Kamis, 29 Januari 2015

Monolog: Sepersekian dalam Aku

02.30.00 1 Comments
Sepersekian hati menyatakan: “Bersabarlah sebentar. Belum waktunya untukmu.” Dan sepersekian hati memaksa: “take you action, yik! You seme a loser.”
~Oh, kau yang bersembunyi di rongga paru-paruku, kenapa kau begitu kejam.

Sepersekian pikiran berseru: “Tak inginkah kau melakukan yang lebih baik dari ini, yik?”
Sepersekian lainnya membentak: “Aku muak denganmu yang lemah dan kerdil ini. Enyahkan lah aku, aku bosan denganmu!”
~Oh, kau yang bersemayam dikepalaku, kenapa kuu lebih kejam adanya.

Sepersekian jiwaku bergetar: “Ada apa denganmu, yik? kau rindu akan gunung-gunung disana, kan? Kau rindu dengan tawa-tawa anak-anak terluar disanakan, kan? Ayah Ibumu pasti bersedih melihatmu begini. Bersegeralah!
Sepersekian lainnya memberontak: “Apa yang akan kita lakukan sekarang, wahai raga? perhatikanlah aku, Let's go, up up!
~Oh, sungguh, sungguh aku tidak tahu.. harus apa. 

Kemudian si raga seolah mempermainkan drama yang melankolis dengan derai-derai isak yang menjadi reaksi yang tak diharapkan.

~Oh, semalang itukah aku?
Wahai sepersekian yang menyebalkan. Mengapa kalian enggan untuk bersahabat?
Sudah kukatakan: Aku tetap menyayangi kalian. Aku tetap membutuhkan kalian, -sepersekian yang menyebalkan. Berkontraksilah semau-maunya. Aku akan bertahan! Aku akan bersabar!


Januari* yang sunyi dari keceriaan yang kuharapkan. Memang tak lain seperti yang sudah kuprediksi sejak Desember.

*Dalam kesendirian yang gelap
29.01.2015

Selasa, 27 Januari 2015

Selasa, 27 Januari: Untuk Ayah.

07.39.00 0 Comments
Aku menuliskan entri spesial berkisahkan tentang Ayah lagi. Kutuliskan dengan carik surat untuk Ayahku (walaupun Ayah tak akan membaca entri ini). Dengan maksud, jika Ayah mengingatinya suatu saat, aku memiliki bukti akan ingatan yang telah menjadi kenangan. Setidaknya bisa jadi surat ini menjadi alasan cendramataku atau apapun sejenisnya, yang bisa kukatakan sebagai kado untuk Ayah.

