Minggu, 28 Desember 2014

[Resensi Buku] Napak Tilas "Anak Kedua" Tetralogi Buru

02.14.00 0 Comments

Novel Anak Semua Bangsa (doc.pribadi)
Judul               : Anak Semua Bangsa 
Pengarang     : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit        : Lentera Dipantara
Tahun             : 2006
Tebal              : 536


Anak Semua Bangsa adalah novel yang menjadi “anak kedua” Tetralogi Buru, racikan seorang eks-Lekra yang hangat dikenal dengan sebutan Pram. Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer sudah sepantasnya dijadikan Sumbangan Indonesia untuk Dunia; seperti yang tercantumkan di sampul belakang novel ini. .Adapun sebagai sebuah roman sejarah-fiksi, kisah yang disajikan bercita rasa seperti Nano-Nano; asam manis plus menyayat hati. Kenapa harus –bercita rasa, seperti- asam manis yang menyayat hati?
Pertama, karena sisi perbandingan dengan kisah yang dihadirkan “anak pertama” Pram. Dari Bumi Manusia yang mengisahkan akselerasi seorang terpelajar untuk mengenal dirinya sendiri dan berhubungan dengan sisi kemanusiaan yang sepantasnya tercermin dari pribadi seorang anak manusia. Jalinan benang merah yang tersambung memang tidak dapat dilepaskan begitu saja, walaupun secara konseptual, Anak Semua Bangsa masih sanggup berdiri sendiri tanpa bayang-bayang “anak pertama”. Hal tersebut dapat tersimpulkan dari pola penceritaan khas Pram yang mampu menciptakan kemandirian dalam Anak Semua Bangsa. Meskipun dengan gaya bahasa bebas dan mandiri dari masa kelahiran novel ini.
Di awal novel ini, Pram menjamu pembaca dengan kisah yang menguras emosi pribadi. Tokoh Minke yang sukses mendaur ulang surat-surat dari Jan Dapperste alias Panji Darman. Dia ditugaskan oleh Nyai Ontosoroh untuk mengawal dan mengabarkan kondisi Annelis –istri Minke- yang dibawa dengan paksa atas tuntutan wali asuh yang hanya terhubungan karena tali kekeluargaan di mata hukum.
Alasan kedua, karena roman sejarah-fiksi ini menjelaskan sisi lain sebagai tandingan romantika Minke, yaitu kontribusi kemampuan dan kemauan menulis untuk bangsanya, untuk kemajuan Pribumi. Tentunya, siapa yang tidak akan dibuat kagum dengan karakter seorang Nyai yang mampu memberikan perlindungan bahkan pengetahuan lebih mendalam bagi menatunya yang tamatan H.B.S; sekolah bergengsi pada masa kolonial. Seperti dalam satu paragraf dijelaskan, “Seluruh dunia kekuasaan memuji-muji yang kolonial. Yang tidak kolonial dianggap tak punya hak hidup, termasuk mamamu ini. Berjuta-juta ummat manusia menderitakan tingkahnya dengan diam-diam seperti batu kali yang itu juga. Kau , Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin. Akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Dan kolonial itu, kan itu persyaratan dari bangsa pemenang pada bangsa yang dikalahkan untuk menghidupinya?”.
Selanjutnya penceritaan paralel tentang penggodokan pola pikir dan kedewasaan seorang terpelajar -seperti Minke- yang mendapat teror tentang kekagumannya kepada Eropa, terlebih Revolusi Prancis. Kekagumannya kepada Eropa menjadiakan sosok Minke seperti kehilangan jiwa kemanusiaan dan harga dirinya sebagai anak kelahiran bangsa yang dijadikan tempatnya berhidup dan menghisap kenikmatan Hindia. Status pribumi yang disandangnya seakan menjadi dilema dikala pencitraan sebagai kaum terpelajar yang hanya mengagumkan ilmu pengetahuan milik Eropa.
