, tidak lama kemudian, saya mencoba menjajal perkenalan dengan peserta terdekat dengan tempat duduk saya. Dia memperkenalkan namanya sebagai Ayu, masih mahasiswa ekstensi S1 jurusan komunikasi di LP3i. Dia -yang saya pikir- pergi bersama temannya, bernama Yuli yang masih mahasiswa Analis kesehatan di Yayasan Rusdi dan juga seorang teman laki-laki mereka yang saya tidak tahu namanya. Kemudian saya juga langsung menyodorkan jabatan tangan kepada seseorang yang mengenalkan namanya sebagai Nisa, mahasiswa tingkat akhir jurusan konseling di Unimed. Nisa bersama dengan teman laki-lakinya yang memperkenalkan diri sebagai Nanda. Sebatas mereka yang masih wajar saya jangkau untuk berkenalan. Itupun karena usaha keras saya agar perjalanan ini lebih menyenangkan dengan orang yang baru saya kenal. Ada juga sepasang laki-laki dan perempuan yang sama sekali tidak saya ingat namanya sampai sekarang, menurut saya si perempuan itu lebih nyaman untuk menjaga jarak saja. Ada juga empat orang laki-laki –yang saya terawang sebagai jenis manusia pecinta alam. Dua diantaranya menggendong tas carrier yamg mungkin berkapasitas 60 liter. Haisshh. Dua orang lagi terlihat humanis dan santai. Kemudian seorang lagi, yang saya dengar dia memperkenalkan namanya sebagai Andre. Fix. Peserta seluruhnya berjumlah 14 orang ditambah 5 orang tim travelnya.

Kami diinstruksikan untuk beristirahat sekelak. Meluruskan badan yang mungkin agak pegal-pegal atau mengisi perut yang mungkin agak keram-keram. Kami di tawarkan cemilan khas para TNI-ers, mungkin ini yang namanya "Ransum". Rasanya persis seperti biscuit Roma tapi, iya ada tapinya. Teksturnya nyeletuk di gigi, alias keras banget. Sebenarnya bisa dikatakan rapuh tapi menurut saya teksturnya seperti biscuit yang terlalu kekar.


ada yang bekas gigitan :D
Perjalanan baru akan dilanjutkan pukul 4.00 wib dengan menumpang kapal nelayan yang juga akan digunakan para marinir yang akan bertugas di pulau Berhala.
Cap! Cap! Ayo kita berciap . . .

ceritanya lagi di kapal, emang iya, terlalu sadar dengan kamera  :D
Pukul 4.20 kami semua sudah anteng menempati lapak yang tersedia. Kondisi kapal nelayan ini lumayan juga, saya pikir kapal ini memang diperuntukkan untuk mengangkut para penumpang yang akan menyinggahi pulau Berhala, karena kondisinya tidak sekumuh yang saya pikirkan -tidak seperti kapal nelayan untuk menjaring ikan.

Selama di kapal, saya ingat baik-baik pancaran cahaya purnama yang teramat lantang dan cerah di malam itu. Lagi dan lagi, saya jatuh cinta dengan purnama di 15 hari hijriah. Bulan penuh, terang dan menawan hati. Kami semua berada dalam posisi senyaman yang bisa diciptakan sendiri. Saya segera memilih menggunakan pelampung yang disediakan dan membatasi lapak saya dengan tas yang saya miliki.
Saya benar-benar beruntung. Indah nian purnama saat itu. Saya berbaring berusaha meluruskan kaki, menghadapkan kepala ke langit. Saya hanya ingin memandang purnama yang bersyahdu riang dengan pantulan cahayanya. Benar-benar saya simpan dalam ingatan, bentuk megahnya, sinar cemerlangnya. Purnama yang mepesona.
Ketika fajar mulai menyingsing, saya periksa jadwal waktu sholat shubuh di BB saya, sudah pukul 4.49. Saya melaksakanan sholat shubuh di atas kapal. Tidak berganti posisi sama sekali. Karena takut oyong saya memilih tetap duduk dan melaksanakan sholat shubuh. Setelah sholat shubuh saya memilih melanjutkan tidur. Lumayan juga asyiknya, di atas kapal kami harus terayun-ayun ombak yang terlalu ramah menyapa. Degedek-gedek-gedekk.. Suara mesin menjadi alunan musik pengantar tidur. Lambaian angin senantiasa menampar sukujur tubuh. Syukur saja saya sudah melindungi tubuh dengan pakaian syar’i anti badai, jaket rusa kesayangan dan pelampung. Pokoknya aman dah. Dalam hati saya membathin tentang keraguan teteman saya yang tidak mau ikut perjalanan ini karena takut “berita sumbang” kengerian perjalanan 4-5 jam menggunakan kapal nelayan. Mereka mungkin beruntung sedang molor di kasur di rumah meraka, tapi saya lebih beruntung, molor cantik di atas kapal dengan ayaunan ombak dan belaian angin. Saya cinta alam semesta ini.
Ketika terbangun, sejauh mata memandang hanya ada air –dan tentunya para pesrta dan kru yang ada di kapal. Sekitar jam 8.30 wib. Dermaga mulai menampakkan wujudnya. Siulan dari anggota marinir dari arah belakang berkumandang. Saya tak mengerti apa maksudnya. Dari dermaga saya melihat beberapa orang –yang saya duga juga anggota pasukan marini- sepertinya siap membantu kami untuk menepi dan menjejaki dermaga. Alhamdulilah. Yey!! Sampai! 