Untuk Ayah yang berada di kampung,-
Ayah..
Sebelumnya Adek binggung harus memulai dari bentuk kata-kata ang seperti apa. Mungkin permintaan maaf yang harusnya mendominasi isi surat ini. Namun, Ayah kan tahu, maaf versi kita selalu berbeda, dan rasa-rasanya Adek juga sudah beri alasan karena sudah jarang menerima telepon sekedar menjawab kabar. Handphone Adek masih rusak, tidak bisa digunakan untuk mendengar suara apapun. Entah kenapa Adek belum berniat menggantinya. Maaf Ayah.
Ayah.. mau tahu tentang seusutu? Sebenarnya sejak semalam Adek rangkai-rangkai kata yang paling mudah untuk menyapa 27 Januari milik Ayah, seperti “Selamat ulang tahun Pak” atau “Selamat hari berbahagia untuk Bapak, bertambah keberkahan usia, agar tetaplah seperti adanya, sehat-sehat selalu”. Namun, adek ragu mengatakan itu terlalu mudah. Adek takut Ayah berpikir: anakmu menganeh lagi. Lantas Ayah punya alasan untuk bertanya entah apa saja. Walaupun Adek bukannya tak suka jika Ayah menelepon atau bertanya, adek hanya tak suka mengabarkan hal yang nantinya bisa membuat Ayah tidak nyaman. Ayah, adek baik-baik saja.
Ayah.. tadinya agar lebih mudah dan natural, adek buat opsi untuk menelepon..Adek memang rindu cerewetan Ayah di telepon, mengecek kondisi kesehatanku, menanyakan kebersihan halaman rumah kita, menanyakan paganan harianku, memastikan kakiku tidak beranjak dari rumah kecuali dengan izinmu. Dan jika Ayah tidak lupa menanyakan nasib-nasib buku yang kutelantarkan setelah dibeli. Walaupun selanjutnya kita palingan akan menjadi kaku dalam perbincangan selanjutnya. Tapi Ayah. Adek selalu menunggu-jawaban via seluler itu, Yah. “Ayah.. Hari ini kenapa hapenya tidak aktif? Kenapa tidak diangkat?”
Maaf Ayah, adek enggak jadi menelepon, bathinku memutuskan tidak memungkinkan lagi, karena adek tidak suka menelepon ketika bersedih, bahkan sudah sampai level menangis. Adek mungkin berpikir terlalu dangkal, hingga derai-derai dari mata pun mengalir lagi.
Maaf Ayah, karena tidak punya opsi lain untuk kestabilan, adek kirim sms itu aja. Ayah sudah membacanya kan?
Alhamdulillah. Semoga Ayah percaya Adek baik-baik saja.
Harusnya hari ini adek yang memberikan sesuatu untuk Ayah. Karena sekarang jarak yang belum berkecukupan, sesuatu itu insyaAllah akan Adek tangguhkan sampai Ayah berkunjung ke rumah. Namun, Terimakasihku untuk Ayah karena telah lebih dulu memberikan sesuatu yang sebenarnya lebih Ayah butuhkan. Ayah.. Terimakasih atas sesuatu berupa penentram yang kita anggap sebagai hadiah itu. Sungguh, Ayah, terimakasihku lebih berarti karena Ayah selalu menjaga kesehatanmu.
Tahukah Ayah: derai air mata yang tadinya tak kusadari mengalir, kuhapus berhela-hela.
Untuk 27 Januari Ayah tahun ini. InsyaAllah sudah adek persiapkan sesuatu untuk mengganti kecemasanmu. Adek harap dengan senyum yang mengembang dan berceria nantinya Ayah akan bersedia menerimanya Terimakasih Ayahku: Askolan Harahap. S.Ag.. Bertahanlah selalu dengan kesehatan seperti ini, Ayah. Adek ingin terus Ayah menemani kami, membersamai dalam rencana-rencana yang kita inginkan dan doakan bersama. Semoga Allah mengabulkan doa Ayah. Amiin.
Sekali lagi, selamat sehat selalu dan berbahagia untuk Ayah.
Selasa, 27 Januari 2015
Dari Anak Perempuanmu yang merindu,-

Senin, 26 Januari 2015

Pertemuan Rutin FLP-SU Diajak Menulis Novel

00.50.00 3 Comments


Minggu pagi ceria, 25 Januari 2015 pukul 10.00 waktu orang Medan di rumah cahaya, saatnya kru FLPers berkumpul untuk agenda rutin mingguan. Agenda hari itu, mendatangkan seseorang yang mengaku ibu rumah tangga, entah biasa entah luar biasa. Beliau memulai dengan senyum dan tawanya yang renyah, serenyah peyek udang kecepe dengan sedikit sensasi rasa asinnya.
"Aduuh, grogi ah.. Malu saya, gak pede ah jadi pemateri"
Saya pun teringat dengan orang serupa, juga mengatakan hampir seperti itu. Ketika Ramadhan 2014 lalu, di seminar motivasi menulis yang bertema “Saatnya Jadi Penulis” yang diselenggarakan FLP Sumatera Utara di perpustakaan kota Medan. (ceritanya “dahulu kala” Awak belum jadi FLPers angkatan 6) :hoho.
“O, benar, beliau orang yang sama.”
Ternyata lagi lagi beliau menjadi pemateri tentang tips penulisan novel di hari ini. Kenapa beliau lagi? Kalau kata bang Roby: orang yang berhak menyampaikan hikmah (mungkin sebagai pemateri) adalah dia yang sudah mengamalkan ilmunya. Sip-markosip, udah cocoklah itu.
Beliau awalnya mengakunya sebagai ibu rumah tangga dengan dua orang anak, karena nggak ada kerjaan beliau menjajal dunia tulis menulis. Gak kepalang, sudah 9 novel yang lahir dari rahim kreatifitasnya. Diantaranya: Loving Twice (2008), Lilia di Negeri Akraland (2011), Winter Heart (2013), Benci Tapi Cinta (2014), Aku Selalu Ada Untukmu (2014), Keris (2014), Penunggu Gunung Salak (2014), LoveU (2014), Akulah Malaikat hatimu (2014) dan konon akan ada novel berikutnya yang sudah diproses penerbitan, dan ada pula lagi naskah-naskah yang masih “diasongkan” beliau agar menemukan jodoh penerbitan yang pas. Alamakee. Beliau adalah Mbak Ratna DKS.