Bak kisah hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bobroknya birokrasi yang telah sejak dahulunya, kembali tersaji dan menjadikan suhu pembentukan kultur dan karakter pribumi yang terdistorsi. Apa mau dikata, semua terjelaskan dengan begitu gamblang, seperti apanya apa yang terjadi dalam kaca mata Pram pada masa itu. Alur kisah yang mengalir menjadi kenang-kenangan hidup bagi Minke yang mulai disadarkan tentang yang didapatkannya dari bangku sekolah H.B.S menuju realitas ilmu dan pengetahuan yang tidak sampai diketahuainya. Yang tercetus dalam paragraf, “Dan untuk kesekian kalinya terpikir olehku: lulus H.B.S ternyata hanya makin membikin orang tahu tentang ketidaktahuan sendiri. “Sekolahmu itu belum lagi apa-apa...”.
Pembaca selanjutnya dijamu dengan penggalan kisah, Khoe Ah Su, seorang aktivis Angkatan Muda Cina yang sedang mengampanyekan nasionalisme di Hindia. Marten Nijman, redaktur SN v/d D yang mengecewakan Minke karena tulisannya diplintir untuk menjebak Khoe Ah Su. Hal yang tersadarkan oleh Minke itu, tentu saja menjadi realitas yang membuatnya kaget. Nyai Ontosoroh secara bijak menerangkan bahwa watak Eropa tak akan berubah; licik, penipu, jahat. Eropa yang unggul di ilmu dan ekonomi tapi cacat moral. Tentang kecacatan hukum dan pengadilan yang selalu menjadi kepentingan Kolonial, bukan kepentingan Pribumi. Dikisahkan tentang kejamnya administratur pabrik gula di Sidoarjo, bernama Plikemboh. Pram juga mengisahkan pertemaun Minke dengan Trunodongso dan sekelumit penderitaan kaum tani yang sedang diteror untuk memberikan tanahnya kepada pabrik gula. Kemudian dengan kisah pengalaman Minke yang terus mengalir sampai mendapatkan pengaruh liberalisme yang juga termaktub dalan novel ini, melalui kisah pertemuan Minke dengan Ter Haar, seorang jurnalis Belanda yang memaparkan semua kebusukan kolonial.
Seperti dijelaskan di awal, keseluruahn novel Anak Semua Bangsa sejatinya tidak hanya mengisahkan tentang romantika seorang Minke. Seorang yang terpelajar dalam menjalani kehidupan menulisnya agar mampu berakselerasi untuk menulis Melayu dan membangun citra Pribumi. Namun, dikisahkan juga babak keinsyafan Robet Mallema yang merintih ampun kepada Nyai Ontosoroh yang semulanya tak pernah diakuinya sebagai ibu. Robert Mallema harus berakhir dengan kematian yang akibat penyakit penanggungan dosa-dosa masa lalunya. Kabar kematian yang tidak pernah menjadi berita yang diinginkan seolah menjadi berita penawar dan ketentraman semantara atas nasib Boerderij Buitenzorg yang dibangun Herman Mallema bersama Nyai Ontosoroh sebagai istri tidak sah. Hasil korespondensi permohonan maaf Robert Mallema yang dikirim ke Wonokromo dijadikan saksi atas penjabaran kesalahannya di masa lalu, hingga pengakuannya yang mewariskan tokoh baru, hasil hubungan gelapnya bersama si pembantu genit yang bernama Minem. Tokoh baru yang berindikasi bisu tersebut dijadikan kartu joker oleh Nyai Ontosoroh untuk mempertahankan Boerderij Buitenzorg yang akan segera dirampas oleh ahli waris sah secara hukum dari keluarga Mallema. Meskipun sebelumnya ia telah kalah di depan hukum Eropa, Nyai Ontosoroh tetap melakukan perlawanan dengan kartu joker terakhirnya, yaitu berjuang dengan mulut. Sampai di akhir kisah, Pram menutup kisah “anak keduanya” dengan apik, selayaknya tersaji dengan cita rasa melegakan tenggorokan.
#OMOB (One Month One Book)
#FLP_SU
28122014

