Tampilkan postingan dengan label #ForumLingkarPena-SU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ForumLingkarPena-SU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Mei 2018

Netizen Medan Ngobrol Bareng MPR RI

5/01/2018 02:56:00 PM 7 Comments
Manfaat akan bertebaran dari segala penjuru jika kita berusaha dan menuju untuk itu.

Alkisah pada suatu hari yang tidak fana bertanggal 20 April 2018, aku dapat undangan selaku perwakilan komunitas Forum Lingkar Peda Medan untuk berkesempatan hadir bersama kawan-kawan komunitas Blogger Medan, nikmatnya Silaturrahim antar komunitas ya gini: bisa punya kesempatan yang beragam, apalagi kali ini agendanya kumpul-diskusi berfaedah yang digawangi lembaga pemerintahan sekelas MPR RI.

Yang menarik dari undangan ini bertajuk: Netizen Medan Ngobrol bareng MPR 

Sebagai sorang 'pemantau' lini masa yang selalu menyempat-nyempatkan selalu dalam jaringan menjadikan aku datang bersemangat. Menurutku, gelar sebagai warga net akan jadi lebih berfaedah jika dapat nilai informatif langsung dari lembaga kenegaraan, itung-itung untuk PDKT program kekinian Tuan-Puan yang Terhormat dalam menjalankan kerja lembaga negara. Jadi kan warga net jelatah -semacam aku- ini bisa lebih pede menghadapi kejamnya arus utama informasi yang menggebu-gebu.

Bertempat di Grand SwissBell Hotel Medan,  beberapa undangan ramai berkumpul di ruang Diammond Ballroom. Takjub. Ternyata yang berhadir bukan sekedar blogger-blogger medan saja, namun juga para penggiat media sosial dan perwakilan komunitas-komunitas di Medan.

Nuansanya semakin seru! Iya banget berkumpul seruangan dengan penggiat media sosial selalu buat kukagum sendiri, apalagi kesempatan berdialog santai dengan perwakilan MPR-RI.

Sesuai susunan acara pelaksanaan, narasumber adalah Bapak Ma'aruf Cahyono (Sekertaris Jendral MPR RI) dan Ibu Siti Fauziah (kepala Biro Humas MPR RI) dan dipandu Bapak Andrianto (Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi, Setjen MPR) -selaku moderator.

walaupun Bapak Ma'aruf Cahyono berhalangan hadir di Medan, acara tetap seru dan tetap berlangsung dengan baik.

Sebelum acara dimulai, tentunya diharuskan registrasi ulang untuk mendapatkan tas tangan eksklusif dan kaos keren berlogo MPR RI dan selanjutnya kami dijamu hidangan makan malam, sampai sekitar jam 19.30 acara dimulai dengan diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya. 

dan ternyata.. sama kita pahami dong kalau MPR itu merupakan lambang permusyawaratan rakyat. Lembaga ini berkedudukan serta memiliki kewenangan tertinggi yang pula sangat fundamental dalam upaya menciptakan suasana kondusif dalam kehidupan ketatanegaraan.

Yang saya pahami pada malam itu adalah misi yang dibawa perwakilan MPR RI tentang penguatan terhadap istilah 4P; Empat Pilar -yang kalau kita masih ingat, dalam pelajaran sekolah Pkn atau IPS yang sudah membahas materi dan tugas MPR sampai segala tetek bengeknya.

Ada yang masih ingat yang dimaksud 4P ?

agra kita sama-sama ingat lagi: untuk bekal menjadi warga net yang informatif, 4 Pilar MPR RI adalah :
1. Pancasila sebagai ideologi bangsa
2. Undang-Undang Dasar 1945
3. Negra Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
4. Bhineka Tunggal Ika.

Nah..

Prihal inilah yang diingatkan lagi oleh narasumber dengan pandu ingatan bahwa kita sudah dalam zaman arus informasi yang sangat kompleks. Begitu banyak informasi yang bisa kita dapatkan setali hanya dengan sekali klik. Tentunya kita harus berhati-hati melahap laman-laman informasi, baik berita online ataupun offline yang tersaji dalam media sosial. Pak Andrianto juga sempat menyinggung tentang problema Cambridge Analytica dan issue Facebook yang mengalami kebocoran data.

dan ternyata sesuai prasangka awal yang kuprediksi bahwa isi pembahasan akan didominasi diskusi yang serius dan membosankan itu terbantahkan.
mas MC dan Narasumber.
Dokumentasi: @PertiwiSoraya
Ibu Siti Fauziah dan Pak Andrianto yang dipandu dengan mas MC yang kocak -tapi kulupa nama beliau- tampil rileks dan bersahaja menyampaikan maksud dan tujuan diskusi malam itu, serta berhasil menanggapi segala tanggapan dan resah para nitizen Medan yang menyampaikan pendapatnya ketika sesi tanya jawab yang lebih mendominasi.