Awalnya Mbak Ratna “sempat” ogah-ogahan memulai diskusi. Berkisah suhu grogi yang disampaikannya, Mbak Ratna malah berhasil menyampaikan harta karun bertumpuk-tumpuk dari pengalamannya menulis novel. Apa lagi? 9 novel itu menurut saya harta karun yang amazing.
“Gimana sih caranya, kan begitu adanya pertanyaan kita?”
Diskusi pun terjalin dengan tanya jawab dan konsultasi yang dilayani Mbak Ratna dengan santai. (Maklum kali ye? Pengalamannya udah nulis 9 novel loh!)
Mula-mula Mbak Ratna memberikan tips-tips mendasar dalam menulis novel secara tekhnis. Dibantu abangda Roby, slide per slide materi dibacakan dan dijelaskan. Ternyata Mbak Ratna memang lebih nyaman dengan proses tanya jawab, selayaknya ngobrol dengan sesama teman. Tentunya obrolan yang berisi: bagaimana sih caranya mulai menulis novel? Apa sih yang perlu dilakukan? Adakah tips-tips mujarabnya?
Baiklah -ers! Di sini saya rangkumkan apa-apa yang disampaikan Mbak Ratna tentang tips-tips memulai penulisan novel,
1. Pikirkan hal terliar atau pertanyaan yang pernah terbesit di dalam ingatan.
Seperti fenomena apapun yang berkeliaran liar dalam imaji-imaji tak terkendali. (Mbak Ratna memisalkan seekor kucing yang mitosnya memiliki sembilan nyawa)
2. Setelah itu mulailah kembangkan menjadi outline. (-diantara outline tersebut, bisa dipecahkan menjadi bab per bab –misalnya: si kucing berhasil berenikarnasi delapan kali, lalu yang ke sembilan dibuat tiga atau lima bab kisah untuk memperjuangkan nyawa trakhirnya)
3. Rampungkan outline tersebut menjadi rincian narasi atau dialog yang akan mengisi halaman-halaman naskah yan diimpikan.
Mbak Ratna menambahkan: satu-satunya cara untuk menyelesaikan novel adalah berkompromi dengan otak sendiri. Karena banyak penulis yang akan dengan mudah mengalami writing block, moody atau kesibukan yang menuntut. Salah satu tipsnya adalah perlakukan naskah yang sudah ada seperti mengisi teka-teki silang dan menyisipkan jalinan ceritanya sesuai outline.
4. Selanjutnya tinggal mengembangkan naskah, semisal setting, penokohan atau jalinan cerita. Tugas lainya adalah menggali informasi yang dibutuhkan agar bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang menarik. Seperti menghadirkan tokoh yang belum pernah dituliskan, content local atau issue oke.
5. Untuk teknik penulisan, baik EYD, diksi atau karakter tulisan dengan sendirinya akan terbentuk jika sudah rajin dan disiplin menulis. Ya jadi intinya itu.. bisa jadi tumpukan coretan asal-asalan kita, jika diolah dan dikembangkan akan menjadikan lembaran-lembaran novel yang diidamkan.
6. Dan tips terakhirnya adalah menjadi sabar dan gigih mencarikan jodoh untuk naskah novel tersebut. Mencari jodoh untuk penulisnya juga boleh #tsahh. Mbak Ratna berpetuah, fase tersebut seperti penggemblengan yang penuh misteri. Ya, namanya juga perkara jodoh. Kadang susah ditebak maunya apa. #eh