Senin, 22 Desember 2014

-- Surat untuk Mamak --

22.20.00 0 Comments
Assalamu'alaikum,
Teruntuk Mamak yang teramat dirindu,

Hai, Mamaku, apa kabarkah? Semoga Allah Sang Maha Esa selalu melindungi Mamak ya.
Alhamdulillahh, kabar Adek disini baik-baik saja, hanya sesekali mungkin pernah merasa tidak baik, itupun karena sedih dengan kepemilikan rinduku pada Mamak.
Mamak juga merindukan Adek, kan? Alhamdulillahh, kesehatanku juga sangat stabil, tubuhku masih sesehat dulu, bahkan mungkin sudah lebih sehat dari yang Mamak bayangkan. Adek sudah pandai memasak loh, Mak. Walaupun masih terkadang saja, Adek lebih sering memasak sendiri di rumah, tentunya dengan ingatan cara memasak yang pernah Mamak tunjukkan. Meskipun, Adek juga yang akan memakan masakan itu sendirian. Aku tidak tahu apakah rasanya cukup enak bagi orang lain, tapi aku selalu melahapnya dengan senang. Oia, Mak.. jadwal makan Adek juga sudah seperti yang dulunya Mamak perintahkan. Sekarang aku akan berusaha untuk makan 3 kali dalam sehari, meski terkadang masih perlu menyesuaikan, karena setiap pagi Adek juga mencoba minum segelas susu. Pun begitu, Mak, maafkan Adek ya, sekarang Adek suka minum kopi, sejak aku pernah merasakan dejavu bahwa aroma kopi itu -seperti- harum tubuh Mamak. Hmm, terkadang juga Adek semakin sering lalai dan manikmati Indomie rebus berturut-turut dan melebihi dari rentang 3 hari. Tapi, Mamak tak perlu khawatir ya, Adek Mohon, jangan kecewa untuk hal itu, Adek akan tetap menjaga pola makanku agar tetap sehat.
Alhamdulillahh, kabar Ayah sudah lebih baik, katarak di mata Ayah sudah di operasi, benjolan di dekat telinganya juga sudah kempis. Hanya sesekali saja, Ayah masih merasakan ngilu akibat rematik di kaki dan pinggangnya. Itu hanya sesekali, ketika cuaca dingin. Adek juga selalu mengingatkan Ayah agar menjaga pola makan seperti yang Mamak lakukan dulu. Sekarang Ayah sangat sehat dan sibuk, seperti dulu juga, bahkan sekarang Ayah sudah bertambah gemuk saja. Mamak jangan pernbah merasa cemburun ya. Kami akan selalu mencintai Mamak. Pokoknya, Mamak hanya boleh percaya hal bahwa kami sangat mencintaimu, ya Mak!.
Alhamdulillahh. Bang Awi juga Abang Paisal lebih sehat juga. Mamak masih ingatkan, mereka sudah menikah. Bang Awi sudah memiliki Anak Perempuan, kata mereka dia mirip denganku. Namanya Jelita Atiqah Harahap, aku menggilnya Jeje, Mak. Dia benar-benar terlihat jelita, pesek dan terindikasi akan menjadi judes. Jika Mamak melihatnya sekarang, Mamak pasti sangat senang. Dia juga lucu, dia juga sudah semakin lasak ingin dituntun kemana-mana untuk menggerakkan kakinya yang seuprit dan sudah terlihat keras kepala, hehee sepertinya dia nantinya memang mirip aku.
Hm, Mamak gimana kabarnya? Gimana kabar Mamak di Surga, sih?
Aku sangat merindukanmu Mamak. Sejak 2 tahun lalu, aku sudah banyak merubah diriku, dari penampilan, cara berjalanku, cara belajarku, rutinitas dan juga prilaku mendasarku, Mak. Ya, walaupun meski tak jarang Adek masih sedikit malas mencuci pakaian dan melipatnya dengan rapi. Tapi Adek sudah mencoba dengan baik merapikan kamar, kok, Mak. Jika Mamak melihatnya sekarang, mungkin Mamak harus memberi Adek 8 ribu rupiah untuk membeli miesop Baruna. Hhm, aku jadi rindu, menikmati semangkuk Baruna bersama Mamak.
Sekarang rumah kita sangat sunyi. Kata tetangga, rumah kita seperti sangat sepi. Mereka juga rindu pada Mamak. Mereka rindu sapaan Mamak di waktu sore saat kita berjalan-jalan sepanjang gang rumah kita. Mereka masih saja bercerita tentang bagaimana caramu meminta bunga-bunga keladi untuk Mamak tanam di rumah kita. Ohiya Mak, maap ya, bunga teratai yang Mamak tanam waktu itu sudah tidak ada lagi, Bang paisal mencabutnya, katanya sudah tidak layak hidup lagi, tanahnya sudah tidak subur dan kondisi bunganya juga tidak elok lagi. Maapkan Adek ya Mak, karena masih tak termpil merawat bunga-bunga kesukaanmu.
Adek sekarang sedang menyusun skripsi, InsyaAllah tahun depan akan wisuda. Doakan Adek ya, Mak. Adek juga berkeinginan nantinya Mamak bisa berhadir dan kita bisa berpelukan dan berfoto bersama di papan bunga yang bertuliskan “Selamat atas Wisudanya”. Hm.. adek akan menyediakan tempat duduk spesial untuk Mamak. Walaupun nanti Mamak tidak berkesempat untuk duduk dan dilihat teman-teman Adek. Adek akan tetap menyediakan tempat itu.. untuk Mamak, selalu di dekat Adek.
Sekian dulu ya, Mak, surat Adek kali ini. Adek akan menulis surat untuk Mamak lagi, untuk mengabarkan segala kegitanku. Maap ya Mak, sebelumnya Adek tak begitu rutin mengirimkan surat untukmu, lagi. Mungkin sejak tahun kedua mu tiada, aku sudah semakin sibuk dengan ritinitas yang kukerjakan. Aku akan titip suart ini pada Allah, semoga malaikat (pasti) akan membantu menyampaikannya. Jika Mamak ingin membalas surat Adek, mampirlah saja ke selipan-selipan mimpiku. Aku akan selalu menunggumu, Mak. Hm, sekian ya Mamakku tersayang, semoga kuburmu selau menjadi taman-taman syurga yang selalu bercahaya dengan semerbak aroma kasturi.
Semoga Mamak senang membaca suart ini..