Pokoknya seru!
Foto Bersama seluruh undangan.
Dokumentasi: @BloggerMedan
Ternyata MPR kini sudah menggeliat dan banyak memandu sosialisai programnya dengan wujud aksi yang lebih membumi dan membuka diri untuk kesempatan yang lebih santai begini kepada para segenap perwakilan warga net Medan. 


dapat sertifikat gini dong :)


Dan tentunya, menjadi salah satu yang memiliki kesmpatan malam itu buat kumerasa sungguh bangga dan beruntung.

Perwakilan komunitas Forum Lingkar Pena Medan bersama Ibu Siti Fauziah.
Dokumenrasi: @pertiwisoraya 
Bersama Bapak Andrianto dan 'pejuang menjadi duta wikipediawan Bahasa Indonesia' korwil Medan :D
Dokumentasi: @pertiwisoraya 

Senin, 26 Januari 2015

Pertemuan Rutin FLP-SU Diajak Menulis Novel

1/26/2015 12:50:00 AM 3 Comments


Minggu pagi ceria, 25 Januari 2015 pukul 10.00 waktu orang Medan di rumah cahaya, saatnya kru FLPers berkumpul untuk agenda rutin mingguan. Agenda hari itu, mendatangkan seseorang yang mengaku ibu rumah tangga, entah biasa entah luar biasa. Beliau memulai dengan senyum dan tawanya yang renyah, serenyah peyek udang kecepe dengan sedikit sensasi rasa asinnya.
"Aduuh, grogi ah.. Malu saya, gak pede ah jadi pemateri"
Saya pun teringat dengan orang serupa, juga mengatakan hampir seperti itu. Ketika Ramadhan 2014 lalu, di seminar motivasi menulis yang bertema “Saatnya Jadi Penulis” yang diselenggarakan FLP Sumatera Utara di perpustakaan kota Medan. (ceritanya “dahulu kala” Awak belum jadi FLPers angkatan 6) :hoho.
“O, benar, beliau orang yang sama.”
Ternyata lagi lagi beliau menjadi pemateri tentang tips penulisan novel di hari ini. Kenapa beliau lagi? Kalau kata bang Roby: orang yang berhak menyampaikan hikmah (mungkin sebagai pemateri) adalah dia yang sudah mengamalkan ilmunya. Sip-markosip, udah cocoklah itu.
Beliau awalnya mengakunya sebagai ibu rumah tangga dengan dua orang anak, karena nggak ada kerjaan beliau menjajal dunia tulis menulis. Gak kepalang, sudah 9 novel yang lahir dari rahim kreatifitasnya. Diantaranya: Loving Twice (2008), Lilia di Negeri Akraland (2011), Winter Heart (2013), Benci Tapi Cinta (2014), Aku Selalu Ada Untukmu (2014), Keris (2014), Penunggu Gunung Salak (2014), LoveU (2014), Akulah Malaikat hatimu (2014) dan konon akan ada novel berikutnya yang sudah diproses penerbitan, dan ada pula lagi naskah-naskah yang masih “diasongkan” beliau agar menemukan jodoh penerbitan yang pas. Alamakee. Beliau adalah Mbak Ratna DKS.