Suasana pun semakin meriah dengan pertanyaan dari kru FLPers yang hadir. Hal tersebut juga menjadi pemicu semangat Mbak Ratna untuk berbagi pengalamannya. Mulai dari penggalian ide tentang imajinasi-iamajinasi liar, fantasi, kreatifitas unik dan juga permasalahan penerbitan dan macam-macam penerbitan, SPP, kontrak penerbitan dan serta pengalaman Mbak Ratna “mengasongkan” naskah novelnya.
Diskusi pun dilanjutkan dengan simulasi langsung penulisan outline dan sinopsis novel oleh masing-masing kru FLPers. Sesambil waktu obrol-obrol, satu dua kru membagi ide-ide segar dalam khayali sinopsis bakal novel impiannya. Dan semuanya dibahas Mbak Ratna dengan detail, mulai dari ide cerita, tips pengembangan outlinenya, sampai sasaran penerbitan yang memungkinkan menjadi jodoh bakal novel yang dimaksudkan.
Sungguh pertemuann yang asyik. Dua setengah jam rasanya tak terasa hingga azan dzuhur berkumadang. Dikusi pun ditutup dan diselesaikan dengan seksama. Dilanjutkan dengan penyerahan cendramata untuk Mbak Ratna diwakilkan Kak Fitri dan foto bersama seluruh kru FLPers yang berhadir.
Diakhir kata sebelum Mbak Ratna pamit pulang dia berpesan, "Tetap rajin nulis, ya". Sayang saya eggak sempat bersalaman, padahal dalam hati sudah membathin: semoga resep meracik novel ala Mbak Ratna bisa ketularan untukku. Untuk kita semua.
(Yik)

Kamis, 22 Januari 2015

Semangat Untukmu, Kawan!

09.24.00 0 Comments


Kawan, dengarlah kataku: Bahwa aku pun seperti adanya dirimu. Aku pun hanya seonggok daging yang bernafas dan bernyawa. Bersyukur nafasku tak pernah alpa untuk bertasbih, mentauhidkan Allah, Sang Pemberi Hidayah. Bersyukur nyawaku tak pernah alpa untuk beribadah hanya untukNya.

Aku pun seperti adanya dirimu. Aku masih terseok dalam kubangan pemikiran-pemikiran yang sempat menenggelamkanku. Tentang impian-impian yang menjadikanku yang bahkan sempat membuatku frustasi untuk tidak mau keluar dari rumahku yang nyaman. Nyaman? Bukan. Bukan yang seperti itu pengertiannya.

Aku pun seperti adanya dirimu. Aku bahkan lebih sering merasa kesal dengan diriku. Aku pun muak dengan diriku yang terlalu pengecut. Sedangkan, desakan-desakan isi kepalaku merongrong aku menentukan pilihan. Tapi, aku sering diam bergeming. Seperti orang yang kehilangan separuh jiwanya. Meski memang benar, bahkan separuh jiwa yang lain saja belum pernahku temukan, apalagi memilikinya.

Aku pun seperti adanya dirimu. Tidak ada apa-apanya. Bukankah kita lahirnya tidak membawa apa-apa dan begitu juga matinya. Hanya satu yang kutahu pasti: terlahir berarti hidup untuk berjuang, sedang mati berarti hidup untuk pertanggungjawaban –kepada Ilahi, Sang Khalik.
Seringku sadarkan diriku yang teramat sombong untuk melunak, atau diriku yang teramat rendah hati untuk melawan. Bahwa: Kerja keras dengan usaha akan menghasilkan keberhasilan. Kerja lembut dengan hati akan menghasilkan kemenangan. Bukankah, keberhasilan dan kemenangan dua hal yang berbeda?

Sesuatu yang berbeda selalu disatukan dengan penyesuaian yang saling berhubungan. Bagai laki-laki dan perempuan. Ying dan Yang. Zenit dan Nadir. Semua perbedaan memiliki porsinya sendiri. Pun demikian dengan persamaannya.