penglihatan menuju dermaga
Saya berusaha untuk meluruskan badan yang agak-agak menahankan pegal dan keram. “Huaaaaaaaaaa... SubhanAllah indahnya alamMU ya Rabbi”. Bathin saya ingin berteriak, namun agak saya urungkan agar tidak terlihat terlalu norak. Sebenarnya saya juga sudah tidak tahan agar bisa jeprat-jepret berpose dalam kamera. Nasib akan berganti, saya memang tidak punya kamera canggih tapi teman-teman yang lain punya, kan?. Hahaha. Bukankah ada nilai plus jika ikut travel? Kita bisa tetap cantik (gak perlu repot mikirkan persiapan konsumsi dan perizinan dan bisa menikmati perjalanan dengan nyaman dan bonus full dokumentasi.) Haha.
Kami dikomandokan salah satu anggota marinir agar menampati mes marinir di pos 2. Kami pun diarahkan berjalan melewati bilah pasir putih pulau Berhala yang airnya masih surut. 

suasana mess marinir di pos 2

Pulau Sokong Nenek


pose pulau Berhala dari sudut kiri -dari pulau Sokong Nenek-
Aduhai, saya sudah jatuh cinta dengan pulau Berhala, total.
kaki yang sudah berjejak juga ingin eksis :D
Setelah meletakkan perlengkapan pribadi dan menentukan tempat tidur. Kami diberikan waktu free untuk beristirahat. Saya memilih langsung saja menghambur ke hamparan pasir putih. Duduk-duduk cantik di hamparan pasir yang lembab. Memenjamkan mata. Menikmati belaian angin, nyanyian alam yang teramat indah. Saya bersimpuh di pasir berusaha mengingat baik-baik agar menjadikan tempat itu sebagai kenangan yang menyenangkan.

 Saya perika hp, no signal (SOS). Oke, masalah sinyal baiknya dipikirkan nanti saja, terlebih alasan yang akan saya berikan kepada Ayah. Pukul 10.30 kami menikmati sepiring bubur kacang ijo, rasanya bertambah nikmat saja, karena memang keadaan perut yang sedari semalam merajuk kelaparan.
Kami masih diberikan free time. Bersama kak Winda, saya menyusuri pantai di sekitaran mess, menikmati suasana dan mengabadikannya dalam memori kamera. 


Beberapa teman lainya, menyenangkan diri mereka juga dengan pilihannya masing-masing. Kita free. Nisa memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaian, alasannya dia kegerahan. Empat orang abang-abang yang tadinya saya duga sebagai anak Mapala telah mempersiapkan tenda sebagai lapak mereka. Duhh, nenda di pantai? Asyiknya!.
Nyantai kayak di pantai, selow kayak di pulau. Pacakkan tenda!
**bersambung

Minggu, 07 Desember 2014

Catatan Perjalanan Pulau Berhala: Berlayar hingga Pulau Terluar Indonesia # 1

12/07/2014 03:35:00 AM 0 Comments
Bissmillahrirohmanirrhomim, semoga dalam penulisan catatan perjalanan saya ini dapat mendatangkan hikmah dan kekuatan yang baik. Amiin.