Awalnya Mbak Ratna “sempat” ogah-ogahan memulai diskusi. Berkisah suhu grogi yang disampaikannya, Mbak Ratna malah berhasil menyampaikan harta karun bertumpuk-tumpuk dari pengalamannya menulis novel. Apa lagi? 9 novel itu menurut saya harta karun yang amazing.
“Gimana sih caranya, kan begitu adanya pertanyaan kita?”
Diskusi pun terjalin dengan tanya jawab dan konsultasi yang dilayani Mbak Ratna dengan santai. (Maklum kali ye? Pengalamannya udah nulis 9 novel loh!)
Mula-mula Mbak Ratna memberikan tips-tips mendasar dalam menulis novel secara tekhnis. Dibantu abangda Roby, slide per slide materi dibacakan dan dijelaskan. Ternyata Mbak Ratna memang lebih nyaman dengan proses tanya jawab, selayaknya ngobrol dengan sesama teman. Tentunya obrolan yang berisi: bagaimana sih caranya mulai menulis novel? Apa sih yang perlu dilakukan? Adakah tips-tips mujarabnya?
Baiklah -ers! Di sini saya rangkumkan apa-apa yang disampaikan Mbak Ratna tentang tips-tips memulai penulisan novel,
1. Pikirkan hal terliar atau pertanyaan yang pernah terbesit di dalam ingatan.
Seperti fenomena apapun yang berkeliaran liar dalam imaji-imaji tak terkendali. (Mbak Ratna memisalkan seekor kucing yang mitosnya memiliki sembilan nyawa)
2. Setelah itu mulailah kembangkan menjadi outline. (-diantara outline tersebut, bisa dipecahkan menjadi bab per bab –misalnya: si kucing berhasil berenikarnasi delapan kali, lalu yang ke sembilan dibuat tiga atau lima bab kisah untuk memperjuangkan nyawa trakhirnya)
3. Rampungkan outline tersebut menjadi rincian narasi atau dialog yang akan mengisi halaman-halaman naskah yan diimpikan.
Mbak Ratna menambahkan: satu-satunya cara untuk menyelesaikan novel adalah berkompromi dengan otak sendiri. Karena banyak penulis yang akan dengan mudah mengalami writing block, moody atau kesibukan yang menuntut. Salah satu tipsnya adalah perlakukan naskah yang sudah ada seperti mengisi teka-teki silang dan menyisipkan jalinan ceritanya sesuai outline.
4. Selanjutnya tinggal mengembangkan naskah, semisal setting, penokohan atau jalinan cerita. Tugas lainya adalah menggali informasi yang dibutuhkan agar bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang menarik. Seperti menghadirkan tokoh yang belum pernah dituliskan, content local atau issue oke.
5. Untuk teknik penulisan, baik EYD, diksi atau karakter tulisan dengan sendirinya akan terbentuk jika sudah rajin dan disiplin menulis. Ya jadi intinya itu.. bisa jadi tumpukan coretan asal-asalan kita, jika diolah dan dikembangkan akan menjadikan lembaran-lembaran novel yang diidamkan.
6. Dan tips terakhirnya adalah menjadi sabar dan gigih mencarikan jodoh untuk naskah novel tersebut. Mencari jodoh untuk penulisnya juga boleh #tsahh. Mbak Ratna berpetuah, fase tersebut seperti penggemblengan yang penuh misteri. Ya, namanya juga perkara jodoh. Kadang susah ditebak maunya apa. #eh

Suasana pun semakin meriah dengan pertanyaan dari kru FLPers yang hadir. Hal tersebut juga menjadi pemicu semangat Mbak Ratna untuk berbagi pengalamannya. Mulai dari penggalian ide tentang imajinasi-iamajinasi liar, fantasi, kreatifitas unik dan juga permasalahan penerbitan dan macam-macam penerbitan, SPP, kontrak penerbitan dan serta pengalaman Mbak Ratna “mengasongkan” naskah novelnya.
Diskusi pun dilanjutkan dengan simulasi langsung penulisan outline dan sinopsis novel oleh masing-masing kru FLPers. Sesambil waktu obrol-obrol, satu dua kru membagi ide-ide segar dalam khayali sinopsis bakal novel impiannya. Dan semuanya dibahas Mbak Ratna dengan detail, mulai dari ide cerita, tips pengembangan outlinenya, sampai sasaran penerbitan yang memungkinkan menjadi jodoh bakal novel yang dimaksudkan.
Sungguh pertemuann yang asyik. Dua setengah jam rasanya tak terasa hingga azan dzuhur berkumadang. Dikusi pun ditutup dan diselesaikan dengan seksama. Dilanjutkan dengan penyerahan cendramata untuk Mbak Ratna diwakilkan Kak Fitri dan foto bersama seluruh kru FLPers yang berhadir.
Diakhir kata sebelum Mbak Ratna pamit pulang dia berpesan, "Tetap rajin nulis, ya". Sayang saya eggak sempat bersalaman, padahal dalam hati sudah membathin: semoga resep meracik novel ala Mbak Ratna bisa ketularan untukku. Untuk kita semua.
(Yik)