Wasalamualaikum..
Dari Anak mu yang sedang merenung rindu
Salam cinta dan rindu

Sri Rahmadani Harahap
_______________________________________________________________
* Al-fatihah kubaca sebagai perangko suaratku ini
surat di #22122013

#Selamat Hari Ibu

06.30.00 0 Comments
Pada sepertiga malam, angin membelaiku lembut di ambang jendela. Waktu itu aku tidak melihat bulan, mungkin saja awan terlalu bersemangat berkumpul menyembunyikannya dariku. Angin seperti memberi isyarat, salam rinduku telah diterima.
Kala bersimpuh sampai sujud shubuhku, hadiah Al-fatiha menjadi persembahanku untuk sang malaikat tak bersayapku.
 Selamat Hari ibu, Mak. Inilah, aku, anakmu yang begitu beruntung terlahir dari rahimmu yang super duper keren. Karena Allah, anakmu sangat mencintaimu. Terimakasih tentang kasih sayangmu dahulu. Terimakasih tentang cintamu padaku. Terimakasih tentang canda goda yang sering kita peraktekkan. Terimakasih tentang perintah dan nasihat yang Mamak hadiahkan. Tentunya, Adek selalu rindu tumis semur kerukan pepaya yang kusebut Spageti buatan Mamak. Adek rindu gulai ikan gembung acar pedas ala Mamak. Adek rindu tatapan gerhana Mamak. Adek rindu bibir Mamak.
Ah, seperti, kesemuanya sekarang begitu memilukan untukku, Mak.
Semoga Allah menyatukan kita dan keluarga di syurgaNya. Amiin.



#Selamat Hari Ibu, Mak
#22122014

Kamis, 11 Desember 2014

Catatan Perjalanan Pulau Berhala: GoodBye.. dan Aku Pulang #4- Selelsai..

00.23.00 0 Comments


Saya tidak bisa bohong, kalau saya memiliki beberapa persen jenis ketakutan, terlebih kepada hal-hal yang tidak normal. Mungkin bisa saya perjelas ketidaknormalan saat itu adalah situasi ketika saya merasa benar-benar takut dengan segala hal gaib yang -mungkin- bisa terjadi. Oke, akan saya perjelas lagi. Saya sangat takut dengan kesendirian di tempat asing, belum lagi dengan adanya istilah hantu-hatuan si belau ini atau itu, yang sedari kami datang sudah diperingatkan oleh Pak Marinir yang mengantar kami ke Mess Pos 2. Kami harus terus berhati-hati di pulau ini. Iya. Saya mengerti tentang menjaga sikap. Menjaga sopan-santun kepada sesama manusia maupun kepada alam, tapi iye.. tetap aja.. kalau kepada istilah lain yang tadi saya sebutkan tentunya saya gak punya kuasa untuk mengertinya.

Pukul 4 malam, perut saya merasakan sesuatu yang tidak nyaman, seperti perasaan ingin mengunjungi toilet. Apatah mau saya katakan, saya tak kuasa jiwa dan raga menuju toilet seorang diri. Bahkan dari hari pertama, siang dan malam saya selalu bermodus, jika ke toilet selalu bersama dengan Nisa. Saya lihat kondisi teman-teman di kamar masih pada mulas, eh pulas maksudnya. Saya yang mulas. Agggrhh.. saya binggung siapa yang harus saya andalkan untuk seruan: “awas aja ko kalau malam-malam mau ke kamar mandi”. Kalau di rumah sendiri sih berani, nah ini, bukan rumah guek. Hikss. Membangunkan Kak Mayda, rasanya gak tega, begitu juga dengan kak Winda. Haish! Ternyata saya harus bersabar, sampai sekitaran jam setangah lima. ketika Kak Winda terbangun dan juga nyesak, haha. Alhamdulillah, ada kawan Adek ke kamar mandi. Setalah kegalauan tadi, saya sekaligus bersih-bersih badan dan berwudhu. Kemudian saya mendirikan solat Subuh. 
Sunrise Mnakjubkan :)
Kak Winda dan kak Mayda sudah menghambur ke pantai. Iya, menunggu moment sunrise. Beberapa teman lainnya juga sudah bangkit dari tidurnya. Saya, Kak Mayda, Kak Winda, Nisa, Murni dan Bang Andre sudah stand by dan bernarsis ria dengan kamera. Dan Bang Ari yang bertugas sebagai photografernya.
Narsis, tetap :D
gaya sisir :D
Alahmakjangggg... satu lagi keberuntungan saya di hari ini. Menyaksikan sunrise yang sangat bersemangat. Sangat memesona. Sangat mengagumkan. MasyaAllah, sulit rasanya untuk mengungkapkan hal yang lebih indah lainnya. 
Mungkin sampai sekitaran pukul 8 pagi, kami masih terus asyik melangsungkan sesi-sesi pemoteretan kacangan. Haha, sebagai ajang narsis yang tak terhindarkan. Pukul 8.30 sarapan sudah terhidang, mie balap karya Kak Yun Cay yang nikmat ditambah kerenyahan kerupuk udang. Setalah sarapan, agenda bebas masih diberlakukan. Sempat tertangkap oleh kamera bang Ari, sepasang komodo sedang bercengkrama.
masih aman, mereka jauh kok :)
Dan pilihan kebersamaan yaitu melanjutkan snorkling, tapi di sekitaran dermaga. Konon kondisi disana lebih asyik, terumbu karangnya lebih beragam dan mudah terlihat koleksi ikan-ikan kecil yang cantik-cantik. Sayang kesemuanya tidak dapat terabadikan dalam kamera, karena kamera underwaternya sudah lowbet. Hikkss. Padahal saya ingin menjajal pose di bawah air lagi. Kondisi trumbu karangnya memang lebih baik. Saya menemukan bulu babi yang bersembunyi di balik-balik karang. Masih berkondisi dengan pelampung yang "stay on" di badan. Saya sudah keciprat-keciprit di air. Merasa begitu-begitu saja, kami memutuskan untuk naik ke darat dan kembali ke Mess. 