... "Ini adalah aksi kali pertama saya nekat jadi single traveler. Aksi kali kedua saya move-on "keair-airan" di 2014. Saya beruntung bisa nyasar sampai 3 x 24 jam ke destinasi seperti pulau pribadi".  *5-7Desember2014*

Wellcome to Berhala Island
 **Sekilas  Info**

       Pulau Berhala terletak di Selat Malaka, akan tetapi termsuk dalam wilayah Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Berhala diapit oleh 2 pulau kecil, yakni Pulau Sokong Nenek (pulau yang menyatu dengan pulau induk pada saat air surut dan memisah pada saat air pasang) yang terletak disebelah timur Pulau Berhala dan Pulau Sokong Siembang (Pulau yang berjarak ± 800 m sebelah barat Pulau Berhala).
       Rute perjalanan bisa melalui Medan, dengan menggunakan bus kemudian turun di jalan besar Sei Rampah dengan perjalanan sekitar satu sampai dua jam. Rute berikutnya adalah menuju perkampungan nelayan, juga bisa dengan menggunakan angkutan umum, ataupun ojek sepeda motor. Begitu tiba di lokasi, selanjutnya bisa menyewa kapal nelayan untuk menyebrang ke Pulau Berhala. Belum ada kapal penyeberangan khusus ke Pulau Berhala. Biaya sewa kapal memang cukup mahal, berkisar Rp 800 ribu–Rp 1,5 juta/malam. (sumber:medanmagazine.com) Sebaiknya, jika ingin ke pulau Berhala pergi bersama rombongan agar hemat biaya atau ikut proyek travel yang menyediakan perjalanan ke pulau Berhala. (Seperti pilihan saya)
       Di Pulau Berhala tidak ada penginapan khusus. Kalau ingin menginap di sana, sebaiknya bawa tenda sendiri, dengan istilah camping di pulau, Gan. Whuiis, keren!. Pilihan lain, ya, apalagi kalau tidak dengan cara menyewa mess marinir yang ada di Pulau Berhala. Pulau Berhala memang dijaga oleh pasukan marinir. Tentang kebutuhan makanan dan minuman. Sangat disarankan membawa sendiri, karena tidak ada yang menjual makanan dan minuman di sana. Kalau pun ada marinir yang berjualan, harganya, Gan. Harganya kena pajak 80%.
        Di Pulau berhala kita bisa melakukan kesenangan snorkeling, melihat penyu bertelur atau (jika beruntung) melihat penagkaran biawak dan trekking ke menara merceusuar dengan menaiki sekitar 1000 anak tangga. Kondisi pasir putih di pulau berhala juga sangat memanjakan pemandangan yang berpadu dengan jernihnya air laut. Pokoke muantep!! :)
**
 

Lima hari sebelum kenekatan terlaksana. Hmm, sudah jelas yang terjadi adalah kegalauan. Entah angin apa yang berhembus saat itu, ketika saya seperti terobsesi dan menjadi usil dengan perjalanan para backpacker orang-orang keren versi penilaiaan saya. Dan entah angin mana yang menjamu saya di malam itu, saat saya mendapatkan info dari grup Fb yang menyediakan destinasi paket liburan ke pulau Berhala,  bersama Art Travel. Bersebab dari flayer itu, saya langsung tersentak dengan ingatan bahwa saya pernah menuliskan daftar tempat wisata yang ingin saya datangi. Ya, Pulau Berhala. Tepatnya hampir setahun lalu, di 2013, saya berangan-angan bisa menjelajahi eksotisme pulau terluar RI tersebut. Dan akhirnya... there, I was !!

Tiga hari sebelum keyakinan saya yang masih terombang-ambing. Tentunya dengan alasan-alasan yang harus saya kantongi untuk perjalanan ini. Pertama, saya butuh izin dari orang tua. Saya pikir saya masih bisa mengurus ini dengan trik lawas yang selalu menjadi andalan saya, yaitu mengumumkan keberangkatan pada saat H-2. Kenapa? Saya paham karakter Ayah tersayang. Beliau sebenarnya asyik, tapi punya cara yang unik. Izin kepada Mamak, tentu saja, ditiap-tiap waktu sholat saya menyelipkan permohonan izin padanya. So, Pasti dongs, Allah Sang Maha Kuasa akan mengijabahnya. Kan, doa anak Solehah. Yang kedua, saya memohonkan izin kepada Murabbi saya, awalnya saya takut dengan rencana perizinan ini, kenapa? Karena saya tidak punya alasan mantap untuk melaksanakan syafar -yang hanya untuk berlibur- ini. Ehm, belum lagi dengan fakta bahwa saya akan menjadi single traveler yang sama sekali belum seorang pun yang saya kenal diantara para tim Travelnya, apalagi para pesertanya. Hasilnya, alhamdulillah, niat anak solehah memang mujarab. Izin saya dapatkan, bahkan beliau berpesan tentang oleh-oleh. What? Apa yang bisa saya bawakan dari pulau terluar RI. Mungkin selambar foto atau jika beruntung akan saya bawakan bebatuan karang yang unik –pikir saya begitu.
        