Selasa, 25 November 2014

AKU, FLP dan MEREKA #2

11/25/2014 03:58:00 PM 0 Comments


Sepertinya saya harus bertanggung jawab dengan kisah AKU dan FLPers 6 yang ingin menyejarah

Asyiiiikkkk... sesambil senyum senyum cantik, gegap gempita saya sambut ketok palu terbitnya flayer “Open Recuitment Anggota Baru FLP SUMUT”. Dengan apresiasi bersemangat dan dengan bekal modem pinjaman, langsung deh.. download formulir, ngisi biodata, dan kirim langsung.
Pengiriman berkas beres. Nunggu-nunggu info lanjutan di tanggal 5 Oktober. Ternyata, Eh, pengumuman kelulusan berkas masih aman.

Selanjutnya proses seleksi tertulis dan wawancara dijadwalkan 11 dan 12 Oktober. Saat itu kan (deuuuh-,-) ... sebenarnya, saya dijadwalkan di hari Sabtu, tanggal 11 Oktober, sesi ke dua, di pukul 13.30. Malang benar saya (sedikit perjuangan yang dilebihkan). Lagi-lagi, saat itu, saya juga dalam posisi dilematun dengan jadwal, karena kesalahan teknis pada manajemen waktu yang pada hari itu amburadul. Hasilnya, saya tidak berkesempat hadir untuk sesi ujian dan wawancara. Menggalau-lah saya semalaman di malam minggu kelabu. Tidur tak nyenyak tapi makan makin lahap. Halaah.
Entah gimana mulanya, kok dapat ide untuk merayu panitia, dan lagi-lagi, Kak Putri berkontribusi “mengasyikkan” perasaan saya. Kesempatan kedua saya peroleh. Sesi ujian tertulis dan wawancara di hari minggu pukul 13.30. “Okelah, awak jadikan!” Namun yang terjadiiiiii  #nyanyi.... Lagi-dan-lagi, alasan klise emang, berpacu dengan waktu, bertaruh emosi pada supir angkot yang ..... aduuuuuh! (Sebenarnnya naik damri sih, tapi ya itu, tetap aja...... aduuuuuuh! hujan-hujan romantis jadi background perasaan saya. Sebenarnya memang hujan sih, deras banget malah.  Baju basah, sepatu basah, basah-basah-basah.

Sesampai di rumah cahaya udah pukul 14.00 aja , regitrasi ulang, dizinkan ujian dengan tidak ada tambahan waktu (sadar diri: siapa suruh telat, nikmatilah resikonya). Jadilah hasil centrang perenang dengan jawaban sekadar-kadarnnya. Jadi galau, merasa pesimis untuk lulus, diam-diam ajalah awak. Tapi, saat itu, sempat juga sih kenalan sama beberapa peserta perempuan yang juga lagi nunggu panggilan wawancara (esehh... diwawancara awak ahh). Agak lupa deh, siapa-siapa namannya, wajahnnya juga, dan sepertinya tidak saya jumpai lagi sewaktu inagurasi. Pada saat sesi wawancara. Kebagian giliran wawancara dengan bang Roby (Ahaiiide..Binje :D). Cerita propesionalitas dong, "Kenapa berminat daftar FLP, tahu FLP dari mana, mau ngapain di FLP, kegiatan, kesiapan berorganisasi dan kesiapan mengikuti inagurasi”. Saya sih yes, YES dan Oke". Pertanyaannya bg Roby saya “oke”kan. Setelah beres, bergegas dan pulang.

Jreng-jreeeeeeng. Kini tibalah... saatnnya kita kan inagurasiiiiii, huuuu   #nyanyi....
Sebelum inagurasi, kita-kita (yang katannya udah lulus seleksi berkas) harus hadir di rumah cahaya, tanggal 21 Oktober. Ngapai? Kurang ngeh juga sih, mungkin seperti temu rama-ramah gitu, pengumuman dan bahas proses akomodasi inagurasi, harus selesaikan tagihan. Oke, ternyata, dari 35 peserta yang dinyatakan lulus seleksi pertama. Hanya ada 29 peserta yang berkesempat mengikuti inagurasi (kok, saya kepikiran ya, sama 6 orang yang tidak berhadir inagurasinnya). Terlebih karena ada dua diantara 35 orang yang lulus, yang sudah saya kenal namannya. Ty Jihan: yang jadi rekan seangkatan di kampus dan Dek Azzam: yang saya kenal sewaktu belajar di Tadarus Sastra FLP.