Adalah tentang impian kita, usaha kita , jiwa dan raga kita yang mampu mewujudkan selarasnya keberhasilan yang akan kita menangkan. Ya, kita yang merindukan impian.
Tujuan yang kita pilih akan untuk menjadi jalan hidup kita masing-masing. Tujan yang kita polih akan menentukan diri kita seadanya –itu pun jika kita benar-benar merasa ada-.

Seperti kehidupan yang kamu pilih untuk hidupmu. Bukankah tidak ada cara instan untuk mencapai tujuan? Jika ada pasti berbeda sekali rasanya. Bisa saja kita berhasil atau bisa saja kita menang. Namun apa kita bisa benar-benar yakin bahwa kita sudah berhasil dan menang?
Percayalah padaku, Kawan. Nikmati prosesmu. InsayAllah kita akan menghebat dengan pilihan kita.

Yooosh! Semangat untukmu, Kawan.
Kita para pemimpi dengan usaha sebagai adalah tenaga. 
Kita para pemimpi dengan tekad sebagai bahan bakarmu.
Kita para pemimpi: suatu hari, di hari itu akan bersama mimpi-mimpi kita.

Rabu, 21 Januari 2015

Petugas Parkir dan Penjual Makanan

21.50.00 0 Comments

Settingnya di daerah Jati Negara Binjai: tentang Aku dan Petugas Parkir dan penjual Makanan. 

Kejadiannya menjadikan hatiku ngilu. Bukan karena dinginnya es atau bukan karena hujan yang berturut andil mendinginkanku. Bukan begitu.

Malam itu, sekitar jam 19.30. Aku bergegas kebut gas sepeda moyor menuju simpang Jati Negara, dekat toko kaca Tip Top Binjai. Mendarat di satu warung penjual nasi dan mie goreng. Kupikir, aku sudah cukup dikenal penjualnya, karena sudah menjadi pelanggannya yang setia dan penyabar.

Warung itu cukup tenar kupikir, harganya murah, hanya Rp.7000 sudah komplit dengan telur dadar, acar, oseng sartika dan ikan asin. Pokoknya oke untukku. Hanya buka di malam hari sekitar jam 18.00 sampai si penjual capek, begitu dia pernah curhat.

Dihari itu aku memang sudah berangan makan nasi goreng. Sengaja kutahan lapar sedari sore hari (karena memang jam makan malamku di sore hari). Perutku udah keroncongan aja. Pun memang sedari siang aku lupa beli lauk.

Apalah kalau seharian belum makan nasi memang rasanya gak cocok untukku (ceritanya anak kos dirumah sendiri :p).

Begitu sampai di tekape ternyata stok nasi gorengnya belum ada. Kupaksalah bersabar nunggukan nasinya masak dan di goreng lagi. 15 menit, 25 menit kuperhatikan penjualnya. Sekilas gemulai tangannya mengaduk-aduk sutil di wajan sangat memesona. Harapan terbesarku, jangan sampai keringatnya singgah di wajan itu.

30 menit kemudian muncul seorang laki-laki kurus berbaju orange dan temannya yang bertubuh gempal berbaju liris hijau abu-abu. Mereka berisyarat. Sinyal dalam kepalaku mengartikan mereka sedang berkomunikasi. Iya, tuna wicara. Lantas aku tersadar dengan baju si lelaki kurus yang berwarna orange itu bertuliskan petugas parkir.

“Alamak, ada tukang parkir disini. SEJAK KAPAN??”

Kenyataan pelik yang kuhadapi dan sadari adalah jumlah uang di saku jeketku hanya ada Rp 7000 dan itu sudah pasti hanya cukup untuk membayar sebungkus nasi goreng yang sudah menggiurkan. 

"Terus, gimana untuk si tukang parkir itu?" pikirku dalam hati.