Hal sepele tentang alasan ketiga yang harus saya miliki adalah dengan siapakah teman perjalanan saya kali ini. Hal yang pertama terpikir yaitu para Ladies Solehah yang menjadi rekan saya dalam tiap-tiap kecintaan kami dengan pendakian gunung. Tapi saya tidak beruntung, mereka masih terlalu sibuk dengan aktfitas kampusnya dan tuntutan skripsinya. Baiklah, saya tidak mungkin memaksa meskipun sudah sedikit saya bujuk rayu dengan paksaan. Haha. Saya pun beralih dengan Ladies lainnya yang saya pikir mereka juga akan tertarik dengan promo yang saya pamerkan. ternyata, saya juga masih tidak beruntung, meski saya juga sudah merayu mereka. Alasan mereka begitu-begitu juga. “Wah, mahal tuh”; “Gimana perjalanannya, dengar-dengar bahaya naik kapalnya”; "Aku gak kenal tuh dengan travelnya, nanti bahaya”. Haduhhh, ribetnya pikiran manusia zaman sekarang ya (semacam awak jadi manusia zaman dahulu aja :D) . Saya pikir ongkos trevel seharga 350 ribu itu sudah cukup humanis di kantong sekelas penyandang freelence seperti saya atau juga bagi kantong mahasiswa yang gak norak dengan kebanyakan "gaya" aja. Tentang perjalanannya? Heloo.. Ente dengar-dengar dari siape? Udah yakin tuh apa yang Ente dengar-dengarkan adalah kebenaran. Buktikan dulu baru boleh menilai, baru ngomong. (kayak Aye begini? haha).  Nanti bahaya, karena gak kenal dengan trevelnya? Hmm, ini agak bisa diterima juga sih.. tapi, sudahlah, dimana kepercayaan diri kalian, mana jiwa adventure kalian temanss!! (Lantang saya sok-sokan diplomatis)

Satu hari sebelum finalisasi kenekatan. Hmm.. saya istikhoroh loh! Mohon petunjuk dan perlindungan dari Allah. Hasilnya?
"Oke. Saya Akan Berangkat!"
..Yakin sendirian, eluh Yik?
"Iye, Allah beside me, guek kan anak solehah, pemberani dan keren lagi. (haha)