Ternyata, pukul 10 –kata Bang Ari- kami akan seru-seruan lagi. Nagapin nih? Ya seru-seruanlah. Di sekitaran pulau Sokok Nenek, kami bermain -geme urunan terpanjang, geme cepat tampung air dan yang paling seru geme raja dan ratu Pulau Berhala. Kami terbagi 4 kelompok yang berisikan 4 orang. Saya bersama Ayu, Nanda dan Bang X (gak tahu namanya). Kami ditugaskan mendandani ketua kelompok sekreatif kejadian untuk menjadi pemanangnya. Dan hasilnya adalah.... 
kami, juara dua mengusung tema: Ratu Timur Pulau Berhala :D
para kontestan raja dan ratu pulau Berhala
Pemenangnya adalah kelompok Kak Mayda yang mengusung tema Sangkuni Mahabarata. Keseruan pun berakhir sampai siang hari yang mulai terik. Kami kemabali ke Mess untuk bersiap-siap makan siang dan persiapan cek out dari pulau Berhala. Sesuai kesepakatan kami akan dijemput pukul 2 siang nanti. Pukul 12 siang, kami menyantap makan siang, berlauk ayam semur dan tumis buncis yang aduhai. Setalah itu saya tunaikan solat zuhur dan menjamaknya kembali dengan ashar. Kemudian beberes dengan barang bawaan. Serta tak lupa saya, selipkan dalam tas, berupa oleh-oleh kerang-kerang yang unik.
Segera kami cek out dan harus menuju dermaga. Mungkin waktu sudah menunjukkan pukul 2. Ternyata benar saja, kapal sudah menunggu di sudut dermaga. Apatah lagi dikatakan, kami harus menumpuh perjalanan bertangga dari dalam pulau, karena kondisi air laut sudah pasang dan tidak memungkinkan melewati bilah pasir seperti saat awal kedatangan kami. Benar saja lelahnya, mungkin sekitaran 300 anak tangga harus kami hajar, dengan barang bawaan yang amboiii.. beratnya.
Sampai di dermaga, nafas sudah ngos-ngosan, kaki udah lemas. Tapi, masih harus disempatkan berfoto di gerbang dermaga pulau Berhala. Hajar ajaaa... haha
GoodBye~ Berhala Island:)
Pak Marinirnya nyinyir banget, beliau gak asyik diajak kompromi, lagi asyik berfoto kami udah dibentak-bentak untuk segera naik kapal. “Yaela pak, maklum dikit ngapa sih” celetuk bang Ari yang keluar suara.
Say Good By untuk pulau Berhala, kami pulang ya.. terimakasih telah membagi kesenagan dan pesona indahmu. *lambaikan tangan*
Kami sudah di kapal yang di tutupi terpal biru, semuanya anteng, menentukan lapak masing-masing, bersiap untuk molor...
Sampai sekitaran pukul 5.30, daerah perkampungan nelayan sudaah terlihat. Terpal biru dikapal sudah dibuka, kami disuguhi suasana sore yang mendayu-dayu di atas kapal. “Sayang kita gak dapat sunset lagi dari kapal ini” kata Kak Yun Cay. Hmm.. "iya juga, tapi kenangan dan euporia sunset kemarin belum juga bisa tergantikan". Pukul 6.00 kami sudah stay di posko darat Marinir. 

Masih sempat mengabadikan aksi narsis yang lagi-lagi tak terhindarkan. Saya bahkan sampai berusaha untuk meminjam tas carrier sebagai properti yang kemudian nanti akan saya azzamkan sebagai doa: memiliki tas carrier sendiri. Amiin.