31 Oktober-2 November 2014
Remainder:
Salam Pena, untuk seluruh peserta inagurasi anggota baru FLP angkatan 6 diharapkan berkumpul pukul 15.00 tepat, di Mesjid Jami' Sei Deli akan berangkat bersama menuju Pondok Cemara dan untuk yang berhalangan berhadir tepat waktu, silahkan berkumpul pukul 18.00 tepat di Rumah Cahaya.
deliver: 11.30. SMS dari Kak Putri FLP
*senyum semangat nak berangkat, packing udah selesai, perlengkaan pribadi selama 3 hari 2 malam, oke!.


Saat perjalanan, dalam Damri rute Binjai-Medan emang paling asyik curi kesempatan untuk tidur-tiduran. Modal meluk tas yang lumayan guede (untuk bantal kepala dan biar aman juga) sekitar 2-3 jam mungkin saya asyik dibuai damri yang melaju lambat di jalan raya. Masih dengan background suasana hujan yang menyisakan rerintik gerimis dan genangan air, saya diingatkan bang sopir karena sudah hampir sampai tujuan yang saya pesankan: kampus IBBI. Ketika saya lihat jam di handphone. HAHH?? jam 16.15?? belum sholat, dan belum sampe juga? astaga..... *nekuk kening*. Dalam pikiran, "pasti deh Awak di tinggal kloter 1". Ampuuun.... ehhh Ternyataaa.

Setibanya saya di Mesjid Jami' Sei Deli. Keberadaan angkot berwarna merah yang agak terlihat reot entah kenapa bisa menyegarkan mata, angkot itu sudah memasang sikap kuda-kuda untuk melaju dan berangkat. "Ehh..... sini siniiii.. aduhh lame ya." sambut Kak Putri. "Ayo segera Naik, langsung berangkat. Oke!”. Saya, dalam hati gak tenang karena belum solat, dan waktu sudah menunjuk pukul 16.40. "Ohhhmaii segeralah sampai"

--Di Pondok Cemara yang menjadi setting inagurasi angkatan 6 Forum Lingkar Pena Sumatera Utara.
Pembagian kamar untuk tiap peserta diumumkan di halaman Pondok Cemara, tentunya sebelum kami sembrono masuk untuk pilih lokasi sendiri. hehe. Nama saya, Sri Rahmadani terbilangkan dalam kelompok kamar 6 bersama .... saya tidak ingat sesiapa saja nama teman sekamar saya, hanya ada Kak Intan Mulina yang ternyata sudah masuk terlebih dulu dikamar 6. "Haii Kak, siapa kak namannya.. ya kenalan dong, masih mayu-mayu". Saya ingat kakak ini, sewaktu duduk bersebelahan dengan saya saat pembekalan di rumah cahaya. "eh, sekamar lagi?" Jodoh ini.
Tak lama setelah Magrib menjelang, kami kedatangan teman sekamar lagi. dia memperkenalkan diri sebagai Ulfa Hasibuan. "haah! ini dia ternyata orangnya. Saya sudah femiliar dengan namanya sejak ulang tahunnya di 2013". Ini ternyata Si Ulfa yang jadi teman dekatnnya teman saya. Hm, mulai sekarang bisa jadi temannya teman saya akan menjadi teman saya. Saya bilang lagi, "ihh, jodoh banget nih, Fa?" sambil ketawa minta persetujuan dengan gerakan "Give me Five."
Pembukaan Inagurasi oleh panitai di mulai ba'da Isya, kemudian lanjut materi sesi pertama: ke FLP-an, Visi dan Misi oleh bang Fadli Pratama. Cerita ini cerita itu, tanya dan jawab, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 kemudian panitia memberi suplay ingatan angin segar dengan menjanjikan agenda tukar kado akan segera dilakukan. Moment tukar kado yang di bungkus kertas koran dengan nominal harga minimal Rp 5000 pun terjadi begitu saja, hahah. Semua kado dikumpulkan dan diberi label nomor sesuai dengan kepemilikan sobekan kertas berisi nomor yang didapatkan setiap peserta. Saya dapat nomor 4 yang ternyata isinya gunting kuku. wah! :D