**bersambung...

Kamis, 04 Desember 2014

Namanya Naken, Si Cilik Penghapal Al-Quran

12/04/2014 12:31:00 AM 0 Comments

Suara adhzan Ashar mengumandang, ketika saya dan Rona (teman saya) sedang asyik menikmati mie sop yang menggiurkan. Sudah hampir dua jam kami duduk di kedai Baruna yang sudah terkenal seantero kota Binjai. Mungkin, dikesempatan lain saya akan berbagi cerita tentang nikmatnya mie sop yang konon sudah saya gandrungi sejak menjadi bocah. Panggilan azhan menggerakkan kami untuk bergegas menyelesaikan hidangan. Kami bersegera mendiriakn sholat dan memutuskan menyinggahi mesjid Ar-Rahman di daerah Tanah Tinggi, Binjai. Kondisi mesjid yang sudah hampir selesai direnovasi ini cukup nyaman dan bersih. Alhamdulillah, jamaahnya juga lumayan banyak.
Setelah membekali diri dengan wudhu, kami langsung bergegas dengan mukena dan posisi untuk mendirikan sholat. Pada saat itu, ada seorang ibu-ibu berkerudung hitam dan gamis berwarna biru dongker -yang saya pikir- bersama anaknya yang memakai kerudung dan gamis berwarna ungu. Sekilas kening saya berkerut dan kembali memperhatikannya, "sepertinya saya mengenali si gadis cilik itu". Setelah kami menyelesaikan 4 rakaat, telinga saya terpancing suara merdu seseorang yang melantunkan ayat Al-quran dengan selingan sahutan yang membenarkan bacaan dan tajwidnya. Sifat kepo saya terus menggoda untuk menoleh ke belakang. Lantas, sontak saja lengkung bibir gadis cilik itu mengembang. Dia tersenyum dengan sumringah, cantik dan bercahaya. Saya pikir tidak berlebihan mengatakannya, dia benar seperti itu. Saya berusaha mengimbangi ramah senyuman miliknya, tapi tak berdaya karena terpesona dengan cahaya yang dimilikinya.
“lagi setoran hapalan ya, Dek?”
“Iya, kak” Dia kembali tersenyum dan membuatku lagi-lagi tidak berkutik untuk berusaha mengimbangi santun senyumnya. Umminya datang padaku, menyodorkan tangannya terlebih dahulu untuk bersalaman. Dan aku kalah start -dalam hati saya masih terus berpikir seperti mengenali Ummi dan gadis cilik pemilik senyum itu. Mereka benar tidak asing, saya pernah melihat mereka tetapi....
“Ini anak saya” sahut sang ibu yang sambil mengingatkan untuk menyalamiku, seolah aku berarti bagi anaknya.
“Tadi, anaknya lagi murojaah ya, Buk?
“Iya, Alhamdulillah.. Sudah tambah hapalannya, sekarang sudah 9 Juz”
Aku bertakjim sambil membelalakkan mata dan sumringah yang kupunya.
“Maaf, saya seperti kenal, tapi... Adek siapa namannya? Tanyaku pada si gadis cilik yang sedang melihat Umminya.
“Nake... Kak”
“Hem, siapa dek, kok gak kedengaran?” ulang saya karena memang suara si gadis cilik sangat lembut.
“Naken dek.. Anak saya, mungkin Adek pernah lihat saat dia jadi finalis Hafiz Quran di Trans 7” jawab Umminya, memperjelas.
“Ahh iya, ingat. Saya juga nonton itu sewaktu Ramadhan kemarin, bu.. sama temanya Kaifa, kan?
"Iya, Kak" kata si cilik dengan senyum yang membuatku cemburu.
“Wah, bisa jumpa di sini ya.. Adek tinggal di daerah sini? Rumahnnya dimana?” serobotku dengan pertanyaan.
“Di Sukaramai, Kak”
“Hah? Disana?”
Dia menjawab dengan anggukan kepala yang sangat polos dan elegan.
“Mau ya foto sama kak? Kakak terkadang agak suka narsis juga dek” candaku karena teringat sifat norakku. Dia lagi-lagi menjawab dengan anggukan kepalanya saja. Saya persiapkan hp dan menugaskan Rona yang sedari tadi juga bersama kami. Dua kali suara blitz kamera menyala. Rona menyerahkan hp dan ikut menyalami si gadis cilik. Aku berterimakasih padanya, sambil menyentuh pipinya yang lembut dan putih dan ku katakan:
“Subhanallah, semangat terus ngapalnya ya dek.. Semoga hapalannya bisa terjaga selalu sampai 30 Juz”
“Amiin. Iya, Kak. Terimakasih” jawabnya dengan anggukan kepalanya lagi. Sambil melihat posisi Umminya yang sudah menunggu di pintu mesjid, menunggu anaknya, seperti membiarkan bahwa anaknya memiliki fans yang norak sepertiku.



  Pertemuannya sudah selesai. Mereka –ibu dan anak- itu tersenyum dan “izin” untuk pulang lebih dulu. Sedangkan, saya dan Rona masih melanjutkan perbincangan.
“Emang kenal kau sama dia, Yik?” tanya Rona.
“Iya Ron, tahu, aku lihat di di TV. Aku memang penasaran tadi, sebelum kita ngobrol sama orang itu. Seingatku si Naken itu memang gak dapat juara, tapi dia memang beneran kerennya”
“Iya ya, aku pun heran, gimana caranya kok bisa kuat ngapal Al-quran. Entah la, yik, aku bacanya aja megap-megap". Curhat Rona lagi.