Setelah magrib menjelang, saya mendirikan solat maghrib. Kemudian bersiap dan bergegas menuju bus KPUJ yang sudah menanti. Oke. Pukul 7.30 kami betolak dari Tanjung Beringn menuju Medan. Yeahhh, trip pulau Berhala is over.
Bb saya mulai menemukan sinyalnya. Dan kemudian bergetar dengan bertubi-tubi. Apalagi? sudah jelas, sms dari Ayah dan serbuan bbm konkawan yang berseru bahwa saya jahat karena pergi sendirian. “Apa? Jadi Adek juga yang disalahkan lagi?” hahaha.

*SELESAI*

Selasa, 09 Desember 2014

Catatan Perjalanan Pulau Berhala: masih "stay on" #bagian 3

08.23.00 0 Comments
Terimakasih Ya Allah, alamMu ini sungguh indah, semoga bisa saya kunjungi lagi tempat-tempat lainnya lain yang juga seindah pulau Berhala ini. Amiin. (Doa saya ketika bermesra dengan angin yang syahdu)
 
Saya masih tak menyangka bisa mengunjungi pulau Berhala. Tentu saja bukan sebuah prestasi -hanya seperti loncatan kemampuan saja- atau bisa saya sebut kemajuan dari "rasa berani" yang saya miliki. Dan juga bukan berarti selama ini saya tidak berani untuk pergi agak jauh dari rumah. Memang rejekinya saya –mungkin- sebagai satu-satunya anak perempuan Ayah (paling bontot pula). Agar bisa mendapatkan izin keluar, sekedar jalan-jalan memanjangkan kaki -apalagi- hanya untuk berlibur bersama orang-orang yang tidak pernah saya kenal rasanya seperti mustahil. Dan yang terjadi? -Seharusnya- memang pantas saya menghitung resikonya, tapi setelah hari itu terjadi saya merasa lebih pantas untuk menghitung pembelajaran yang saya dapatkan dan tentunya pengalaman. Ayah mungkin tidak akan percaya dengan impian-impian anak perempuannya setelah ini atau mungkin juga Ayah akan tetap sulit melepaskan izin untuk impian-impian anak perempuannya –yang konon sudah bermimpi menjejakkan kaki di titik teringgi pulau Jawa-. Namun kepastiannya, saya akan mewujudkan impian-impian saya yang terselubung agar tetap konsisten dengan restu Orangtua, dari Ayah. Sebenarnya saya sedang merindukan Ayah. 
Saat memikirkan Ayah, saya sedang ngaso di pondok yang ada di atas pohon.  Dan dari atas pohon saya melihat teman-teman lainnya sudah turun ke air. Iya, mereka sudah berbasah-basah dengan riangnya. Perasaan saya pun tergugah untuk segera turun ke air, tapi masih ragu-ragu saja. Saya masih terlalu banyak berpikir tentang segala halnya. Begitulah resikonya, kalau sudah bertemu air memang harus basah, kan? Tapi... tentang bagaimana ini.. bagaimana itu.. masih tetap menjadi pertimbangan saya.
“Nisa mau kemana?” tanya saya kepada Nisa yang sedari tadi memang berada di atas pohon bersama saya.
“turunlah yok. Kita snorkling”
“Ohh iya yaa, snorkilng itu pasti asyik banget. Iya deh, nanti aja” jawab saya sekedar. Dan Nisa pun turun ke air juga bersama teman-teman lainnya. Mungkin tidak kesemuanya, saya masih memperhatikan semua peserta. Saya memposisikan diri sebagai orang yang tidak menjahui “kesosialan”. Bagaimana pun juga sekitar 2 x 24 jam lagi kami akan bersama di pulau terluar RI. Saya hanya berpikir tidak ingin terasingkan atau menjadi asing. Yuli, Ayu dan teman laki-lakinya memilih menggelar sesi pemotretan khusus di sekitaran pulau Sokong Nenek. Nanda, Nisa dan juga keenam teman lainnya (gak ingat nama mereka) sudah turun ke air.