Sabtu pagi, di 1 Nopember, tepatnya pukul 4.00 wib pintu kami di ketuk dari luar. Ada Apahh? *gak pakai ekspresi lebay. Melaksanakan kebutuhan ruhani, kita-kita solat tahajud, lanjut tilawah sampai azan subuh berkumandang.
Yang menjadi memorabel pun terjadi, kami senam semangat. Iye, SENAM. Di pandu salah satu peserta  yang cukup meyakinkan dalam persenam-senaman. Seperti pemandu senam profesional.  
Pat Maa Namm Juhh, eaaakk... balas kiri Tu Wa Ga Pattt ....

Lanjutnya kami dapat jatah (*ceilehh jatah?) sarapan lontong kacang, enak bings. Isunya eksekusi kenikmatan lontong tersebut diketuain kak Kyo sebagai master chefnya.
Setelah sarapan kami diberikan waktu bebas sampai pukul 9.00 untuk lanjut sesi materi kedua: Ghuzul Fikr atau Perang Pemikiran oleh bang Anugrah Roby yang berlangsung mantap dengan pendalaman materi yang asyik dengan sesi tukar pendapat dan games sampan-sampanan, sampai waktu Dzuhur menjelang sesi kedua is over.
Sesi materi ketiga: Public Speaking oleh bang Sukma yang agak membukakan gagasan baru di kepala saya. Selepas Ashar kami kembali ke forum, sesuai instruksi pada instruktur bahwa kami harus menggelarkan pertunjukkan seni dan yang terjadiiii . . . kegalauan. Apalah artinya galau jika tak menjadi inspirasi dalam kreatifitas #tsahh..
Binggung ini bingung itu, masing-masing peserta sudah berada dalam kelompok yang sudah ditentukan panitia. Saya? Siiiie.. lagi dan lagi bersama dengan Ulfa bertakdir di kelompok 4 yang beranggotakan Safira, Sanah dan Pak Ketua. Tentang apa yang terjadi dalam proses kreatif memang menjadi mengasyikkan, alias kacau. Belum lagi penampilan saat pertunjukkan, kekeacauaan kami minimalisir dengan semangat yang saya katakan sama Ulfa, “udahlah Fa, hajar aja."

Waktu memang terasa berlalu begitu cepat ketika kita menikmati tiap-tiap detik yang terjadi. Pada malam minggu di Pondok Cemara #tsahh.. kami lanjut sesi materi keempat: Penulisan Non-Fiksi oleh Kak Nurul Fauziah. Berakhir di pukul 22.00 malam dengan bekal tugas yang harus dikumpul esok harinnya, yaitu meresensi buku. Oh iya, masih teringat oleh saya, nikmatnya puding berwarna ungu yang disuguhkan panitia. “Amboiii rasannya, suka Awak”.
Setelah kami kembali ke kamar, Saya, kak Intan Ulfa, Zizah dan selvi #eh Selli (dek Sel maafkan ingatanku yang tak cemerlang menyebutkan namamu dengan benar dekkk Selvi). Semalam suntuk kami bercecerita, saling bertukar penglaman, saling bertanya dan menjawab pertanyaan (yang berhasil mendekatkan rasa sayang dan peduli saya, ehm) dan tentunya sambil sekilas “berpura-pura” membaca buku untuk mengerjakan resensi yang tak kunjung mengilhami pikiran dalam bentuk tulisan.

Mungkin kami tertidur selama 2 jam saja, karena seingat saya, malam itu menjadi malam yang terlalu asyik untuk tidur lelap. Sedangkan jam 4 kami memang harus bangun untuk terus beraktifitas menuntaskan inagurasi. Ampuuuun... rasa ngantuknya di pagi itu, bertepat pula hujan-hujan mengundang. Gwt.
Show must go on, Setelah hujan mereda. Eaaaak.. senam lagi kita? Goyangkan kepala.. angkat tangan kanan.. Pat Maa Namm Juhh, eaaakk... balas kiri.. Tu Wa Ga Pattt ..... Dilanjutkan gemes seru-seruan yang berhasil mengusir kantuk tapi mendatangkan bencana kelaparan. Alhamdulillah, rejeki anak solehah, sarapan mie balab yang mancaaaap. Waktu sekitaran 30 menit untuk kembali ke forum menjadi tantangan, kami yang berdomisili di kamar 6 yang terdiri dari 5 orang harus membagi waktu seminimalis kewajaran di kamar mandi, plus dhuha juga. Aiih!!