Aku terdetak dalam hati.
“Lahh.. Ron, aku juga begitu. Itu makannya aku jadi norak tadi, karena apapun ceritanya aku kagum sama-orang-orang yang bisa menghapal Al-Quran. Apalagi anak seumuran si Naken itu, gak kebayang aja aku nanti cerdasnya (baca: Naken) kalau udah dewasa. Terus belum lagi dipikir-pikir betapa keren dan disiplin orang tua yang menjadikan anaknya menjadi seorang Hafiz Al-Quran. betapa beruntung orang-tuanya (meskipun mungkin saja si Naken yang beruntung dididik sama Mamaknya- sampai begitu-). Anak berumur 9 tahun, sudah hapal 9 Juz Al-Quran. SubhanAllah. Belum lagi si Musa yang jadi hafiz Al-quran, 29 Juz menuju 30 Juz di umur 5 tahun. SubhanAllah.
Apa yang harus saya katakan lagi? Dalam hati saya membathin. Berkaca pada diri sendiri yang terlampau dhoif. Dari mana datangnya hikmah jika kita tak hendak untuk belajar. Belajar dengan kebersungguhan, dengan hanya mengharap ridho dan lindungan Allah, untuk menjaga diri dari kemampuan ilmu dan pengetahuan yang tidak bermanfaat –seperti ilmu yang tidak membawa barakah menuju bekal di akhirat-.
Apalagi, apalagi yang pantas saya pikirkan? Tentang mereka yang bermampu dan bergiat untuk kemampuan menghapal itu –bukan hanya kepada anak-anak dengan umur yang masih belia, tetapi juga kepada mereka yang telah berteguh dengan hapalan al-Qurannya. Sungguh saya menjadi manusia paling cemburu dalam hal menghapal. Sungguh saya manusia yang paling merugi dalam ketekunan mempelajari Al-Quran. Semoga Allah mengampuni saya. Semoga Allah membimbing saya untuk bermampu mempelajari Al-Quran. Semoga Allah membimbing saya untuk selalu mencintai Al-Quran. Semoga Allah selalu membimbing kita semua untuk lebih mencintai Al-Quran. Amiin
Salah satu, dalam hal keutamaan penghafal Al-Qur’an, terdapat riwayat dari Bukhari, no. 497 dari Aisyah dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:  “Perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menghafalkannya bersama para Malaikat. Sedangkan perumpamaan yang membaca Al-Qur’an sementara dia menjaganya dengan sungguh-sungguha maka dia mendapatkan dua pahala.”
Dalam Q.S Faathir 35:29-30: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."

#30112014
~Dalam Perenungan

Selasa, 25 November 2014

#Selamat Hari Guru

11/25/2014 07:43:00 PM 0 Comments


“Pada hari ini, SELAMAT HARI GURU untuk semua-semua yang telah menjadi guru dalam hidupku. Keselamatan dan salam ajaib akan kudoakan di sepanjang nadi. Terima Kasihku untuk semua guruku”.

Kata mereka, semua orang yang telah menjadikan dirimu menjadi lebih baik adalah GURU.
Baiklah, akan kuselesaikan perkara hari ini:

Pertama dan yang utama. Sebagai penyandang status manusia yang banyak gak tahunya tapi sok banyak tahunya, sebagai manusia yang masih terlalu haus dengan ilmu dan pengetahuan dari seantero jagad raya, sebagai manusia yang terlalu angkuh jika berani mengatakan aku sudah tahu, padahal apa yang kuketahui tak lebih dari setitik sel yang yang ada dalam metabolisme kuman. Ah, Ya Ilahi Rabbi, ampunkan kami yang belum sanggup sebaik-baiknnya menjadi “manusia yang mau berpikir”. Berpikir dengan ilmu dan pengetahuan hanya dari-Mu Ya Rabb. Berilah kami petunuk, kesempatan, sehat ataupun sakit untuk lebih memperbanyak usaha belajar, memperbaiki cara bersyukur, dan mengaplikasikan cara berikhlas untuk ilmu yang telah berkenan dalam otak dan jiwa kami. Amiin. (nb: masih mecari referensi buku Abu Sangkan yang berjudul Berguru Kepada Allah)

Kedua dan yang juga utama, kepada murabbi terkece sepanjang abad, tuntunan suluruh umat manusia yang dengan shalawat kami muliakan beliau. Allahummashollia’ala syidinna muhammad. Rasulullah salllalahualaihiwassallam ajarkan kami sedikit dari keseluruhan lurusnya ilmu yang ada padamu ya Rasulullah. Amiin

Ketiga dan yang juga menjadi utama, untuk Ayah Askolan Harahap dan Emak Nurlan Hasibuan yang “menjadikanku” seperti adanya sekarang. Sedari dan kusadari, 22 tahun yang lalu, sejak keberadaanku di rahim ternyaman Emak, sejak jantungku mulai dihadiri udara dunia, sejak kumengenal suara Ayah dan Emak, sejak kubisa merasakan sesuatu, sejak kubisa berbicara, sejak kubisa berjalan, sejak kuberusaha untuk pandai berpikir, sejak kuberusaha untuk pandai memilih sendiri, sejak kumenjadi sok kepandaian menentukan pilihanku.