Panggilan aroma dari santapan siang sudah memanggil-manggil. Memang sudah waktunya makan siang, pikir saya. Saya yakinkan diri dengan melihat jam (saya berusaha menghindari mempertanyakan jam dengan alasan saya tidak ingin memikirkan lamanya waktu yang saya habisakan di pulau ini) tapi tetap saja, kebutuhan dengan waktu sholat harus wajib dilaksanakan. All time, on time. Saya bergegas dan mendirikan sholat, sekalian saya jamak dengan waktu ashar. Setelah sholat, saya berkumpul kembali bersama kak Winda, Kak Mayda, Bang Andre dan Bang Aris yang sudah mengeliling meja kayu yang menghidangkan santapan siang kami. Ada gulai daun ubi, sambal ayam, dan sambal oseng teri tempe. Menggiurkan. Kami makan dengan lahapnya, bahkan saya tamboh (haha) memang keterlaluan osengan teri tempe Kak Yun Cay yang sangat memikat lidah. Begitu juga teman lainnya yang sudah datang merapat untuk menikmati santap siang.
“Kak Winda nanti turun ke air kak? Kakak, snorkling juga kah?" tanya saya.
..Iyala dek, siap makan langsung hajar ke air
“Kalau bang Andre, juga?" tanya saya sambil menoleh.
“Hmm, rencananya juga gitu. Jawab bang Andre.
(Halamakk.. gimana ya aku ini)
“Kapan lagi Dek snorkling, selagi di pulau Berhala loo, asyik tuh snorkling disana.” Rekomendasi dari bang Ari.
“Iye, masa udah di sini gak snorkling, selagi di pulau Berhala, ya dijajal semua keasyikannya, nanti nyesal lo, teringat-ingat terus.. nyesall.  Haha” tambah si Nanda.
Sebenarnya saya juga sudah mempersiapkan mental untuk pilihan turun ke air atau lebih tepatnya berhubungan dengan air-airan. Saya sudah menyewa pelampung sebagai jaminannya. Saya pernah kapok berurusan dengan air. Sewaktu perpisahan sezaman saya masih SMA, saya hampir saja tenggelam di sungai Bukit Lawang. Waktu itu kami seperti rafting, menggunakan ban yang berukuran agak besar sebagai peralatannya. Syukur Alhamdulillah, saya selamat, ada yang menolong dan sadar kalau saya sudah gagap di dalam air. Perut saya sampai kembung menelan air. Itu 4 tahun yang lalu, dan saat itu lokasinya di sungai. Saat ini kan saya sedang di pulau, dan ini air laut. Saya gak mungkin lupa, kalau air laut itu ternyata asin banget (haha) sudah saya buktikan karena mungkin saja hampir 5 liter air laut di pulau berhala yang sudah saya minum dengan sangat tidak sengaja dan terpaksa.
Sudah saya tepis ragu-ragu untuk turun ke air. Dengan pakaian lengkap “anti badai” dan ditambah pelampung, saya sudah berhasil nyungsep ke air. Meskipun masih terus ngapung –ya karena masih pakai pelampung. Teman-teman lainnya sudah menjajal pose masing-masing dengan kamera underwater bang Ari. Saya tentunya tidak mau ketinggalan. Setelah bernego untuk melepaskan pelampung dan meminta bantuan kak Winda agar terus mengawasi kondisi saya selama pemotretan di dalam air.
Akhirnya ...
di pandu dan di bantu kak Winda :D
Sok nyaaa aja itu :D
Setelah percobaaan beberapa kali dengan usaha gigih ingin berpose dalam air yang tak kunjung berhasil, akhirnya....
I'am ..... :D
Ahhh... rupanya saya sedang berenang (pakai pelampung), saya ingat dulu, semasa masih bocah, usaha saya agar bisa berenang hanya dengan mengandalkan pengajaran abang kandung kedua saya. Dulunya, beliau juga sering berlatih renang untuk menjaga bentuk tubuhnya di kolam Renang Tirta yang masih bertiket Rp 3000,. Dengan alasan agar tinggi badan saya bisa bertambah, saya sering memaksa agar diajaknya. Namun menginjak SMP saya menyerah dengan usaha itu, selain karena si Abang yang gak mau lagi ngajak saya, pun memang saya sudah malas untuk belajar berenang, karena saya tidak mau memiliki kulit seperti si Abang yang sudah menghitam. Gile aja. Masa nanti adek perempuan kalah putihnya sama abang pertama. Haha. Banyak ingatan yang saya bawa sampai ke pulau Berhala. Seperti kenangan yang menghadirkan kenangan lagi.

Yes, saya biaa membuktikan pada diri sendiri, bahwa saya masih cocok berada di air. Walaupun saya gak bisa memastikan kondisi saya selama main-main di air. Selain karena perut yang agak mulas dan mata yang pedih dengan keasinan air. Belum juga pikiran, ahh.. bagaimana dengan konsidi saya saat ini **. Sebisanya, dengan menggunakan pelampung, saya nikmati pengalaman “air-airan” di Pulau Berhala. Saya tetap berusaha tersenyum, dengan posisi tubuh yang mengapung memandang langit yang membiru cerah. Membathin dengan suara lirih “Terimakasih Ya Allah. Ampuni Adek selama ini, kalau memang Adek berdosa. Bukankah, laut ini, karunia dari alamMu juga. Lindungilah kami selalu.