Sesi Materi ke lima: Penulisan Fiksi oleh kak Fitri AB dan bang Cipta Arief. Berlangsung skimming tanpa proses tanya jawab, bersebab kendala waktu yang molor. Hm.. sesi dilanjut menuju pertunjukan seni. Sudahlah, semua yang ditampilkan sangat keren-keren untuk diingat, terlebih kelompok 4 yang nampil ngasal, untungnya pak Ketua bisa menggalokasikan strategi dengan apik, haha.
Siang menuju penutupan inagurasi saat itu, seperti langit tahu apa yang akan tejadi, ecek-eceknya perpisahan sementara. Lantunan nasyid dari Brother yang berjudul Untukmu Teman menjadi backsong yang mengharukan. Dipadu dengan lagu Doa Perpisahan, juga dari Brother.
Sambil bergandengan tangan, terdengar lirih suara-suara emas dari setiap peserta dan panitia, mendendangkan refrainnya:

Kini Dengarkanlah.. dendangan lagu tanda ingatanku.. kepadamu teman.. 
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu.. 
Kenangan bersamamu takkan kulupa.. walau badai datang melanda walau bercerai jasad dan nyawa.......

Seakan langit pun telah mengerti, ikut terharu dan terhenyuh dengan lantunan emas kami. Langit pun menangis. Menitihkan bulir-bulir air yang terlalu bersemangat bertumpah-tumpahan.

Huaaaaa . . .

untuk semangat menulis.. untuk semangat berorganisasi.. untuk semangat keislaman.. 
FLP...  BERBAKTI, BERKARTA DAN BERARTI...!!!

*The End- sambil dengar lagu Untukmu Teman by Brother*

Selasa, 11 November 2014

AKU, FLP dan MEREKA #1

11/11/2014 11:05:00 PM 0 Comments


Ini tentang kisah yang (sepertinya) akan menyejarah.
Tentang AKU dan FLP-ers
 

Diawali, dari getar-getir gejolak yang mengusik diri. Laksana anak itik yang tersesat dan tak tahu hendak kemana dia pulang. Sejak tahun 2012, saya kelimpungan mensyurve wadah partisipasi dan kreatifitas, layaknya organisasi yang memiliki azas dan pondasi yang menjadi sarana pembelajaran. Simplenya, saya membutuhkan pengorganisasian.
  
Getar-getir yang dimaksudkan diawal yang menjadi pembuka diatas jua, menjadi alasan kedua. Alasan pertama adalah karena saya terlena dengan kepercayaan bahwa menulis adalah sebuah terapi. Saya sadari dengan pikiran terbuka, saya butuh terapi jiwa yang ampuh dilakukan dengan kesenangan pribadi.
Wah, serius amiiit deh, kaaaayaknya.... Hahaha.

2012, saat saya masih di semester 3, teringat dengan dosen telaah puisi yang juga (tentunya) bergelut dalam sastra, novelis dan manusia modren independen bernama pena Win R.G. Usut punya usut beliau menulari kami (mahasiswanya) untuk (lebih) mencintai sastra, dengan pendekatan fiksi. Saya yang saat itu takjim, bak pemburu bersenjata internet, tergugah menjadi mata-mata dengan profesi stalking "ilmu" kepenulisan yang dijadikannya (read:dosen saya) wabah.
Akan sangat panjanglah kelak tulisan ini, jika saya memberanikan pendetailan kisah yang tersirat. Singkat kata cerita, beliau menyebutkan keorganisasian menulis, tentang kisahnya, dengan novel kesayangannya Ketika Mas Gagah Pergi  buah pikir Helvy Tiana Rosa yang menjadi pendiri forum kepenulisan, adalah FLP.

Saya stalking jejaring medsos, search FLP, sejarahnya, pondasinya, para pelakunya dan proses rekrutmentnya. Dan kecewalah saya.

Lohh? Kecewa?
Iyala, saya ketinggalan kereta.. Haha. Kereta tak berkuda.