Ketika aku pernah bertanya, “Pak, Mak.. apa yang harus aku lakukan untuk kalian? untuk Bapak dan Mamak senang dan tenang”. Emak hanya bilang, “lah, Nakku, doakan aja Mamak dan Bapakmu ini setiap-tiap hari. “Doa seperti apa yang Mamak mau, Mak?”. “Doakan sajala, Nak, yang baik dari yang terbaik. Supaya Adek jadi anak solehah, bermanfaat dan berpribadi yang baik, supaya nanti kita tenang dan bahagia sama-sama di dunia juga akhirat”.

Tumpahh rasanya ingatanku, bahkan saat aku meminta bocoran tentang doa-doannya selama ini, Mamak terlebih dulu memikirkan anak-anaknnya. Aku? Kupikir dulu begitu berat amanah itu, bahkan sampai sekarang aku sering ketakutan tidak mampu mewujudkan harapannya. Kemudain aku pernah juga bertannya, “Mak, Adek udah bisa jadi guru, Ndak ya?... Untuk pertanyaan ini, kutak bisa membagikan jawabannya. Emakku tak lagi bersanggup menyampaikannya kepadaku. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberiakan kesempatan agar aku bisa menjawab pertanyaan itu. Amiin

Selanjutrnya, wahai para guruku, sejak aku di taman kanak-kanak Taqriful Khair 1996-1998, Sekolah Dasar Negeri N0. 023904 tahun 1998-2004, SMP Negeri 1 Binjai tahun 2004-2007, SMA Negeri 2 Binjai tahun 2007-2010 dan UMSU tahun 2010-2014. Sebagaimana yang harus kusadari dan ucapkan, aku berbangga menjadi seorang siswa, meskipun ada saat-saat dimana aku tidak terlalu menyukai beberapa masa yang telah terlewatkan. Hingga kini, semua masih menjadi pelajaran terbaik yang berhasil kumliki. Hanya senafas rinci-rinci pengalaman yang kumiliki. Terimakasih untuk para guruku.

Untuk Umi Tahura Alauthiyah sebagai guru TK-ku yang mengajarkan banyak nyanyian dan cara-cara membaca iqro dan abjad, serta cara-cara berhitung dengan jemari, kekerahan lidi dan kelereng.

Semasa SD-ku:
Untuk Ibu Siti Raun yang telah menjadi guru yang lebih bersemangat mengajarkanku baca dan tulis, telah juga berusaha mengenalkanku dengan lebih banyak teman-teman yang memakai seragam putih-merah.
Untuk Almarhum Ibu Rosliana, mungkin saja beliau agak “kesal” mengajarkanku berhitung dan menghapal daftar kali-kali 1 sampai 6. Semoga Allah beri hidayah dan keselamatan akhirat untuk Ibu Ros.
Untuk Ibu Pardede,mungkin, jika teringatkan dulu dengan aksi “demoku” yang tidak suka diajarkan pelajaran IPA dengan caranya. Maaf bu, jika aku terlalu tengil saat menjadi bocah. Semasa SD kupikir IPA adalah pelajaraan yang menjadi rahmat ilahi bagiku, karena aku lumayam menyukai sains. Tapi entahlah memang suratan, aku begitu kecewa dengan yang kudapatkan, sehingga menjadikanku malas untuk mendalaminya. Ah, meruginya. Terlebih lagi aku sangat berusaha mengabaikan metematika yang pernah membuatku trauma dengan ponten 0 (NOL sebesar buku tulisku) yang pertama kali kudapatkan di kelas 4, penilaiaan dari Ibu Ismawati.
Untuk Ibu Ratna yang sampai saat ini masih begitu saja, konsistensi kaca matanya, kecantikannya, keramahaannya masih sama. Yang paling buatku heran, jika bertemu Ibu Ratna tidak pernah lupa dengan kepadatan pipiku, kegembulan badanku, dan keonaran-keonaran yang pernah kulakukan. Selalu saja, katanya semasa SD aku adalah ketua genk.