"stay on"
keliling pulau Berhala pakai perahu karet
Dari arah dermaga, datang perahu karet bermesin, yang bertuliskan Marinir. Saya pikir perahu itu berfungsi untuk keperluan patroli di pulau Berhala. Karena asyiknya, saya lupa kesesuaian agenda dan fasilitas trip kali ini, tentang kami akan mendapat kesempatan mengeliling pulau Sokong Nenek. Ahhhh.. ternyata yang terjadi kami sampai mengelilingi  seluruh pulau Berhala. Berputar... keliling...

kondisi tangga menuju menara mercusuar
Setelah itu, kami juga menyesuaikan dengan dengan agenda, mengunjungi mercusuar. Huwow.. saya pikir inilah yang terasyik. Menara mercusuar ini letaknya di dalam hutannya pulau Berhala. Untuk mencapainya haus menaiki sekitar 1000 anak tangga. Bukan saya yang kurang kerjaan untuk menghitung jumlah anak tangga itu, tapi memang begitu kondisinya. Kata salah seorang dari kami, “trackingnya seperti menaiki tangga di Tongging”. 
“Ah masa iya? Serius?” tanya saya. Dan dia menjawab “entah juga sih. Aye belum pernah kesana. HaaaElakh.
walau ngos-ngosan tetap narsisss :D
di depan menara Mercusuar Pulau Berhala
Ternyata tujuan tracking ke menara mercusuar bukan tanpa rencana apa-apa. Melainkan dengan alasan, kami akan dihadiahkan pemandangan sunset.

masih menunggumu, sunset :D
Sunsetnya Oke :D
Yihaaaaaa.. teriak saya dalam hati dengan senyuman dan mata yang membelalak. 
Asyik asikk.
Sungguh, inilah sunset terindah yang pernah saya lihat dengan mata sendiri, di pulau Berhala (pula). Suguhan dari Sang Pencipta Seluruh Alam memang tak tertanggungkan. MasyaAllah. Dari bentuk sang matahari yang masih utuh di atas permukaan air sampai separuh menghilang dan benar-benar menghilang menuju belahan bumi lainnya. MasyaAllah, keterlaluan indahnya, pun dengan kemilaunya. Beruntung saya dapat mengabadikannya. Bersama teman-teman lainya yang juga mengantre untuk berpose bersama Si Sunset.
Sunset Terakhir, one:)
Setelah Si Sunset benar-benar bersembunyi, kami pun turun dari menara mercusuar dan kembali menuju mess. Pikiran saya sudah kelelahan dengan kenyataan seribu anak tangga. Hampir oyong. Kaki pun terasa lemas. Dalam hati pun saya membatin, “Kok iya, rasanya badan saya manja banget, gimana nanti kalau ada panggilan nanjak gunung lagi. Apa gak kacau awak nantinya. Huaaaa.. keram betul kaki Awak". 

Sesampainya di mess, terhidang pisang dan ubi goreng. Ya oma ya oma.. perut Adek memang lafarrr. Setalah icip satu dua tiga porsi ubi goreng, saya bersegera membersihkan badan yang sudah lengket karena keringat, juga air asin serta sisa-sisa pasir yang masih menempel di badan. Setelah itu sholat magrib dan juga menjamaknya dengan solat isya. Kemudian juga setoran tilawah.

Diluar, ternyata teman-teman lainnya sudah berkumpul dengan wajah-wajah yang segar –meski sudah menghajar 2 x 1000 anak tangga pada sore tadi-. Semuanya keren. Juga api unggun yang sudah menyala dengan maraknya. Semuanya masih menunggu selesainya sesi bakar-bakaran ayam dan ikan yang akan disajikan. Kak Yun Cay, Bang Aries dan Murni bertugas menjadi pengipas dan penjaga bara api. Kami para peserta hanya anteng, ada yang cerita-cerita, ada yang melihat hasil huntingan kamera. Saya? Gak ngapa-ngapain, bengong aja, mandang-mandang langit yang malam itu masih memamerkan cahaya bulan penuh yang memesona. Sangat memesona.   

Selesainya bakar-bakaran ayam dan ikan, kami pun menikmatinya dengan lebih lahap. Selesai makan? Apalagi yang harus dilakukan? Datanglah -faktor X- yang mempengaruhi. Mengantuk? Iye. Meskipun ini tak biasanya terjadi, perkiraan saya waktu masih menunjukkan pukul 9 malam, tapi mata saya sudah berkapasitas 5 watt saja. Gak pakai kompromi, saya segera mengundurkan diri dari kebersamaan. Ayu dan Yuli juga. Sedangkan teman-teman lainnya mungkin menikmati malam dengan game tebak lagu –yang masih terdengar dari kamar Mess. Ahh, sungguh saya mengantuk. Bukankah, besok akan ada hari yang lebih melelahkan? dan bukankah besok adalah hari terakhir di pulau Berhala ini? ya, semoga besok lebih menyenangkan ~~


**bersambung