Di 2012, Saya dan FLP belum berjodoh, saat itu, yang saya temukan akun fb FLP SUMUT.
“Saya mah, ternyata, udah ketinggalan info!”.

Saya memburu infonya (sekitar) bulan Oktober, sedangkan open rekrutment angkatan 5 dilaksanakan sekitaran Agustus. Jadilah, telat sudah, sunggingkan senyum.
"Gak papahlah, belum berjodoh, FLP, kutunggu rekrutan 6 nya!"

Waktu begitu bermakna, sampailah kita pada kisah tahun 2014. # apaansih maksudnya? :D
Getar-getir tak tersampaikan saat dua tahun lalu terkoyak kembali,
"kapanlah fLp itu open rekrutment lagi sih, sombong banget siamat! Buat penasaran aja."

Angin berhembus, sapa disambut.
Here we go..... mari, kita mulai dari “nol” lagi ya

FLP SUMUT mengadakan program rutin di bulan Ramadhan: Tadarus Sastra.
Saya pikir, agenda tersebut hanya sebagai pengantar dan sarana publikasi FLP, prosesnya seperti melakukan relaksasi dan pemanasan, tanggal 6 Juli 2014, terselenggaralah seminar motifasi menulis, gratissssss di Perpustakaan Kota Medan jalan Iskandar Muda. Temanya “Saatnya Jadi Penulis!” dengan tagline “Ramadhan ini, Kamu harus bisa jadi penulis!!”
*aiiihhh rancak banna, brosurnya, warna ungu..... aduuuuuh tergoda Awak :D

Berteguh, maju mundur tak cantik, saya ragu-ragu cantik untuk menghadirinya. Posisinya, saya dalam situasi semesta yang sangat tidak mendukung, mestikung.
Kegalauan dalam ingatan pribadi yang saya rasakan (sepertinya) tidak layak publis (Hahaaaha) *ah biasa aja* lagi sakit aja kok, dapat vonisnya sih, badan meriang ulalala karena efek tumbuh gigi graham, gitu. *HAH! Sakiiiitnyaaaa kebangetan*

Tapi, apa mau dikata, rasa penasaran dua tahun yang lalu harus dibayar dengan tidak boleh ketinggalan info lagi!
Saya hadiri acaranya, pematerinya bang Anugrah Roby dan Mbak Ratna DKS. Mengupas tentang trik-trik kepenulisan, yang menjadikan saya merasa kekenyangan.
 

*Trantang teruntung....

Acara berlangsung 2-3 jam, sampai si MC yang saat itu adalah Kak Putri dan Kak Nurul, yang membuat atmosfir menyenangkan. “Asyik!” karena merasakan pemantapan perasaan dari kosa kata tersebut, dan karena "ilmu asyik" itulah saya ikhlaskan untuk mendaftar, ikut Tadarus Sastra 2014.
Selanjutnya, terjadilah seperti seharusnnya. Acarannya seminggu. Saya ambil konsentarasi fiksi, disesi gelombang 1, tanggal 7-12 Juli 2014.

Malangnya, kesempatan saya tidak berjalan mulus, saya tidak bisa berhadir di dua pertemuan akhir, yang saya pikir yang sangat menentukan, seperti kelulusankah (?) Hahaaa, ya enggak la, saya melewatkan agenda buka bersama di penutupan Tadarus sastra, dengan alasan, pertimbangan waktu dan "keberanian" saya untuk pulang terlalu malam. Saya membayangkan dalam posisi, pulang di atas pukul 19.00 atau lebih dari medan (read: lokasi rumah cahaya), harus naik angkot kosong atau penumpangnya dominasi laki-laki, sendirian (tidak terlalu jadi masalah), dan lebih diperparah lagi dengan ketiadaan angkot. *Ohh itu sangat menyebalkan.

Alhasil, saya tetap tidak berhadir, dan tidak terciptalah kesempatan memiliki sertifikat Tadarus Sastra.. (Oiiih, Kak Putt, kekira sertifikatnnya masih bisa di klaim, gak ya?)

Kayaknya udah kepanjangan benget deh ini kisah, rada pegal nulisnyya. “_”
Lanjut deh... sesi keduannya
Ketika itu, terbitlah flayer 


"Open Reckrutment Angkatan 6" di akun Fb-nya Kak Nurul (Ketua FLP)

dann  besok deh, lanjut kisah ini, kisah yang masih berharap menyejarah dengan baik.