Aslinya aku panik, benar-benar panik. Masih dalam hati aku mengutuk kebodohan sendiri, "kenapalah aku bawa uang pas-pasan. HP tak dibawa. Cemana nasib tukang parkir itu, cemana nanti kalau sepeda motor mogok, cemana nanti kalau di tengah jalan aku lihat penjual kacang rebus, apa gak kepingin itu juga"

*Oh..noooo dasarnya!*

Aku celingak-celinguk, gelisah memantau orang-orang yang berlalu lalang, belum ada yang berinteraksi dengan si petugas parkir. Dan karna sudah semakin gelisah, gak tahan dan akhirnya aku move up, berpaling dari penantian 40 menit nasi goreng yang belum didapatkan.

Kuberikan selembar uang kepada laki-laki kurus berbaju orange itu, dia mengisyaratkan sesuatu yang tidak kumengerti. Kuucap saja "Terima kasih” dan dia membantu agar sepeda motorku menyeberang dengan mudah.

Gelisahku belum selesai. Saat aku ingin putar haluan jalan, yang biasa aku lakukan ketika menyebrang di simpang itu. Harus. Harus terpaksa kuurungkan lagi. Aku tidak jadi menyeberang. Saat itu jalanan terlalu ramai, seramai penyesalan dalam kepalaku.

*tarik nafas*

Terpaksa aku mengeliling Binjai Kota satu putaran. Ditemani sesal hati dan perut yang menjerit jerit kelaparan. Di sepanjang jalan aku gak menemukan penjual kacang rebus. Malangnya perutku sudah demo dengan anarkisnya.

Sekitar 20 menit berlalu, aku sudah sampai rumah lagi. Sesungguhnya aku masih mengidamkan liur nasi goreng yang menggoda, tapi harus diurungkan dan gagal kunikmati karena salahku menghalangi rejeki tukang parkir.

*tarik nafas lagi*

Apalagi?

Aku langsung tancap gas lagi, singgah di rumah makan Salero Minang yang udah menjadi langgananku juga.

“Loh beli nasi bungkus, dek?” begitu sambutannya untukku. Eh, si abang penjual yang memang udah kenal ini pakai acara sesi pertanyaan basi, ya. 

Bathinku keram. Semoga nasinya juga gak basi. Masih suara bathinku yang berseru.

"Apa kita buat?"
"Gak mau yang biasa ya bang, ayam sambel jangan banyak cabenya tapi berkuah aja, potongan sayap ayam yang kanan, ya."

Harusnya si penjual udah hapal pesananku. Harusnya dengan gemulai tangannya, dia membungkus pesananku dengan segera saja. Aku sudah lapar, etapi dia masih melanjutkan sesi pertanyaannya.

"Belum makan dek? Jam segini kok baru beli nasi. Biasanyakan beli nasi bungkus kalau siang atau sore-sore aja?

"Yaudahlah, besok-besok kalau malam awak gak mau beli disini Bang." Si penjual ketawa, ngelanjut "Ngeri kali ya, kelaparan kali rupanya ya, dek." Si penjual terlihat menikmati hiburannya.

Rasanya aku mau nyerahlah. Pengen bilang sama si penjual: Udahla bang, gosah tanya-tanya lagi, atau awak gak jadi beli, aja (lagi). Kuserahkan Rp 10.000.

Eh Si penjual nyeletuk, "besok datang jam berapa dek? mau pesan apa?

"Pesan kepala orang boleh, Bang?"

Si penjual semakin girang, menyerahkan Rp 3000 sebagai kembalianku. Kuucap terima kasih, langsung keluar dan terus ngebut dengan sepeda motor.

Duhai demo di perutku yang sudah semakin anarkis, tak terkatakan lagi.
Setelah selesai makan, curhatku ini langsung tersimpan di rumah srikayaku. 

Sampai aku pun tergelak, kelucuan sendiri.

Pesan Moralku hari ini adalah Sisihkan uangmu untuk petugas parkir. Begitu memang pekerjaannya.
Dan, Bawalah uang lebih jika membeli makanan. Kita tidak akan tahu apa pun yang akan terjadi (termasuk penjual makanan yang menyebalkan :P)

21012015, pukul 22.30
Di rumah yang sunyi