Semasa sekolah di SMP 1 Binjai
Untuk Pak PN a.k.a Permono, wali kelas VII1  , guru MP PKN yang punya ciri khas aneh yang buat kami senang untuk tertawa. Si Bapak memang lucu.
Unuk Ibu YS a.k.a Yulisfita, guru MP bahasa Indonesia yang juga menjadi walikelasku di VIII2   . Si Ibu dengan gaya dan karekternnya yang juga suka melucu dan bercerita.
Untuk Pak GW a.k.a Gunawan, guru MP Matematika yang lumayan bersahabat dan asyik untuk menghilangkan traumaku dengan matematika.
Untuk almarhum Ibu Sumarti, guru MP PKN yang juga menjadi walikelasku di IX1. Semoga amal ibadah Ibu diberikan tempat yang mulia di sisi Allah. Amiin
Untuk Ibu NB (kulupa nama aslinya), guru MP Kesenian yang pernah mengajarkan jahit-menjahit, dan menyulam
Dan untuk Ibu HN (kulupa nama aslinya) Si Ibu MP Biologi dengan khasnnya, hm... pokoknya agak aneh. Menjadikan pandangan sinisku terhadap sains jadi menyebalkan.


Semasa sekolah di SMA 2 Binjai
Untuk Ibu NH, guru MP Bahasa Indonesia yang dua tahun berturut-turut menjadi mentor berbahasa. Untuk Ibu Susi dan Ibu Waljinah yang juga MP Bahasa Indonesia yang oke-kece. Sejak saat itulah, karena mereka juga aku berdekat dengan “berbahasa dan bersastra”.
Untuk Pak Edy Herianto, guru MP Matematika, yang menjadi maskot walikelas XII IPA 1 yang paling gokil, asyik dan friendly kepada seluruh siswa.
Untuk Pak JS (lupa nama aslinya), guru MP Matematika yang entah apa yang harus kukatan tentang bapak. Namun, yang paling kuingat bahwa aku pernah mendapatkan nilai 80 saat ulangan matematika sub tema Peluang. Istimewa ya? Tentu saja, entah peluang seperti apa yang terjadi di hari rabu yang terik dan mencekam saat itu, aku menjadi satu-satunya manusia beruntung di kelas XI1 yang berhasil mendapat nilai aman yaitu 80, sehingga terbebas dari derita remedial mengerjakan 1000 soal dalam waktu tiga hari. Subhanalllah.

Semasa menjadi Mahasiswa di UMSU
Untuk Bapak Isman, M. Hum. sebagai dosen pembimbing skripsiku, kebanggaanku, idolaku selama kuliah yang kujalani di UMSU.
Untuk Bapak Anwar Sembiring, M.Pd. dosen MP PPI. Sosok Bapak sebagai pembakar jiwa-jiwa perubahan motivasiku, yang menulariku banyak pemikiran-pemikiran tentang para revolusioner keislaman. Great Top untuk Bapak.
Untuk Ibu Syamsuyurnita, M.Pd. sebagai dosen kehangatan yang banyak menyentuh hatiku.
Untuk Ibu Winarti Ransih, M.Pd. sebagai dosen inspiratif kesastraan yang pastinya banyak dicintai mahasiswannya. Andai si Ibu tahu, aku adalah mahasiswa yang merangkap sebagai pengagum rahasianya.

Ah.. andai juga aku lebih berbakat menyatakan maksudku, “terima kasihku” juga “hormat ajaibku” untuk semuanya, pada mereka yang juga telah tertulis dalam ingatanku, tentunya tidak hanya dalam guratan kata guru berkapasitas formal di jenjang pendidikan yang kulaksanakan. Masih, masih banyak lagi dan masih terlalu banyak yang ingin kusebutkan sebagai  guruku tapi karena pembatasan kesempatan yang terjadi, mungkin lebih baik kutuliskan kelak di kesempatan yang berbeda. Semoga menjadi kenangan terindah untukku kepada kalian yang telah mengajarkanku ilmu dan pengetahuan, menjadikanku seorang yang memilik pendidikan.

#25112014
Selamat Hari Guru  :)